EPISTEMOLOGI

News

FILSAFAT ILMU

Posted by Filsafat Pengetahuan on October 30, 2010 at 10:48 AM

 

FILSAFAT ILMU


 

1.1. Filsafat

 

Filsafat dalam bahasa Inggris, yaitu philosophy, adapun istilah

filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia, yang terdiri atas dua

kata: philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan shopia

(hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis,

inteligensi). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau

kebenaran. Plato menyebut Socrates sebagai philosophos (filosof) dalam

pengertian pencinta kebijaksanaan. Kata falsafah merupakan arabisasi

yang berarti pencarian yang dilakukan oleh para filosof. Dalam Kamus

Besar Bahasa Indonesia, kata filsafat menunjukkan pengertian yang

dimaksud, yaitu pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi

mengenai hakikat segala yang ada, sebab asal dan hukumnya. Manusia

filosofis adalah manusia yang memiliki kesadaran diri dan akal sebagaimana ia

juga memiliki jiwa yang independen dan bersifat spiritual.

 

Sebelum Socrates ada satu kelompok yang menyebut diri mereka

sophist (kaum sofis) yang berarti cendekiawan. Mereka menjadikan

persepsi manusia sebagai ukuran realitas dan menggunakan hujah-hujah

yang keliru dalam kesimpulan mereka. Sehingga kata sofis mengalami

reduksi makna yaitu berpikir yang menyesatkan. Socrates karena

kerendahan hati dan menghindarkan diri dari pengidentifikasian dengan

kaum sofis, melarang dirinya disebut dengan seorang sofis

(cendekiawan). Oleh karena itu istilah filosof tidak pakai orang sebelum

Socrates (Muthahhari, 2002).

 

Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang

dimiliki manusia. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni,

filsafat teoretis dan filsafat praktis. Filsafat teoretis mencakup: (1) ilmu

pengetahuan alam, seperti: fisika, biologi, ilmu pertambangan, dan

astronomi; (2) ilmu eksakta dan matematika; (3) ilmu tentang ketuhanan

dan metafisika. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak); (2)

urusan rumah tangga; (3) sosial dan politik.

 

Secara umum filsafat berarti upaya manusia untuk memahami

segala sesuatu secara sistematis, radikal, dan kritis. Berarti filsafat

merupakan sebuah proses bukan sebuah produk. Maka proses yang

dilakukan adalah berpikir kritis yaitu usaha secara aktif, sistematis, dan

mengikuti pronsip-prinsip logika untuk mengerti dan mengevaluasi suatu

informasi dengan tujuan menentukan apakah informasi itu diterima atau

ditolak. Dengan demikian filsafat akan terus berubah hingga satu titik

tertentu (Takwin, 2001).

 

Defenisi kata filsafat bisa dikatakan merupakan sebuah masalah

falsafi pula. Menurut para ahli logika ketika seseorang menanyakan

pengertian (defenisi/hakikat) sesuatu, sesungguhnya ia sedang bertanya

tentang macam-macam perkara. Tetapi paling tidak bisa dikatakan bahwa

“falsafah” itu kira-kira merupakan studi yang didalami tidak dengan

melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi

dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk ini,

memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu dan

akhirnya dari proses-proses sebelumnya ini dimasukkan ke dalam sebuah

dialektika. Dialektika ini secara singkat bisa dikatakan merupakan sebuah

bentuk daripada dialog.

 

Adapun beberapa pengertian pokok tentang filsafat menurut

kalangan filosof adalah:

1. Upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik

serta lengkap tentang seluruh realitas.

2. Upaya untuk melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar secara

nyata.

3. Upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan

sumber daya, hakikatnya, keabsahannya, dan nilainya.

4. Penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan

pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang

pengetahuan.

5. Disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu Anda melihat apa

yang Anda katakan dan untuk menyatakan apa yang Anda lihat.

 

Plato (427–348 SM) menyatakan filsafat ialah pengetahuan yang

bersifat untuk mencapai kebenaran yang asli. Sedangkan Aristoteles

(382–322 SM) mendefenisikan filsafat ialah ilmu pengetahuan yang

meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika,

logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Sedangkan filosof

lainnya Cicero (106–043 SM) menyatakan filsafat ialah ibu dari semua

ilmu pengetahuan lainnya. Filsafat ialah ilmu pengetahuan terluhur dan

keinginan untuk mendapatkannya.

 

Menurut Descartes (1596–1650), filsafat ialah kumpulan segala

pengetahuan di mana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok

penyelidikannya. Sedangkan Immanuel Kant (1724–1804) berpendapat

filsafat ialah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal segala

pengetahuan yang tercakup di dalamnya 4 persoalan:

 

a. Apakah yang dapat kita ketahui?

Jawabannya termasuk dalam bidang metafisika.

b. Apakah yang seharusnya kita kerjakan?

Jawabannya termasuk dalam bidang etika.

c. Sampai di manakah harapan kita?

Jawabannya termasuk pada bidang agama.

d. Apakah yang dinamakan manusia itu?

Jawabannya termasuk pada bidang antropologi.

 

Setidaknya ada tiga karakteristik berpikir filsafat yakni:

 

1. Sifat menyeluruh: seseorang ilmuwan tidak akan pernah puas jika

hanya mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri.

Dia ingin tahu hakikat ilmu dari sudut pandang lain, kaitannya

dengan moralitas, serta ingin yakin apakah ilmu ini akan

membawa kebahagian dirinya. Hal ini akan membuat ilmuwan

tidak merasa sombong dan paling hebat. Di atas langit masih ada

langit. contoh: Socrates menyatakan dia tidak tahu apa-apa.

 

2. Sifat mendasar: yaitu sifat yang tidak saja begitu percaya bahwa

ilmu itu benar. Mengapa ilmu itu benar? Bagaimana proses

penilaian berdasarkan kriteria tersebut dilakukan? Apakah

kriteria itu sendiri benar? Lalu benar sendiri itu apa? Seperti

sebuah pertanyaan yang melingkar yang harus dimulai dengan

menentukan titik yang benar.

 

3. Spekulatif: dalam menyusun sebuah lingkaran dan menentukan

titik awal sebuah lingkaran yang sekaligus menjadi titik akhirnya

dibutuhkan sebuah sifat spekulatif baik sisi proses, analisis

maupun pembuktiannya. Sehingga dapat dipisahkan mana yang

logis atau tidak.

 

Sir Isacc Newton, seorang ilmuwan yang sangat terkenal,

President of the Royal Society memiliki ketiga karakteristik ini. Ada

banyak penyempurnaan penemuan-penemuan ilmuwan sebelumnya yang

dilakukannya. Dalam pencariannya akan ilmu, Newton tidak hanya

percaya pada kebenaran yang sudah ada (ilmu pada saat itu). Ia

menggugat (meneliti ulang) hasil penelitian terdahulu seperti logika

aristotelian tentang gerak dan kosmologi, atau logika cartesian tentang

materi gerak, cahaya, dan struktur kosmos. “Saya tidak mendefenisikan

ruang, tempat, waktu dan gerak sebagaimana yang diketahui banyak

orang” ujar Newton. Bagi Newton tak ada keparipurnaan, yang ada hanya

pencarian yang dinamis, selalu mungkin berubah dan tak pernah selesai.

“ku tekuni sebuah subjek secara terus menerus dan ku tunggu sampai

cahaya fajar pertama datang perlahan, sedikit demi sedikit sampai betulbetul

terang”.

 

 

1.2. Munculnya Filsafat

 

Filsafat, terutama filsafat Barat muncul di Yunani semenjak kirakira

abad ke-7 SM. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai berpikirpikir

dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar

mereka dan tidak menggantungkan diri kepada agama lagi untuk mencari

jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Banyak yang bertanya-tanya

mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang beradab lain

kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya

sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta

pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas.

Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filosof ialah Thales

dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filosof-filosof Yunani

yang terbesar tentu saja ialah: Socrates, Plato, dan Aristoteles. Socrates

adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada

yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah “komentarkomentar

karya Plato belaka”. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang

sangat besar pada sejarah filsafat.

 

1.3. Klasifikasi Filsafat

Di seluruh dunia, banyak orang yang menanyakan pertanyaan

yang sama dan membangun tradisi filsafat, menanggapi dan meneruskan

banyak karya-karya sesama mereka. Oleh karena itu filsafat biasa

diklasifikasikan menurut daerah geografis dan budaya. Pada dewasa ini

filsafat biasa dibagi menjadi: “Filsafat Barat”, “Filsafat Timur”, dan

“Filsafat Islam”.

 

Filsafat Barat

 

Filsafat Barat adalah ilmu yang biasa dipelajari secara akademis

di universitas-universitas di Eropa dan daerah-daerah jajahan mereka.

Filsafat ini berkembang dari tradisi falsafi orang Yunani kuno.

Menurut Takwin (2001) dalam pemikiran barat konvensional

pemikiran yang sistematis, radikal, dan kritis seringkali merujuk

pengertian yang ketat dan harus mengandung kebenaran logis. Misalnya

aliran empirisme, positivisme, dan filsafat analitik memberikan kriteria

bahwa pemikiran dianggap filosofis jika mengadung kebenaran

korespondensi dan koherensi. Korespondensi yakni sebuah pengetahuan

dinilai benar jika pernyataan itu sesuai dengan kenyataan empiris. Contoh

jika pernyataan ”Saat ini hujan turun”, adalah benar jika indra kita

menangkap hujan turun, jika kenyataannya tidak maka pernyataannya

dianggap salah. Koherensi berarti sebuah pernyataan dinilai benar jika pernyataan

itu mengandung koherensi logis (dapat diuji dengan logika barat).

Dalam filsafat barat secara sistematis terbagi menjadi tiga bagian

besar yakni: (a) bagian filsafat yang mengkaji tentang ada (being), (b)

bidang filsafat yang mengkaji pengetahuan (epistimologi dalam arti luas),

(c) bidang filsafat yang mengkaji nilai-nilai menentukan apa yang

seharusnya dilakukan manusia (aksiologi).

 

Beberapa tokoh dalam filsafat barat yaitu:

 

1. Wittgenstein mempunyai aliran analitik (filsafat analitik) yang

dikembangkan di negara-negara yang berbahasa Inggris, tetapi

juga diteruskan di Polandia. Filsafat analitik menolak setiap

bentuk filsafat yang berbau ″metafisik”. Filsafat analitik menyerupai

ilmu-ilmu alam yang empiris, sehingga kriteria yang berlaku

dalam ilmu eksata juga harus dapat diterapkan pada filsafat.

Yang menjadi obyek penelitian filsafat analitik sebetulnya bukan

barang-barang, peristiwa-peristiwa, melainkan pernyataan,

aksioma, prinsip. Filsafat analitik menggali dasar-dasar teori ilmu

yang berlaku bagi setiap ilmu tersendiri. Yang menjadi pokok

perhatian filsafat analitik ialah analisa logika bahasa sehari-hari,

maupun dalam mengembangkan sistem bahasa buatan.

 

2. Imanuel Kant mempunyai aliran atau filsafat ″kritik” yang tidak

mau melewati batas kemungkinan pemikiran manusiawi.

Rasionalisme dan empirisme ingin disintesakannya. Untuk itu ia

membedakan akal, budi, rasio, dan pengalaman inderawi.

Pengetahuan merupakan hasil kerja sama antara pengalaman

indrawi yang aposteriori dan keaktifan akal, faktor priori.

Struktur pengetahuan harus kita teliti. Kant terkenal karena tiga

tulisan: (1) Kritik atas rasio murni, apa yang saya dapat ketahui.

Ding an sich, hakikat kenyataan yang dapat diketahui. Manusia

hanya dapat mengetahui gejala-gejala yang kemudian oleh akal

terus ditampung oleh dua wadah pokok, yakni ruang dan waktu.

Kemudian diperinci lagi misalnya menurut kategori sebab dan

akibat dst. Seluruh pengetahuan kita berkiblat pada Tuhan, jiwa,

dan dunia. (2) Kritik atas rasio praktis, apa yang harus saya buat.

Kelakuan manusia ditentukan oleh kategori imperatif, keharusan

mutlak: kau harus begini dan begitu. Ini mengandaikan tiga

postulat: kebebasan, jiwa yang tak dapat mati, adanya Tuhan. (3)

Kritik atas daya pertimbangan. Di sini Kant membicarakan

peranan perasaan dan fantasi, jembatan antara yang umum dan

yang khusus.

 

3. Rene Descartes. Berpendapat bahwa kebenaran terletak pada diri

subyek. Mencari titik pangkal pasti dalam pikiran dan

pengetahuan manusia, khusus dalam ilmu alam. Metode untuk

memperoleh kepastian ialah menyangsikan segala sesuatu. Hanya

satu kenyataan tak dapat disangsikan, yakni aku berpikir, jadi aku

ada. Dalam mencari proses kebenaran hendaknya kita

pergunakan ide-ide yang jelas dan tajam. Setiap orang, sejak ia

dilahirkan, dilengkapi dengan ide-ide tertentu, khusus mengenai

adanya Tuhan dan dalil-dalil matematika. Pandangannya tentang

alam bersifat mekanistik dan kuantitatif. Kenyataan dibaginya

menjadi dua yaitu: “res extensa dan res copgitans”.

 

Filsafat Timur

 

Filsafat Timur adalah tradisi falsafi yang terutama berkembang di

Asia, khususnya di India, Tiongkok, dan daerah-daerah lain yang pernah

dipengaruhi budayanya. Sebuah ciri khas filsafat timur ialah dekatnya

hubungan filsafat dengan agama. Meskipun hal ini kurang lebih juga bisa

dikatakan untuk filsafat barat, terutama di Abad Pertengahan, tetapi di

Dunia Barat filsafat ’an sich’ masih lebih menonjol daripada agama. Namanama

beberapa filosof: Lao Tse, Kong Hu Cu, Zhuang Zi, dan lain-lain.

 

Pemikiran filsafat timur sering dianggap sebagai pemikiran yang

tidak rasional, tidak sistematis, dan tidak kritis. Hal ini disebabkan

pemikiran timur lebih dianggap agama dibanding filsafat. Pemikiran

timur tidak menampilkan sistematika seperti dalam filsafat barat.

Misalnya dalam pemikiran Cina sistematikanya berdasarkan pada

konstrusksi kronologis mulai dari penciptaan alam hingga meninggalnya

manusia dijalin secara runut (Takwin, 2001).

Belakangan ini, beberapa intelektual barat telah beralih ke filsafat

timur, misalnya Fritjop Capra, seorang ahli fisika yang mendalami

taoisme, untuk membangun kembali bangunan ilmu pengetahuan yang

sudah terlanjur dirongrong oleh relativisme dan skeptisisme (Bagir,

2005). Skeptisisme terhadap metafisika dan filsafat dipelopori oleh Rene

Descartes dan William Ockham.

 

Filsafat Islam

 

Filsafat Islam ini sebenarnya mengambil tempat yang istimewa.

Sebab dilihat dari sejarah, para filosof dari tradisi ini sebenarnya bisa

dikatakan juga merupakan ahli waris tradisi Filsafat Barat (Yunani).

Terdapat dua pendapat mengenai sumbangan peradaban Islam

terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan, yang terus berkembang hingga

saat ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa orang Eropa belajar

filsafat dari filosof Yunani seperti Aristoteles, melalui kitab-kitab yang

disalin oleh St. Agustine (354–430 M), yang kemudian diteruskan oleh

Anicius Manlius Boethius (480–524 M) dan John Scotus. Pendapat

kedua menyatakan bahwa orang Eropa belajar filsafat orang-orang

Yunani dari buku-buku filsafat Yunani yang telah diterjemahkan ke

dalam bahasa Arab oleh filosof Islam seperti Al-Kindi dan Al-Farabi.

Terhadap pendapat pertama Hoesin (1961) dengan tegas menolaknya,

karena menurutnya salinan buku filsafat Aristoteles seperti Isagoge,

Categories, dan Porphyry telah dimusnahkan oleh pemerintah Romawi

bersamaan dengan eksekusi mati terhadap Boethius, yang dianggap telah

menyebarkan ajaran yang dilarang oleh negara. Selanjutnya dikatakan

bahwa seandainya kitab-kitab terjemahan Boethius menjadi sumber

perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan di Eropa, maka John

Salisbury, seorang guru besar filsafat di Universitas Paris, tidak akan

menyalin kembali buku Organon karangan Aristoteles dari terjemahanterjemahan

berbahasa Arab, yang telah dikerjakan oleh filosof Islam

(Haerudin, 2003).

 

Majid Fakhri cenderung mengangap filsafat Islam sebagai mata

rantai yang menghubungkan Yunani dengan Eropa modern. Kecenderungan ini

disebut europosentris yang berpendapat filsafat Islam telah berakhir sejak

kematian Ibn Rusyd. Pendapat ini ditentang oleh Henry Corbin dan Louis

Massignon yang menilai adanya eksistensi filsafat Islam. Menurut

Kartanegara (2006) dalam filsafat Islam ada empat aliran yakni:

1. Peripatetik (memutar atau berkeliling) merujuk kebiasaan

Aristoteles yang selalu berjalan-jalan mengelilingi muridnya

ketika mengajarkan filsafat. Ciri khas aliran ini secara metodologis atau

epistimologis adalah menggunakan logika formal yang

berdasarkan penalaran akal (silogisme), serta penekanan yang

kuat pada daya-daya rasio. Tokoh-tokohnya yang terkenal yakni:

Al Kindi (w. 866), Al Farabi (w. 950), Ibnu Sina (w. 1037), Ibn

Rusyd (w. 1196), dan Nashir al Din Thusi (w.1274).

2. Aliran Iluminasionis (Israqi). Didirikan oleh pemikir Iran,

Suhrawardi Al Maqtul (w. 1191). Aliran ini memberikan tempat

yang penting bagi metode intuitif (irfani). Menurutnya dunia ini

terdiri dari cahaya dan kegelapan. Baginya Tuhan adalah cahaya

sebagai satu-satunya realitas sejati (nur al anwar), cahaya di atas

cahaya.

 

3. Aliran Irfani (Tasawuf). Tasawuf bertumpu pada pengalaman

mistis yang bersifat supra-rasional. Jika pengenalan rasional

bertumpu pada akal maka pengenalan sufistik bertumpu pada

hati. Tokoh yang terkenal adalah Jalaluddin Rumi dan Ibn Arabi.

4. Aliran Hikmah Muta’aliyyah (Teosofi Transeden). Diwakili

oleh seorang filosof syi’ah yakni Muhammad Ibn Ibrahim Yahya

Qawami yang dikenal dengan nama Shadr al Din al Syirazi, Atau

yang dikenal dengan Mulla Shadra yaitu seorang filosof yang

berhasil mensintesiskan ketiga aliran di atas.

 

 

Dalam Islam ilmu merupakan hal yang sangat dianjurkan. Dalam

Al Quran kata al-ilm dan kata-kata jadiannya digunakan lebih 780 kali.

Hadis juga menyatakan mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim.

Dalam pandangan Allamah Faydh Kasyani dalam bukunya Al Wafi: ilmu

yang diwajibkan kepada setiap muslim adalah ilmu yang mengangkat

posisi manusia pada hari akhirat, dan mengantarkannya pada pengetahuan

tentang dirinya, penciptanya, para nabinya, utusan Allah, pemimpin Islam,

sifat Tuhan, hari akhirat, dan hal-hal yang mendekatkan diri kepada

Allah.

 

Dalam pandangan keilmuan Islam, fenomena alam tidaklah

berdiri tanpa relasi dan relevansinya dengan kuasa ilahi. Mempelajari

alam berarti akan mempelajari dan mengenal dari dekat cara kerja Tuhan.

Dengan demikian penelitian alam semesta (jejak-jejak ilahi) akan

mendorong kita untuk mengenal Tuhan dan menambah keyakinan

terhadapnya. Fenomena alam bukanlah realitas-realitas independen

melainkan tanda-tanda Allah SWT. Fenomena alam adalah ayat-ayat

yang bersifat qauniyyah, sedangkan kitab suci ayat-ayat yang besifat

qauliyah. Oleh karena itu ilmu-ilmu agama dan umum menempati posisi

yang mulia sebagai obyek ilmu.

 

1.4. Filsafat Ilmu

 

Filsafat mengambil peran penting karena dalam filsafat kita bisa

menjumpai pandangan-pandangan tentang apa saja (kompleksitas,

mendiskusikan dan menguji kesahihan dan akuntabilitas pemikiran serta

gagasan-gagasan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan

intelektual (Bagir, 2005).

Menurut kamus Webster New World Dictionary, kata science

berasal dari kata latin, scire yang artinya mengetahui. Secara bahasa

science berarti “keadaan atau fakta mengetahui dan sering diambil dalam

arti pengetahuan (knowledge) yang dikontraskan melalui intuisi atau

kepercayaan. Namun kata ini mengalami perkembangan dan perubahan

makna sehingga berarti pengetahuan yang sistematis yang berasal dari

 

observasi, kajian, dan percobaan-percobaan yang dilakukan untuk

menetukan sifat dasar atau prinsip apa yang dikaji. Sedangkan dalam

bahasa Arab, ilmu (ilm) berasal dari kata alima yang artinya mengetahui.

Jadi ilmu secara harfiah tidak terlalu berbeda dengan science yang berasal

dari kata scire. Namun ilmu memiliki ruang lingkup yang berbeda dengan

science (sains). Sains hanya dibatasi pada bidang-bidang empirisme–

positiviesme sedangkan ilmu melampuinya dengan nonempirisme seperti

matematika dan metafisika (Kartanegara, 2003).

Berbicara mengenai ilmu (sains) maka tidak akan terlepas dari

filsafat. Tugas filsafat pengetahuan adalah menunjukkan bagaimana

“pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya”. Will Duran dalam

bukunya The story of Philosophy mengibaratkan bahwa filsafat seperti

pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri.

Pasukan infanteri inilah sebagai pengetahuan yang di antaranya ilmu.

Filsafat yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan.

Semua ilmu baik ilmu alam maupun ilmu sosial bertolak dari

pengembangannya sebagai filsafat. Nama asal fisika adalah filsafat alam

(natural philosophy) dan nama asal ekonomi adalah filsafat moral (moral

philosophy). Issac Newton (1642-1627) menulis hukum-hukum fisika

sebagai Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (1686) dan Adam

Smith (1723-1790) Bapak Ilmu Ekonomi menulis buku The Wealth Of

Nation (1776) dalam fungsinya sebagai Professor of Moral Philosophy di

Universitas Glasgow.

 

Agus Comte dalam Scientific Metaphysic, Philosophy, Religion

and Science, 1963 membagi tiga tingkat perkembangan ilmu pengetahuan

yaitu: religius, metafisic dan positif. Dalam tahap awal asas religilah yang

dijadikan postulat ilmiah sehingga ilmu merupakan deduksi atau penjabaran

religi. Tahap berikutnya orang mulai berspekulasi tentang metafisika dan

keberadaan wujud yang menjadi obyek penelaahan yang terbebas dari

dogma religi dan mengembangkan sistem pengetahuan di atas dasar

postulat metafisik. Tahap terakhir adalah tahap pengetahuan ilmiah (ilmu)

di mana asas-asas yang digunakan diuji secara positif dalam proses

verifikasi yang obyektif. Tahap terakhir Inilah karakteristik sains yang

paling mendasar selain matematika.

 

Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat pengetahuan atau sering

juga disebut epistimologi. Epistimologi berasal dari bahasa Yunani yakni

episcmc yang berarti knowledge, pengetahuan dan logos yang berarti

teori. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh J.F. Ferier tahun 1854

yang membuat dua cabang filsafat yakni epistemology dan ontology (on =

being, wujud, apa + logos = teori ), ontology ( teori tentang apa).

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa filsafat ilmu adalah

dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan

secara ilmiah. Ini berarti bahwa terdapat pengetahuan yang ilmiah dan

tak-ilmiah. Adapun yang tergolong ilmiah ialah yang disebut ilmu

pengetahuan atau singkatnya ilmu saja, yaitu akumulasi pengetahuan

yang telah disistematisasi dan diorganisasi sedemikian rupa; sehingga

memenuhi asas pengaturan secara prosedural, metologis, teknis, dan

normatif akademis. Dengan demikian teruji kebenaran ilmiahnya

sehingga memenuhi kesahihan atau validitas ilmu, atau secara ilmiah

dapat dipertanggungjawabkan.

 

Sedang pengetahuan tak-ilmiah adalah yang masih tergolong prailmiah.

Dalam hal ini berupa pengetahuan hasil serapan inderawi yang

secara sadar diperoleh, baik yang telah lama maupun baru didapat. Di

samping itu termasuk yang diperoleh secara pasif atau di luar kesadaran

seperti ilham, intuisi, wangsit, atau wahyu (oleh nabi).

Pengetahuan Manusia

 

Pengetahuan Obyek Paradigma Metode Kriteria

Sains Empiris Sains Metode

Ilmiah

Rasional empiris

Filsafat Abstrak

rasional

Rasional Metode

rasional

Rasional

Mistis Abstark

suprarasional

Mistis Latihan

percaya

Rasa, iman, logis,

kadang empiris

Sumber: Tafsir, Ahmad, 2006, Filsafat Ilmu

 

Dengan lain perkataan, pengetahuan ilmiah diperoleh secara

sadar, aktif, sistematis, jelas prosesnya secara prosedural, metodis dan

teknis, tidak bersifat acak, kemudian diakhiri dengan verifikasi atau diuji

kebenaran (validitas) ilmiahnya. Sedangkan pengetahuan yang prailmiah,

walaupun sesungguhnya diperoleh secara sadar dan aktif, namun

bersifat acak, yaitu tanpa metode, apalagi yang berupa intuisi, sehingga

tidak dimasukkan dalam ilmu. Dengan demikian, pengetahuan pra-ilmiah

karena tidak diperoleh secara sistematis-metodologis ada yang cenderung

menyebutnya sebagai pengetahuan “naluriah”.

 

Dalam sejarah perkembangannya, di zaman dahulu yang lazim

disebut tahap-mistik, tidak terdapat perbedaan di antara pengetahuanpengetahuan

yang berlaku juga untuk obyek-obyeknya. Pada tahap mistik

ini, sikap manusia seperti dikepung oleh kekuatan-kekuatan gaib di

sekitarnya, sehingga semua obyek tampil dalam kesemestaan dalam

artian satu sama lain berdifusi menjadi tidak jelas batas-batasnya.

Tiadanya perbedaan di antara pengetahuan-pengetahuan itu mempunyai

implikasi sosial terhadap kedudukan seseorang yang memiliki kelebihan

dalam pengetahuan untuk dipandang sebagai pemimpin yang mengetahui

segala-galanya. Fenomena tersebut sejalan dengan tingkat kebudayaan

primitif yang belum mengenal berbagai organisasi kemasyarakatan,

sebagai implikasi belum adanya diversifikasi pekerjaan. Seorang

pemimpin dipersepsikan dapat merangkap fungsi apa saja, antara lain

sebagai kepala pemerintahan, hakim, guru, panglima perang, pejabat

pernikahan, dan sebagainya. Ini berarti pula bahwa pemimpin itu mampu

menyelesaikan segala masalah, sesuai dengan keanekaragaman fungsional

yang dicanangkan kepadanya.

 

Tahap berikutnya adalah tahap-ontologis, yang membuat manusia

telah terbebas dari kepungan kekuatan-kekuatan gaib, sehingga mampu

mengambil jarak dari obyek di sekitarnya, dan dapat menelaahnya.

Orang-orang yang tidak mengakui status ontologis obyek-obyek

metafisika pasti tidak akan mengakui status-status ilmiah dari ilmu

tersebut. Itulah mengapa tahap ontologis dianggap merupakan tonggak

ciri awal pengembangan ilmu. Dalam hal ini subyek menelaah obyek

dengan pendekatan awal pemecahan masalah, semata-mata

mengandalkan logika berpikir secara nalar. Hal ini merupakan salah satu

 

ciri pendekatan ilmiah yang kemudian dikembangkan lebih lanjut

menjadi metode ilmiah yang makin mantap berupa proses berpikir secara

analisis dan sintesis. Dalam proses tersebut berlangsung logika berpikir

secara deduktif, yaitu menarik kesimpulan khusus dari yang umum. Hal

ini mengikuti teori koherensi, yaitu perihal melekatnya sifat yang terdapat

pada sumbernya yang disebut premis-premis yang telah teruji

kebenarannya, dengan kesimpulan yang pada gilirannya otomatis

mempunyai kepastian kebenaran. Dengan lain perkataan kesimpulan

tersebut praktis sudah diarahkan oleh kebenaran premis-premis yang

bersangkutan. Walaupun kesimpulan tersebut sudah memiliki kepastian

kebenaran, namun mengingat bahwa prosesnya dipandang masih bersifat

rasional–abstrak, maka harus dilanjutkan dengan logika berpikir secara

induktif. Hal ini mengikuti teori korespondensi, yaitu kesesuaian antara

hasil pemikiran rasional dengan dukungan data empiris melalui penelitian,

dalam rangka menarik kesimpulan umum dari yang khusus. Sesudah melalui

tahap ontologis, maka dimasukan tahap akhir yaitu tahap fungsional.

 

Pada tahap fungsional, sikap manusia bukan saja bebas dari

kepungan kekuatan-kekuatan gaib, dan tidak semata-mata memiliki

pengetahuan ilmiah secara empiris, melainkan lebih daripada itu.

Sebagaimana diketahui, ilmu tersebut secara fungsional dikaitkan dengan

kegunaan langsung bagi kebutuhan manusia dalam kehidupannya. Tahap

fungsional pengetahuan sesungguhnya memasuki proses aspel aksiologi

filsafat ilmu, yaitu yang membahas amal ilmiah serta profesionalisme

terkait dengan kaidah moral.

 

Sementara itu, ketika kita membicarakan tahap-tahap perkembangan

pengetahuan dalam satu nafas tercakup pula telaahan filsafat yang

menyangkut pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Pertama, dari segi

ontologis, yaitu tentang apa dan sampai di mana yang hendak dicapai

ilmu. Ini berarti sejak awal kita sudah ada pegangan dan gejala sosial.

Dalam hal ini menyangkut yang mempunyai eksistensi dalam dimensi

ruang dan waktu, dan terjangkau oleh pengalaman inderawi. Dengan

demikian, meliputi fenomena yang dapat diobservasi, dapat diukur,

sehingga datanya dapat diolah, diinterpretasi, diverifikasi, dan ditarik

kesimpulan. Dengan lain perkataan, tidak menggarap hal-hal yang gaib

seperti soal surga atau neraka yang menjadi garapan ilmu keagamaan.

 

Telaahan kedua adalah dari segi epistimologi, yaitu meliputi

aspek normatif mencapai kesahihan perolehan pengetahuan secara ilmiah,

di samping aspek prosedural, metode dan teknik memperoleh data

empiris. Kesemuanya itu lazim disebut metode ilmiah, meliputi langkahlangkah

pokok dan urutannya, termasuk proses logika berpikir yang

berlangsung di dalamnya dan sarana berpikir ilmiah yang digunakannya.

Telaahan ketiga ialah dari segi aksiologi, yang sebagaimana telah

disinggung di atas terkait dengan kaidah moral pengembangan penggunaan

ilmu yang diperoleh.

 

Epistimologi, Ontologi, dan Aksiologi

 

Tahapan

 

Ontologi

(Hakikat Ilmu)

 

�� Obyek apa yang telah ditelaah ilmu?

�� Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut?

�� Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya

tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, dan mengindera)

yang membuahkan pengetahuan?

 

�� Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan

yang berupa ilmu?

�� Bagaimana prosedurnya?

 

Epistimologi

(CaraMendapatkan Pengetahuan)

 

�� Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu?

�� Bagaimana prosedurnya?

�� Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan dengan benar?

�� Apa yang disebut dengan kebenaran itu sendiri?

�� Apa kriterianya?

�� Sarana/cara/teknik apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?

 

Aksiologi

(Guna Pengetahuan)

�� Untuk apa pengetahuan tersebut digunakan?

�� Bagaiman kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral?

�� Bagaimana penetuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?

�� Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional?

 

Sumber: Suriasumantri, 1993

 

Teori pengetahuan yang bersifat subjektif akan memberikan

jawaban ”TIDAK”, kita tidak akan mungkin mengetahui, menemukan

hal-hal yang ada di balik pengaman dan ide kita. Sedangkan teori

pengetahuan yang bersifat obyektif akan memberikan jawaban ”YA”.

 

1.5. Sumber-Sumber Pengetahuan

 

Ada 2 cara pokok mendapatkan pengetahuan dengan benar:

pertama, mendasarkan diri dengan rasio. Kedua, mendasarkan diri dengan

pengalaman. Kaum rasionalis mengembangkan rasionalisme, dan pengalaman

mengembangkan empirisme. Kaum rasionalis mengembangkan metode

deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai dari ide

yang diangapnya jelas dan dapat diterima. Ide ini menurut mereka bukan

ciptaan pikiran manusia. Prinsip itu sudah ada, jauh sebelum manusia

memikirkannya (idelisme).

 

Di samping rasionalisme dan pengalaman masih ada cara lain

yakni intuisi atau wahyu. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan

tanpa melalui proses penalaran, bersifat personal dan tak bisa diramalkan.

Sedangkan wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan

kepada manusia.

 

Masalah yang muncul dalam sumber pengetahuan adalah dikotomi

atau gap antara sumber ilmu umum dan ilmu agama. Bagi agama Islam

sumber ilmu yang paling otoritatif adalah Alquran dan Hadis. Bagi ilmu

umum (imuwan sekuler) satunya-satunya yang valid adalah pengalaman

empiris yang didukung oleh indrawi melalui metode induksi. Sedangkan

metode deduksi yang ditempuh oleh akal dan nalar sering dicurigai secara

apriopri (yakni tidak melalui pengalaman). Menurut mereka, setinggitingginya

pencapaian akal adalah filsafat. Filsafat masih dipandang terlalu

spekulatif untuk bisa mengkonstruksi bangunan ilmiah seperti yang

diminta kaum positivis. Adapun pengalaman intuitif sering dianggap hanya

sebuah halusinasi atau ilusi belaka. Sedangkan menurut agamawan pengalaman

intuitif dianggap sebagai sumber ilmu, seperti para nabi memperoleh

wahyu ilahi atau mistikus memperoleh limpahan cahaya Ilahi.

 

Masalah berikutnya adalah pengamatan. Sains modern menentukan

obyek ilmu yang sah adalah segala sesuatu sejauh ia dapat diobservasi

(the observables) atau diamati oleh indra. Akibatnya muncul penolakan

dari filosof logika positivisme yang menganggap segala pernyataan yang

tidak ada hubungan obyek empirisnya sebagai nonsens. Perbedaan ini

melahirkan metafisik (dianggap gaib) dan fisik (dianggap science).

Masalah lainnya adalah munculnya disintegrasi pada tatanan

klasifikasi ilmu. Penekanan sains modern pada obyek empiris (ilmu-ilmu

fisika) membuat cabang ilmu nonfisik bergeser secara signifikan ke

pinggiran. Akibatnya timbul pandangan negatif bahwa bidang kajian

agama hanya menghambat kemajuan. Seperti dalam anggapan Freud

yang menyatakan agama dan terutama pendukungnya yang fanatik

bertanggung jawab terhadap pemiskinan pengetahuan karena melarang

anak didik untuk bertanya secara kritis.

 

Masalah lainnya yang muncul adalah menyangkut metodologi

ilmiah. Sains pada dasarnya hanya mengenal metode observasi atau

eksperimen. Sedangkan agamawan mengembangkan metode lainnya seperti

metode intuitif. Masalah terakhir adalah sulitnya mengintegrasikan

ilmu dan agama terutama indra, intektual dan intuisi sebagai

pengalaman legitimate dan riil dari manusia.

 

1.6. Sejarah Perkembangan Ilmu

 

A. Zaman Yunani

Periode filsafat Yunani merupakan periode sangat penting

dalam sejarah peradaban manusia karena pada waktu itu terjadi

perubahan pola pikir mitosentris (pola pikir masyarakat yang sangat

mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam, seperti

gempa bumi dan pelangi). Gempa bumi tidak dianggap fenomena

alam biasa, tetapi Dewa Bumi yang sedang menggoyangkan

kepalanya. Namun, ketika filsafat diperkenalkan, fenomena alam

tersebut tidak lagi dianggap sebagai aktivitas dewa, tetapi aktivitas

alam yang terjadi secara kausalitas.

 

Filosof alam pertama yang mengkaji tentang asal usul alam

adalah Thales (624-546 SM) mempertanyakan “Apa sebenarnya asal

usul alam semesta ini?” Ia mengatakan asal alam adalah air karena

air unsur penting bagi setiap makhluk hidup, air dapat berubah

menjadi benda gas, seperti uap dan benda dapat, seperti es, dan bumi

ini juga berada di atas air.

 

Sedangkan Heraklitos mempunyai kesimpulan bahwa yang

mendasar dalam alam semesta ini adalah bukan bahannya, melainkan

aktor dan penyebabnya, yaitu api. Api adalah unsur yang paling asasi

dalam alam karena api dapat mengeraskan adonan roti dan di sisi

lain dapat melunakkan es. Artinya, api adalah aktor pengubah dalam

alam ini, sehingga api pantas dianggap sebagai simbol perubahan itu

sendiri.

 

Pythagoras (580-500 SM) berpendapat bahwa bilangan

adalah unsur utama dari alam dan sekaligus menjadi ukuran. Unsur

bilangan merupakan juga unsur yang terdapat dalam segala sesuatu.

Unsur-unsur bilangan itu adalah genap dan ganjil, terbatas dan tidak

terbatas. Menurut Abu Al Hasan Al Amiri, seorang filosof muslim

Phitagoras belajar geometri dan matematika dari orang-orang mesir

(Rowston, dalam Kartanegara, 2003).

 

Filosof alam ternyata tidak dapat memberikan jawaban yang

memuaskan, sehingga timbullah kaum “sofis”. Kaum sofis ini

memulai kajian tentang manusia dan menyatakan bahwa ini memulai

kajian tentang manusia dan menyatakan bahwa manusia adalah

ukuran kebenaran. Tokoh utamanya adalah Protagoras (481-411

SM). Ia menyatakan bahwa “manusia” adalah ukuran kebenaran.

Ilmu juga mendapat ruang yang sangat kondusif dalam pemikiran

kaum sofis karena mereka memberi ruang untuk berspekulasi dan

sekaligus merelatifkan teori ilmu, sehingga muncul sintesa baru.

Socrates, Plato, dan Aristoteles menolak relativisme kaum sofis.

Menurut mereka, ada kebenaran obyektif yang bergantung kepada

manusia.

 

Periode setelah Socrates disebut dengan zaman keemasan filsafat

Yunani karena pada zaman ini kajian-kajian yang muncul adalah

perpaduan antara filsafat alam dan filsafat tentang manusia. Tokoh yang

sangat menonjol adalah Plato (429-347 SM), yang sekaligus murid

Socrates. Menurutnya, kebenaran umum itu ada bukan dibuat-buat

bahkan sudah ada di alam idea.

 

Puncak kejayaan filsafat Yunani terjadi pada masa Aristoteles

(384-322 SM). Ia murid Plato, berhasil menemukan pemecahan persoalanpersoalan

besar filsafat yang dipersatukannya dalam satu sistem: logika,

matematika, fisika, dan metafisika. Logika Aristoteles berdasarkan pada

analisis bahasa yang disebut silogisme. Pada dasarnya silogisme terdiri

dari tiga premis:

 

- Semua manusia akan mati (premis mayor).

- Socrates seorang manusia (premis minor).

- Socrates akan mati (konklusi).

Aristoteles dianggap bapak ilmu karena dia mampu meletakkan  dasar-dasar dan metode ilmiah secara sistematis.

 

B. Zaman Islam

Islam tidak hanya mendukung adanya kebebasan intelektual,

tetapi juga membuktikan kecintaan umat Islam terhadap ilmu pengetahuan dan

sikap hormat mereka kepada ilmuwan, tanpa memandang agama mereka.

Periode antara 750 M dan 1100 M adalah abad masa keemasan dunia

Islam. Plato dan Aristoteles telah memberikan pengaruh yang besar pada

mazhab-mazhab Islam, khususnya mazhab Peripatetik.

 

Al Farabi sangat berjasa dalam mengenalkan dan mengembangkan

cara berpikir logis (logika) kepada dunia Islam. Berbagai karangan

Aristoteles seperti Categories, Hermeneutics, First, dan Second Analysis

telah diterjemahkan Al Farabi ke dalam bahasa Arab. Al Farabi telah

membicarakan berbagai sistem logika dan cara berpikir deduktif maupun

induktif. Di samping itu beliau dianggap sebagai peletak dasar pertama

ilmu musik dan menyempurnakan ilmu musik yang telah dikembangkan

sebelumnya oleh Phytagoras. Oleh karena jasanya ini, maka Al Farabi

diberi gelar Guru Kedua, sedang gelar Guru Pertama diberikan kepada

Aristoteles.

 

Kontribusi lain dari Al Farabi yang dianggap cukup bernilai adalah

usahanya mengklasifikasi ilmu pengetahuan. Al Farabi telah memberikan

defenisi dan batasan setiap ilmu pengetahuan yang berkembang pada

zamannya. Al Farabi mengklasifikasi ilmu ke dalam tujuh cabang yaitu:

logika, percakapan, matematika, fisika, metafisika, politik, dan ilmu fiqih

(hukum).

 

Ilmu percakapan dibagi lagi ke dalam tujuh bagian yaitu: bahasa,

gramatika, sintaksis, syair, menulis, dan membaca. Bahasa dalam ilmu

percakapan dibagi dalam: ilmu kalimat mufrad, preposisi, aturan penulisan

yang benar, aturan membaca dengan benar, dan aturan mengenai syair

yang baik. Ilmu logika dibagi dalam 8 bagian, dimulai dengan kategori

dan diakhiri dengan syair (puisi). Matematika dibagi dalam tujuh bagian.

Metafisika dibagi dalam dua bahasan, bahasan pertama mengenai

pengetahuan tentang makhluk dan bahasan kedua mengenai filsafat ilmu.

Politik dikatakan sebagai bagian dari ilmu sipil dan menjurus pada etika

dan politika. Perkataan politieia yang berasal dari bahasa Yunani

diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi madani, yang berarti sipil

dan berhubungan dengan tata cara mengurus suatu kota. Kata ini

kemudian sangat populer digunakan untuk menyepadankan istilah

masyarakat sipil menjadi masyarakat madani. Ilmu agama dibagi dalam

ilmu fiqih dan imu ketuhanan/kalam (teologi).

 

Buku Al Farabi mengenai pembagian ilmu ini telah diterjemahkan ke

dalam bahasa Latin untuk konsumsi bangsa Eropa dengan judul De

Divisione Philosophae. Karya lainnya yang telah diterjemahkan ke dalam

bahasa Latin berjudul De Scientiis atau De Ortu Scientearum. Buku ini

mengulas berbagai jenis ilmu seperti ilmu kimia, optik, dan geologi. Al

Farabi (w.950) terkenal dengan doktrin wahda al wujud membagi

hierarki wujud yaitu (1) dipuncak hierarki wujud adalah Tuhan yang

merupakan sebab bagi keberadaan yang lain, (2) para malaikat di

bawahnya yang merupakan sebab bagi keberadaan yang lain, (3) benda21

benda langit (angkasa), (4) benda-benda bumi. Al Farabi memiliki sikap

yang jelas karena ia percaya pada kesatuan filsafat dan bahwa tokohtokoh

filsafat harus bersepakat di antara mereka sepanjang yang menjadi

tujuan mereka adalah kebenaran.

 

Filosof lain yang terkenal adalah Ibnu Sina dikenal di Barat dengan

sebutan Avicienna. Selain sebagai seorang filosof, ia dikenal sebagai

seorang dokter dan penyair. Ilmu pengetahuan yang ditulisnya banyak

ditulis dalam bentuk syair. Bukunya yang termasyhur Canon, telah diterjemahkan

ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona di Toledo. Buku ini

kemudian menjadi buku teks (text book) dalam ilmu kedokteran yang

diajarkan pada beberapa perguruan tinggi di Eropa, seperti Universitas

Louvain dan Montpelier. Dalam kitab Canon, Ibnu Sina telah menekankan

betapa pentingnya penelitian eksperimental untuk menentukan khasiat

suatu obat. Ibnu Sina menyatakan bahwa daya sembuh suatu jenis obat

sangat tergantung pada ketepatan dosis dan ketepatan waktu pemberian.

Pemberian obat hendaknya disesuaikan dengan kekuatan penyakit.

Kitab lainnya berjudul Al Shifa diterjemahkan oleh Ibnu Daud (di

Barat dikenal dengan nama Avendauth Ben Daud) di Toledo. Oleh

karena Al Shifa sangat tebal, maka bagian yang diterjemahkan oleh Ibnu

Daud terbatas pada pendahuluan ilmu logika, fisika, dan De Anima. Ibnu

Sina membagi filsafat atas bagian yang bersifat teoretis dan bagian yang

bersifat praktis. Bagian yang bersifat teoretis meliputi: matematika,

fisika, dan metafisika, sedang bagian yang bersifat praktis meliputi:

politik dan etika.

 

Ibnu Sina, mengatakan alam pada dasarnya adalah potensi

(mumkin al wujud) dan tidak mungkin bisa mengadakan dirinya sendiri

tanpa adanya Tuhan. Ibnu Sina mengelompokkan ilmu dalam tiga macam

yakni (1) obyek-obyek yang secara niscaya tidak berkaitan dengan materi

dan gerak (metafisik), (2) obyek-obyek yang senantiasa berkaitan dengan

materi dan gerak (fisika), (3) obyek-obyek yang pada dirinya immateriel

tetapi kadang melakukan kontak dengan materi dan gerak (matematika).

Ibn Khaldun dalam kitabnya Al Muqaddimah membagi

metafisika dalam lima bagian. Bagian pertama berbicara tentang hakikat

 

 

wujud (ontologi). Dari sini muncul dua aliran besar yakni eksistensialis

(tokoh yang terkemuka adalah Ibnu Sina dan Mhulla Shadra) dan

esensialis (tokoh yang terkemuka adalah Syaikh Al Israq, Suhrawardi).

Berikutnya Ibn Khaldun membagi ilmu matematika ke dalam empat

subdivisi yakni (1) geometri; trigonometrik dan kerucut, surveying tanah,

dan optik. Sarjana muslim terutama Ibn Haitsam telah banyak

mempengaruhi sarjana barat termasuk Roger Bacon, Vitello dan Kepler

(2)Aritmetika; seni berhitung/hisab, aljabar, aritmatika bisnis dan faraid

(hukum waris), (3) musik, (4) astronomi.

 

Dalam bidang ilmu mineral, dikenal karya Al Biruni yang

berjudul Al Jawahir (batu-batu permata), selain itu pada abad ke-11 Al

Biruni dikenal sebagai The master of observation di bidang geologi dan

geografi karena Al Biruni berusaha mengukur keliling bumi melalui

metode eksperimen dengan menggabungkan metode observasi dan teori

trigonometri. Akhirnya ia sampai pada kesimpulan bahwa keliling bumi

adalah 24.778,5 mil dengan diameter 7.878 mil. Tentu saja ini merupakan

penemuan luar biasa untuk masa itu, dengan ukuran modern saja yaitu

24.585 mil (selisih ± 139 mil) dengan diameter 7.902 mil.

 

Dalam bidang ilmu farmakologi dan medis dikenal karya Ibnu

Sina yakni Al Qanun fi al Thibb dan Al Hawi oleh Abu Bakr Al Razi,

bidang nutrisi dikenal karya Ibn Bathar yakni Al Jami Li Mufradat Al

Adawiyyah wa Al Aghdziyah, di bidang zoologi dikenal karya Al Jahizh

yang berjudul Al Hayawan dan Hayat Al Hayawan oleh Al Damiri. Di

Andalusia terkenal seorang ahli bedah muslim, Ibn Zahrawi yang telah

mencitakan ratusan alat bedah yang sudah sangat maju untuk ukuran

zamannya.

 

Filosof lainnya adalah Al Kindi, yang dianggap sebagai filosof

Arab pertama yang mempelajari filsafat. Ibnu Al Nadhim mendudukkan

Al Kindi sebagai salah satu orang termasyhur dalam filsafat alam

(natural philosophy). Buku-buku Al-Kindi membahas mengenai berbagai

cabang ilmu pengetahuan seperti geometri, aritmatika, astronomi, musik,

logika dan filsafat. Ibnu Abi Usai’bia menganggap Al-Kindi sebagai

penerjemah terbaik kitab-kitab ilmu kedokteran dari bahasa Yunani ke

dalam bahasa Arab. Di samping sebagai penerjemah, Al Kindi menulis

juga berbagai makalah. Ibnu Al Nadhim memperkirakan ada 200 judul

makalah yang ditulis Al Kindi dan sebagian di antaranya tidak dapat

dijumpai lagi, karena raib entah kemana. Nama Al Kindi sangat masyhur

di Eropa pada abad pertengahan. Bukunya yang telah disalin ke dalam

bahasa Latin di Eropa berjudul De Aspectibus berisi uraian tentang

geometri dan ilmu optik, mengacu pada pendapat Euclides, Heron, dan

Ptolemeus. Salah satu orang yang sangat kagum pada berbagai tulisannya

adalag filosof kenamaan Roger Bacon.

 

Filosof lainnya adalah Ibnu Rushd yang lahir dan dibesarkan di

Cordova, Spanyol, meskipun seorang dokter dan telah mengarang buku

ilmu kedokteran berjudul Colliget, yang dianggap setara dengan kitab

Canon karangan Ibnu Sina, lebih dikenal sebagai seorang filosof.

Ibnu Rushd telah menyusun 3 komentar mengenai Aristoteles,

yaitu: komentar besar, komentar menengah, dan komentar kecil. Ketiga

komentar tersebut dapat dijumpai dalam tiga bahasa: Arab, Latin, dan Yahudi.

Dalam komentar besar, Ibnu Rushd menuliskan setiap kata dalam Stagirite

karya Aristoteles dengan bahasa Arab dan memberikan komentar pada

bagian akhir. Dalam komentar menengah ia masih menyebut-nyebut

Aritoteles sebagai Magister Digit, sedang pada komentar kecil filsafat

yang diulas murni pandangan Ibnu Rushd.

 

Pandangan Ibnu Rushd yang menyatakan bahwa jalan filsafat

merupakan jalan terbaik untuk mencapai kebenaran sejati dibanding jalan

yang ditempuh oleh ahli agama, telah memancing kemarahan pemukapemuka

agama, sehingga mereka meminta kepada khalifah yang

memerintah di Spanyol untuk menyatakan Ibnu Rushd sebagai atheis.

Sebenarnya apa yang dikemukakan oleh Ibnu Rushd sudah dikemukakan

pula oleh Al Kindi dalam bukunya Falsafah El Ula (First Philosophy).

Al Kindi menyatakan bahwa kaum fakih tidak dapat menjelaskan

kebenaran dengan sempurna, oleh karena pengetahuan mereka yang tipis

dan kurang bernilai (Haeruddin, 2003).

 

 

C. Kemajuan Ilmu Zaman Renaisans dan Modern

Pada zaman modern paham-paham yang muncul dalam garis

besarnya adalah rasionalisme, idealisme, dan empirisme. Paham

rasionalisme mengajarkan bahwa akal itulah alat terpenting dalam

memperoleh dan menguji pengetahuan. Paham idealisme mengajarkan

bahwa hakikat fisik adalah jiwa, spirit. Ide ini merupakan ide Plato yang

memberikan jalan untuk mempelajari paham idealisme zaman modern.

Paham empirisme dinyatakan bahwa tidak ada sesuatu dalam pikiran kita

selain didahului oleh pengalaman.

 

Renaisans merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan

dan perubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Zaman

yang menyaksikan dilancarkannya tantangan gerakan reformasi terhadap

keesaan dan supremasi Gereja Katolik Roma, bersamaan dengan

berkembangnya Humanisme. Zaman ini juga merupakan penyempurnaan

kesenian, keahlian, dan ilmu yang diwujudkan dalam diri jenius serba bisa,

Leonardo da Vinci. Penemuan percetakan (kira-kira 1440 M) dan ditemukannya

benua baru (1492 M) oleh Columbus memberikan dorongan lebih keras

untuk meraih kemajuan ilmu. Kelahiran kembali sastra di Inggris,

Perancis dan Spanyol diwakili Shakespeare, Spencer, Rabelais, dan

Ronsard. Pada masa itu, seni musik juga mengalami perkembangan.

Adanya penemuan para ahli perbintangan seperti Copernicus dan Galileo

menjadi dasar bagi munculnya astronomi modern yang merupakan titik

balik dalam pemikiran ilmu dan filsafat.

 

Bacon adalah pemikir yang seolah-olah meloncat keluar dari

zamannya dengan melihat perintis filsafat ilmu. Ungkapan Bacon yang

terkenal adalah Knowledge is Power (Pengetahuan adalah kekuasaan).

Ada tiga contoh yang dapat membuktikan pernyataan ini, yaitu: mesin

menghasilkan kemenangan dan perang modern, kompas memungkinkan

manusia mengarungi lautan, percetakan yang mempercepat penyebaran

ilmu.

 

Lahirnya Teori Gravitasi, perhitungan Calculus dan Optika

merupakan karya besar Newton. Teori Gravitasi Newton dimulai ketika

muncul persangkaan penyebab planet tidak mengikuti pergerakan lintas

 

 

lurus, apakah matahari yang menarik bumi atau antara bumi dan matahari

ada gaya saling tarik menarik.

Teori Gravitasi memberikan keterangan, mengapa planet tidak

bergerak lurus, sekalipun kelihatannya tidak ada pengaruh yang memaksa

planet harus mengikuti lintasan elips. Sebenarnya, pengaruhnya ada,

tetapi tidak dapat dilihat dengan mata dan pengaruh itu adalah Gravitasi,

yaitu kekuatan yang selalu akan timbul jika ada dua benda yang saling

berdekatan.

 

Perkembangan ilmu pada abad ke-18 telah melahirkan ilmu

seperti taksonomi, ekonomi, kalkulus, dan statistika. Di abad ke-9 lahir

semisal farmakologi, geofisika, geormopologi, palaentologi, arkeologi,

dan sosiologi. Abad ke-20 mengenal ilmu teori informasi, logika

matematika, mekanika kwantum, fisika nuklir, kimia nuklir, radiobiologi,

oceanografi, antropologi budaya, psikologi, dan sebagainya.

 

D. China, India, dan Jepang

 

Peradaban India yang pada awal telah mencapai teknologi tingkat

tinggi. Kontak Eropa dengan peradaban India sebagian besar melalui

sumber berbahasa Arab. Jelas terlihat matematika India dengan sistem

bilangan dan perhitungannya yang telah mempengaruhi aljabar Arab dan

melengkapi angka utama Arab. Tetapi ciri khasnya adalah pemikiran

dengan kesadaran yang tinggi.

Peradaban Cina, hingga zaman renaisans peradaban Cina jauh

lebih maju dibanding Barat. Menurut Francis Bacon, Tranformasi masyarakat

Eropa banyak berasal dari Cina seperti kompas magnetik, bubuk mesiu,

dan mesin cetak. Namun Eropa tidak pernah menyadari hutang budinya

kepada Cina. Kegagalan Cina dalam membuat perkembangan ilmu dan

teknologi adalah filsafat yang ada lebih berlaku praktis ketimbang

prinsip-prinsip abstrak, filsafat yang ada didasarkan analogi-analogi

harmonis dan organis serta pedagang sebagai kelas yang tidak dapat

dipercaya, sehingga ciri renaisans yang terjadi di Eropa tidak terjadi di

Cina.

 

Peradaban Jepang selama beberapa abad terimbas dari kultur

Cina. Pada awal abad ke-17 memutuskan untuk menutup pintu dari

pengaruh-pengaruh yang dianggap membahayakan. Awal abad ke-19

memutuskan berasimilasi ke bangsa luar dan melaksanakan dengan

sungguh. Saat ini satu sisi Jepang hidup dengan teknologi yang tinggi

akan tetapi tetap mengikuti tradisi sosial yang kuno seperti bangsa Cina.

 

1.7. Ilmu dan Moralitas

 

Dari awal perkembangan ilmu selalu dikaitkan dengan masalah

moral. Copernicus (1473-1543) yang menyatakan bumi berputar

mengelilingi matahari, yang kemudian diperkuat oleh Galileo (1564-

1642) yang menyatakan bumi bukan merupakan pusat tata surya yang

akhirnya harus berakhir di pengadilan inkuisisi. Kondisi ini selama 2

abad mempengaruhi proses perkembangan berpikir di Eropa.

Moral reasioning adalah proses dengan mana tingkah laku

manusia, institusi atau kebijakan dinilai apakah sesuai atau menyalahi

standar moral. Kriterianya: Logis, bukti nyata yang digunakan untuk

mendukung penilaian haruslah tepat, konsisten dengan lainnya.

Menurut Kohlberg (Valazquez, 1998) menyatakan perkembangan

moral individu ada 3 tahap yaitu:

 

1. Level Preconvenstional. Level ini berkembang pada masa kanakkanak.

a. Punishment and obidience orientation: alasan seseorang patuh adalah untuk menghindari hukuman.

b. Instrument and relativity orientation; perilaku atau tindakan benar karena memperoleh imbalan atau pujian.

2. Level Conventional: Individu termotivasi untuk berperilaku sesuai dengan norma-norma kelompok agar dapat diterima dalam suatu kelompok tersebut.

a. Interpersonal concordance orientation:

orang bertingkah laku baik untuk memenuhi harapan dari kelompoknya yang menjadiloyalitas, kepercayaan dan perhatiannya seperti keluarga dan teman.

b. Law and order orientation: benar atau salah ditentukan loyalitas

seseorang pada lingkungan yang lebih luas seperti kelompok masyarakat atau negara.

3. Level Postconventional: pada level ini orang tidak lagi menerima saja nilai-nilai dan norma-norma dari kelompoknya, melainkan melihat situasi berdasarkan prinsip-prinsip moral yang diyakininya.

a. Social contract orientation: orang mulai menyadari bahwa orangorang memiliki pandangan dan opini pribadi yang sering bertentangan dan menekankan cara-cara adil dalam mencapai konsensus dengan perjanjian, kontrak dan proses yang wajar.

b. Universal ethical principles orientation. Orang memahami bahwa suatu tindakan dibenarkan berdasarkan prinsip-prinsip moral yang dipilih karena secara logis, komprehensif, universal,dan konsisten.

1.8. Sarana Ilmiah

Dalam berpikir untuk mengembangkan pengetahuan ilmiah, tentu tidak terlepas dari alat atau sarana ilmiah. Sarana ilmiah dimaksud meliputi

beberapa hal yaitu bahasa, matematika, statistika, dan logika. Hal ini

mempunyai peranan sangat mendasar bagi manusia dalam proses berpikir

dan mengkomunikasikan maupun mendokumentasikan jalan pikiran manusia.

Bahasa merupakan suatu sistem yang berstruktur dari simbolsimbol

bunyi arbitrer (bermakna) yang dipergunakan oleh para anggota

sesuatu kelompok sosial sebagai alat bergaul satu sama lain. Unsur-unsur

yang terdapat di dalamnya meliputi: simbol-simbol vokal arbitrer, suatu

sistem yang berstruktur dari simbol-simbol yang arbitrer dan yang

dipergunakan oleh para anggota suatu kelompok sosial sebagai alat

bergaul satu sama lain. Bahasa berfungsi sebagai sarana untuk

menyampaikan pikiran, perasaan dan emosi kepada orang lain, baik

pikiran yang berlandaskan logika induktif maupun deduktif. Hal ini

disebut bahasa ilmiah, tentu beda dengan bahasa agama yaitu kalam ilahi

yang terabadikan ke dalam kitab suci dan ungkapan serta perilaku

keagamaan dari suatu kelompok sosial.

 

Matematika sebagai bahasa yang melambangkan serangkaian

makna dari serangkaian pernyataan yang ingin kita sampaikan. Fungsi

matematika hampir sama luasnya dengan fungsi bahasa yang berhubungan

dengan pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Matematika merupakan ilmu

deduktif yang memiliki kontribusi dalam perkembangan ilmu alam

maupun ilmu-ilmu sosial.

 

Statistik mengandung arti kumpulan data yang berbentuk angkaangka

(data kuantitatif). Penelitian untuk mencari ilmu (penelitian

ilmiah), baik berupa survei atau eksperimen, dilakukan lebih cermat dan

teliti dengan menggunakan teknik-teknik statistik. Statistik mempunyai

peranan penting dalam berpikir induktif, jadi bahasa, matematika,

statistik memiliki peranan yang sangat mendasar dalam berpikir logika

dan tidak dapat terlepas satu sama lain dalam berbagai bidang aspek

kehidupan ilmiah manusia.

 

Logika merupakan sarana berpikir sistematis, valid, cepat, dan

tepat serta dapat dipertanggungjawabkan dalam berpikir logis dibutuhkan

kondisi-kondisi tertentu seperti: mencintai kebenaran, mengetahui apa

yang sedang dikerjakan dan apa yang sedang dikatakan, membuat

perbedaan dan pembagian, mencintai defenisi yang tepat, dan mengetahui

mengapa begitu kesimpulan kita serta menghindari kesalahan-kesalahan.

 

A. Bahasa

 

Bahasa adalah suatu sistem simbol-simbol bunyi yang arbitrer

yang dipergunakan oleh suatu kelompok sosial sebagai alat untuk

berkomunikasi. Bahasa adalah suatu sistem yang berstruktur dari simbolsimbol

bunyi arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota sesuatu

kelompok sosial sebagai alat bergaul satu sama lain. Perlu diteliti setiap

unsur yang terdapat di dalamnya. Dengan kemampuan kebahasaan akan

terbentang luas cakrawala berpikir seseorang dan tiada batas dunia

baginya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wittgenstein yang

menyatakan: “batas bahasaku adalah batas duniaku”.

Secara umum dapat dinyatakan bahwa fungsi bahasa adalah: (1)

Koordinator kegiatan-kegiatan masyarakat. (2) Penetapan pemikiran dan

pengungkapan.(3) Penyampaian pikiran dan perasaan. (4) Penyenangan

jiwa.(5) Pengurangan kegoncangan jiwa.

 

Bahasa sebagai alat komunikasi verbal yang digunakan dalam

proses berpikir ilmiah di mana bahasa merupakan alat berpikir dan alat

komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang

lain, baik pikiran yang berlandaskan logika induktif maupun deduktif.

Dengan kata lain, kegiatan berpikir ilmiah ini sangat berkaitan erat

dengan bahasa. Bahasa ilmiah adalah bahasa yang digunakan dalam

kegiatan ilmiah.

 

B. Matematika

Banyak sekali ilmu-ilmu sosial sudah mempergunakan matematika

sebagai sosiometri, psychometri, econometri, dan seterusnya. Hampir

dapat dikatakan bahwa fungsi matematika sama luasnya dengan fungsi

bahasa yang berhubungan dengan pengetahuan dan ilmu pengetahuan.

Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik,

maka diperlukan sarana berupa bahasa, logika, matematika dan statistika.

Penalaran ilmiah menyadarkan kita kepada proses logika deduktif dan

logika induktif. Matematika mempunyai peranan penting dalam berpikir

deduktif, sedangkan statistika mempunyai peran penting dalam berpikir

induktif.

 

Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian

makna dari serangkaian pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambanglambang

matematika bersifat “artifisial” yang baru mempunyai arti setelah

sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu maka matematika hanya

merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati.

 

1. Matematika sebagai Sarana Berpikir Deduktif

Matematika merupakan ilmu deduktif. Nama ilmu deduktif diperoleh

karena penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi tidak didasari

atas pengalaman seperti halnya yang terdapat di dalam ilmu-ilmu

empiris, melainkan didasarkan atas deduksi-deduksi (penjabaranpenjabaran).

 

2. Matematika untuk Ilmu Alam dan Ilmu Sosial

Kontribusi matematika dalam perkembangan ilmu alam, lebih

ditandai dengan penggunaan lambang-lambang bilangan untuk

penghitungan dan pengukuran, di samping hal lain seperti bahasa,

metode, dan lainnya. Berbeda dengan ilmu sosial yang memiliki

obyek penelahaan yang kompleks dan sulit dalam melakukan

pengamatan, di samping obyek penelaahan yang tak berulang maka

kontribusi matematika tidak mengutamakan pada lambang-lambang

bilangan. Kita akan mempelajari sebuah kelompok sosial dengan

informasi tertentu mengenai perasaan suka dan tidak suka di antara

pasangan manusia. Sebuah grafik adalah suatu bahasa matematis

yang mudah di mana kita dapat mengemukakan struktur semacam itu.

 

C. Statistik

Pada mulanya, kata “statistik” diartikan sebagai “kumpulan

bahan keterangan (data), baik yang berwujud angka (data kuantitatif)

maupun yang tidak berwujud angka (data kualitatif), yang mempunyai

arti penting dan kegunaan besar bagi suatu negara”. Namun pada

perkembangan selanjutnya, arti kata statistik hanya dibatasi pada

kumpulan bahan keterangan yang berwujud angka (data kuantitatif) saja.

Dalam kamus ilmiah populer, kata statistik berarti tabel, grafik,

daftar informasi, angka-angka, informasi. Sedangkan kata statistika

berarti ilmu pengumpulan, analisis, dan klasifikasi data, angka sebagai

dasar untuk induksi.

 

Abraham Demoitre (1667-1754) mengembangkan teori galat atau

kekeliruan (theory of error). Pada tahun 1757 Thomas Simpson

menyimpulkan bahwa terdapat sesuatu distribusi yang berlanjut dari

suatu variabel dalam suatu frekuens

Categories: PENGETAHUAN, EPISTEMOLOGY, LOGIKA

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments