EPISTEMOLOGI

News

Teori?teori Kebenaran Dalam Ilmu Pengetahuan

Posted by Filsafat Pengetahuan on October 19, 2010 at 6:51 PM

Teori–teori Kebenaran Dalam Ilmu Pengetahuan


Oleh : IntanIrawati | 02-Jul-2008, 10:16:19 WIB

KabarIndonesia-

PENDAHULUAN

Manusia selaluberusaha menemukan kebenaran. Beberapa cara ditempuh untuk memperolehkebenaran, antara lain dengan menggunakan rasio seperti para rasionalis danmelalui pengalaman atau empiris. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusiamembuahkan prinsip-prinsip yang lewat penalaran rasional, kejadian-kejadianyang berlaku di alam itu dapat dimengerti.

Ilmu pengetahuanharus dibedakan dari fenomena alam. Fenomena alam adalah fakta, kenyataan yangtunduk pada hukum-hukum yang menyebabkan fenomena itu muncul. Ilmu pengetahuanadalah formulasi hasil aproksimasi atas fenomena alam atau simplifikasi atasfenomena tersebut.

Strukturpengetahuan manusia menunjukkan tingkatan-tingkatan dalam hal menangkapkebenaran. Setiap tingkat pengetahuan dalam struktur tersebut menunjukkantingkat kebenaran yang berbeda. Pengetahuan inderawi merupakan strukturterendah dalam struktur tersebut. Tingkat pengetahuan yang lebih tinggi adalahpengetahuan rasional dan intuitif. Tingkat yang lebih rendah menangkapkebenaran secara tidak lengkap, tidak terstruktur, dan pada umumnya kabur, khususnyapada pengetahuan inderawi dan naluri. Oleh sebab itulah pengetahuan ini harusdilengkapi dengan pengetahuan yang lebih tinggi.

Pada tingkatpengetahuan rasional-ilmiah, manusia melakukan penataan pengetahuannya agarterstruktur dengan jelas.

Ilmu dicirikandengan pemakaian sistem dan metode ilmiah yang dapat diberikan dalam berbagaibentuk. Metode ilmu dapat bersifat sangat teoritis dan apriori dengan membuatunsur-unsur bangunannya sendiri. Metode ilmu juga dapat bersifat empiris denganunsur-unsur bangunan yang seakan-akan diolah dari lingkungan.

Metode ilmiahyang dipakai dalam suatu ilmu tergantung dari objek ilmu yang bersangkutan.Macam-macam objek ilmu antara lain fisiko-kimia, mahluk hidup, psikis, sosiopolitis, humanistis dan religius.

Filsafat ilmumemiliki tiga cabang kajian yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi.

Ontologimembahas tentang apa itu realitas. Dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan,filsafat ini membahas tentang apa yang bisa dikategorikan sebagai objek ilmupengetahuan. Dalam ilmu pengetahuan modern, realitas hanya dibatasi padahal-hal yang bersifat materi dan kuantitatif. Ini tidak terlepas dari pandanganyang materialistik-sekularistik. Kuantifikasi objek ilmu pengetahuan beraribahwa aspek-aspek alam yang bersifat kualitatif menjadi diabaikan.

Epistemologismembahas masalah metodologi ilmu pengetahuan. Dalam ilmu pengetahuan modern,jalan bagi diperolehnya ilmu pengetahuan adalah metode ilmiah dengan pilarutamanya rasionalisme dan empirisme.

Aksiologimenyangkut tujuan diciptakannya ilmu pengetahuan, mempertimbangkan aspekpragmatis-materialistis.

Dari semuapengetahuan, maka ilmu merupakan pengetahuan yang aspek ontologi, epistemologi,dan aksiologinya telah jauh lebih berkembang dibandingkan dengan pengetahuan-pengetahuanlain, dilaksanakan secara konsekuen dan penuh disiplin (Jujun S.Suriasumantri,1998). Kerangka filsafat di atas akan memudahkan pemahaman mengenai keterkaitanberbagai ilmu dalam mencari kebenaran.

1. TEORIKEBENARAN KORESPONDENSI

Teori kebenarankorespondensi adalah teori yang berpandangan bahwa pernyataan-pernyataan adalahbenar jika berkorespondensi terhadap fakta atau pernyataan yang ada di alamatau objek yang dituju pernyataan tersebut. Kebenaran atau suatu keadaandikatakan benar jika ada kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatupendapat dengan fakta. Suatu proposisi adalah benar apabila terdapat suatufakta yang sesuai dan menyatakan apa adanya. Teori ini sering diasosiasikandengan teori-teori empiris pengetahuan.

Gejala-gejalaalamiah, menurut kaum empiris, adalah bersifat kongkret dan dapat dinyatakanlewat panca indera manusia. Gejala itu bila ditelaah mempunyai beberapakarakteristik tertentu. Logam bila dipanaskan akan memuai. Air akan mengalir ketempat yang rendah. Pengetahuan inderawi bersifat parsial. Hal ini disebabkanadanya perbedaan antara indera yang satu dengan yang lain dan berbedanya objekyang dapat ditangkap indera. Perbedaan sensivitas tiap indera dan organ-organtertentu menyebabkan kelemahan ilmu empiris.

Ilmu pengetahuanempiris hanyalah merupakan salah satu upaya manusia dalam menemukan kebenaranyang hakiki dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Penyusunan pengetahuansecara empiris cenderung menjadi suatu kumpulan fakta yang belum tentu bersifatkonsisten, dan mungkin saja bersifat kontradiktif. Adanya kecenderungan untukmengistimewakan ilmu eksakta sebagai ilmu empiris untuk mengatasi berbagaimasalah yang dihadapi manusia tidak selalu tepat. Pengistimewaan pengetahuanempiris secara kultural membuat manusia modern seperti pabrik. Semua cabangkebudayaan yang terbentuk menjadi produksi yang bersifat massal.

Keberhasilanilmu eksakta yang berdasarkan empirisme dalam mengembangkan teknologi -ketikaberhadapan dengan ”kegagalan ” ilmu-ilmu human dalam menjawab masalah manusia-membawa dampak buruk terhadap kedudukan dan pengembangan ilmu-ilmu human.Analisis filsafat tentang kenyataan ini harus ditempatkan secara proporsional,karena merupakan suatu usaha ilmiah untuk membantu manusia mengungkap misterikehidupannya secara utuh.

2. TEORIKEBENARAN KOHERENSI ATAU KONSISTENSI

Teori kebenarankoherensi adalah teori kebenaran yang didasarkan kepada kriteria koheren ataukonsistensi. Suatu pernyataan disebut benar bila sesuai dengan jaringankomprehensif dari pernyataan-pernyataan yang berhubungan secara logis.Pernyataan-pernyataan ini mengikuti atau membawa kepada pernyataan yang lain.Seperti sebuah percepatan terdiri dari konsep-konsep yang saling berhubungandari massa, gaya dan kecepatan dalam fisika.

Kebenaran tidakhanya terbentuk oleh hubungan antara fakta atau realitas saja, tetapi jugahubungan antara pernyataan-pernyataan itu sendiri. Dengan kata lain, suatupernyataan adalah benar apabila konsisten dengan pernyataan-pernyataan yangterlebih dahulu kita terima dan kita ketahui kebenarannya.

Salah satu dasarteori ini adalah hubungan logis dari suatu proposisi dengan proposisisebelumnya. Proposisi atau pernyataan adalah apa yang dinyatakan, diungkapkandan dikemukakan atau menunjuk pada rumusan verbal berupa rangkaian kata-katayang digunakan untuk mengemukakan apa yang hendak dikemukakan. Proposisimenunjukkan pendirian atau pendapat tentang hubungan antara dua hal danmerupakan gabungan antara faktor kuantitas dan kualitas. Contohnya tentanghakikat manusia, baru dikatakan utuh jika dilihat hubungan antara kepribadian,sifat, karakter, pemahaman dan pengaruh lingkungan. Psikologi strukturalismeberusaha mencari strukturasi sifat-sifat manusia dan hubungan-hubungan yangtersembunyi dalam kepribadiannya.

Pengetahuanrasional yang berdasarkan logika tidak hanya terbatas pada kepekaan inderatertentu dan tidak hanya tertuju pada objek-objek tertentu. Gagasanrasionalistis dan positivistis cenderung untuk menyisihkan seluruh pemahamanyang didapat secara refleksi. Pemikiran rasional cenderung bersifat solifistikdan subyektif. Adanya keterkaitan antara materi dengan non materi, dunia fisikdan non fisik ditolak secara logika. Apabila kerangka ini digunakan secara luasdan tak terbatas, maka manusia akan kehilangan cita rasa batiniahnya yangberfungsi pokok untuk menumbuhkan apa yang didambakan seluruh umat manusiayaitu kebahagiaan.

 

3. TEORIKEBENARAN PRAGMATIS

Teori kebenaranpragmatis adalah teori yang berpandangan bahwa arti dari ide dibatasi olehreferensi pada konsekuensi ilmiah, personal atau sosial. Benar tidaknya suatudalil atau teori tergantung kepada berfaedah tidaknya dalil atau teori tersebutbagi manusia untuk kehidupannya. Kebenaran suatu pernyataan harus bersifatfungsional dalam kehidupan praktis.

Menurut teoriini proposisi dikatakan benar sepanjang proposisi itu berlaku atau memuaskan.Apa yang diartikan dengan benar adalah yang berguna (useful) dan yang diartikansalah adalah yang tidak berguna (useless). Bagi para pragmatis, batu ujiankebenaran adalah kegunaan (utility), dapat dikerjakan (workability) dan akibatatau pengaruhnya yang memuaskan (satisfactory consequences). Teori ini tidakmengakui adanya kebenaran yang tetap atau mutlak.

Francis Baconpernah menyatakan bahwa ilmu pengetahuan harus mencari keuntungan-keuntunganuntuk memperkuat kemampuan manusia di bumi. Ilmu pengetahuan manusia hanyaberarti jika nampak dalam kekuasaan manusia. Dengan kata lain ilmu pengetahuanmanusia adalah kekuasaan manusia. Hal ini membawa jiwa bersifat eksploitatifterhadap alam karena tujuan ilmu adalah mencari manfaat sebesar mungkin bagimanusia.

Manusia dengansegala segi dan kerumitan hidupnya merupakan titik temu berbagai disiplin ilmu.Hidup manusia seutuhnya merupakan objek paling kaya dan paling padat. Ilmupengetahuan seyogyanya bisa melayani keperluan dan keselamatan manusia.Pertanyaan-pertanyaan manusia mengenai dirinya sendiri, tujuan-tujuannya dancara-cara pengembangannya ternyata belum dapat dijawab oleh ilmu pengetahuanyang materialis-pragmatis tanpa referensi kepada nilai-nilai moralitas.

Aksiologi ilmupengetahuan modern yang dibingkai semangat pragmatis-materialis ini telahmenyebabkan berbagai krisis lingkungan hidup, mulai dari efek rumah kaca akibatakumulasi berlebihan CO2, pecahnya lapisan ozon akibat penggunaan freonberlebihan, penyakit minimata akibat limbah methylmercury hingga bahaya nuklirakibat persaingan kekuasaan antar negara. Ketiadaan nilai dalam ilmupengetahuan modern yang menjadikan sains untuk sains, bahkan sains adalah segalanya,telah mengakibatkan krisis kemanusiaan. Krisis lingkungan dan kemanusiaan,mulai dari genetic engineering hingga foules solitaire (kesepian dalamkeramaian, penderitaan dalam kemelimpahan). Manusia telah tercerabut dariaspek-aspek utuhnya, cinta, kehangatan, kekerabatan, dan ketenangan. Keduakrisis global ini telah menghantui sebagian besar lingkungan dan masyarakatmodern yang materialis-pragmatis.

4. TEORIKEBENARAN PERFORMATIF

Teori inimenyatakan bahwa kebenaran diputuskan atau dikemukakan oleh pemegang otoritastertentu. Contoh pertama mengenai penetapan 1 Syawal. Sebagian muslim diIndonesia mengikuti fatwa atau keputusan MUI atau pemerintah, sedangkansebagian yang lain mengikuti fatwa ulama tertentu atau organisasi tertentu.Contoh kedua adalah pada masa rezim orde lama berkuasa, PKI mendapat tempat dannama yang baik di masyarakat. Ketika rezim orde baru, PKI adalah partaiterlarang dan semua hal yang berhubungan atau memiliki atribut PKI tidak berhakhidup di Indonesia. Contoh lainnya pada masa pertumbuhan ilmu, Copernicus(1473-1543) mengajukan teori heliosentris dan bukan sebaliknya seperti yangdifatwakan gereja. Masyarakat menganggap hal yang benar adalah apa-apa yangdiputuskan oleh gereja walaupun bertentangan dengan bukti-bukti empiris.

Dalam fasehidupnya, manusia kadang kala harus mengikuti kebenaran performatif. Pemegangotoritas yang menjadi rujukan bisa pemerintah, pemimpin agama, pemimpin adat,pemimpin masyarakat, dan sebagainya. Kebenaran performatif dapat membawa kepadakehidupan sosial yang rukun, kehidupan beragama yang tertib, adat yang stabildan sebagainya.

Masyarakat yangmengikuti kebenaran performatif tidak terbiasa berpikir kritis dan rasional.Mereka kurang inisiatif dan inovatif, karena terbiasa mengikuti kebenaran daripemegang otoritas. Pada beberapa daerah yang masyarakatnya masih sangat patuhpada adat, kebenaran ini seakan-akan kebenaran mutlak. Mereka tidak beranimelanggar keputusan pemimpin adat dan tidak terbiasa menggunakan rasio untukmencari kebenaran.

5. TEORIKEBENARAN KONSENSUS

Suatu teoridinyatakan benar jika teori itu berdasarkan pada paradigma atau perspektiftertentu dan ada komunitas ilmuwan yang mengakui atau mendukung paradigmatersebut.

Banyak sejarawandan filosof sains masa kini menekankan bahwa serangkaian fenomena atau realitasyang dipilih untuk dipelajari oleh kelompok ilmiah tertentu ditentukan olehpandangan tertentu tentang realitas yang telah diterima secara apriori olehkelompok tersebut. Pandangan apriori ini disebut paradigma oeh Kuhn dan worldview oleh Sardar. Paradigma ialah apa yang dimiliki bersama olehanggota-anggota suatu masyarakat sains atau dengan kata lain masyarakat sainsadalah orang-orang yang memiliki suatu paradigma bersama.

Masyarakat sainsbisa mencapai konsensus yang kokoh karena adanya paradigma. Sebagai konstelasikomitmen kelompok, paradigma merupakan nilai-nilai bersama yang bisa menjadideterminan penting dari perilaku kelompok meskipun tidak semua anggota kelompokmenerapkannya dengan cara yang sama. Paradigma juga menunjukkan keanekaragamanindividual dalam penerapan nilai-nilai bersama yang bisa melayani fungsi-fungsiesensial ilmu pengetahuan. Paradigma berfungsi sebagai keputusan yuridiktifyang diterima dalam hukum tak tertulis.

Pengujian suatuparadigma terjadi setelah adanya kegagalan berlarut-larut dalam memecahkanmasalah yang menimbulkan krisis. Pengujian ini adalah bagian dari kompetisi diantara dua paradigma yang bersaingan dalam memperebutkan kesetiaan masyarakatsains. Falsifikasi terhadap suatu paradigma akan menyebabkan suatu teori yangtelah mapan ditolak karena hasilnya negatif. Teori baru yang memenangkankompetisi akan mengalami verifikasi . Proses verifikasi-falsifikasi memilikikebaikan yang sangat mirip dengan kebenaran dan memungkinkan adanya penjelasantentang kesesuaian atau ketidaksesuaian antara fakta dan teori.

Pengalihkesetiaandari paradigma lama ke paradigma baru adalah pengalaman konversi yang tidakdapat dipaksakan. Adanya perdebatan antar paradigma bukan mengenai kemampuan relatifsuatu paradigma dalam memecahkan masalah, tetapi paradigma mana yang pada masamendatang dapat menjadi pedoman riset untuk memecahkan berbagai masalah secaratuntas. Adanya jaringan yang kuat dari para ilmuwan sebagai penelitikonseptual, teori, instrumen, dan metodologi merupakan sumber utama yangmenghubungkan ilmu pengetahuan dengan pemecahan berbagai masalah.

Dalam ilmuastronomi, keunggulan kuantitatif tabel-tabel Rudolphine dan Kepplerdibandingkan yang hitungan manual Ptolomeus merupakan faktor utama dalamkonversi para astronom kepada Copernicanisme. Dalam fisika modern, teorirelativitas umum Einsten mendapat ejekan karena ruang itu tidak mungkinmelengkung. Untuk membuat transisi kepada alam semesta Einstein, seluruh konsepruang, waktu, materi, gaya, dan sebagainya harus diubah dan di reposisi ulang.Hanya orang-orang yang bersama-sama menjalani atau gagal menjalani transformasiakan bisa menemukan dengan tepat apa yang mereka sepakati dan apa yang tidak.

KESIMPULAN

Uraian danulasan mengenai berbagai teori kebenaran di atas telah menunjukkan kelebihandan kekurangan dari berbagai teori kebenaran.

Teori KebenaranKelebihan Kekurangan Korespondensi sesuai dengan fakta dan empiris kumpulanfakta-fakta Koherensi bersifat rasional dan Positivistik Mengabaikan hal-halnon fisik Pragmatis fungsional-praktis tidak ada kebenaran mutlak PerformatifBila pemegang otoritas benar, pengikutnya selamat Tidak kreatif, inovatif dankurang inisiatif Konsensus Didukung teori yang kuat dan masyarakat ilmiah Perluwaktu lama untuk menemukan kebenaran.

Teori kebenaranyang menurut penulis paling sesuai pada masa kini adalah Teori KebenaranKonsensus. Dengan kekuatan paradigma dan masyarakat sains pendukungnya,diharapkan kebenaran konsensus dapat menjawab berbagai problema kehidupanmanusia di masa depan. Krisis global berupa krisis lingkungan dan krisiskemanusiaan yang selama ini telah dialami oleh manusia karena Sains Modern,cepat atau lambat akan dijawab oleh konsensus baru dengan paradigma yangmenghasilkan metode yang lebih tepat dalam mengantisipasi krisis globaltersebut.

Teori kebenaranyang paling lemah argumennya, adalah kebenaran performatif. Kebenaran yang kuatadalah yang didasari oleh rasio, logika dan fakta empiris serta fungsional bagiumat manusia. Kebenaran yang didukung luas oleh masyarakat ilmiah, dan menjadirujukan kebenaran tidak hanya dalam sains tetapi juga masalah budaya dan sosiallebih baik dan kuat lagi.

Kelima macamteori kebenaran di atas adalah berbagai cara manusia memperoleh kebenaran yangsifatnya relatif atau nisbi. Kebenaran absolut atau kebenaran mutlak berasaldari Tuhan yang disampaikan kepada manusia melalui wahyu. Alam dan kehidupanmerupakan sumber kebenaran yang tersirat dari tuhan untuk dipelajari dandiobservasi guna kebaikan umat manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Bakker, Antondan Achmad Chairis Zubair. (1994). Pustaka Filsafat : Metodologi PenelitianFilsafat. Jakarta: Kanisius.

Iman, M.Shohibul. Mencari Jalan Menuju Islamisasi IPTEK, dalam Seminar IslamisasiIPTEK. Bogor: 13 Juli 1996.

Kuhn, ThomasS.(1993). Peran Paradigma dalam Revolusi Sains. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Suriasumantri,Jujun S. (1998). Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Cetakan ke-11.Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Woodhose, MarkB. (1983). A Preface to Philosopy. 3rd ed. Wadsworth Publishing Company.

Sekali LagiTentang Kebenaran

Benar adalahkata-kata yang paling akrab di hampir teligan anak manusia. Sejak kecil kitasering diperhadapkan dengan deretan pertanyaan atau soal yang menghendakijawaban yang selalu benar. Tingginya kuantitas kesalahan dalam satu materiujian membuktikan satu penilaian bahwa anak ini belum bisa menjawab soal denganbenar. Ini berarti intensitas belajarnya perlu ditingkatkan lagi.

Benarsebagaimana diungkapkan di atas adalah benar yang setiap orang pasti sepakatdan menerimanya dengan cepat. Dalam kehidupan sehari-hari orang yang seringberkata tidak benar mendapat julukan sebagai pembohong. Di sini nampak begitubesar implikasi pemahaman tentang benar itu sendiri. Semakin jauh pemahamanseseorang tentang benar maka semakin dia tidak akan mendapat kepercayaan dariorang lain.

Lalu apa yangdipermasalahkan dengan makna benar itu sendiri? Jika berputar pada bahasanangka tentu bukanlah satu hal yang sulit untuk memahami makna benar. Masalahnyadunia ini tidak seluruhnya berkisar pada angka-angka dan fakta-fakta saja. Adarealitas fisik dan non fisik. Dalam bahasa Islam ada alam syahadah dan ada alamal-Ghaib. Dari sinilah kemudian makna benar perlu verifikasi yang lebih akurat.

Teori Kebenaran

A. TeoriKebenaran Korespondensi

Menurut teoriini, “suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandungpernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju olehpernyataan tersebut” (Jujun, 1984: 57). Misalkan pernyataan “rumput ituberwarna hijau”, “SBY adalah presiden RI”, dll.

B. TeoriKebenaran Pragmatis

Menurut teoripragmatis, “kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataantersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Artinya, suatu pernyataanadalah benar, jika pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itumempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan manusia” (Jujun, 1984: 58-9).Misalkan pernyataan “Kartu Selular XL kini terdapat dimana-mana. karena biayanelpon dan sms kartu tersebut sangat murah dari pada jenis kartu selularlainnya.”

C. TeoriKebenaran Koherensi

Menurut teoriini, “suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren ataukonsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar” (Jujun, 1984: 55).Termasuk ke dalam teori ini adalah kebenaran matematika (mathematical truth)dan logika deduktif (Scruton, 1996: 239)

Itulah teorikebenaran yang banyak dipelajari oleh para penuntut ilmu, khususnya jurusanfilsafat dan mahasiswa IAIN, STAIN atau UIN. Namun perlu digarisbawahi bahwadunia ini bukanlah sebatas pada apa yang nampak saja. Dengan demikian ketigateori di atas hanya bisa berlaku pada apa yang nampak saja. Selebihnya danterkait dengan urusan hati dan kejiwaan ketiga teori tersebut tidak akan pernahmampu memberikan jawaban yang jelas dan pasti. Maka dari itu pemahaman kembaliterhadap esensi ajaran Islam menjadi satu hal yang niscaya agar kebenaranadalah kebenaran yang bersumber dari konsep yang paripurna.

 


Categories: KEBENARAN

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments