EPISTEMOLOGI

News

TEORI KEBENARAN

Posted by Filsafat Pengetahuan on October 19, 2010 at 6:44 PM

 

TEORI KEBENARAN

=Teori Korespondensi =Teori Koherensi =Teori Pragmatis

Banyak mencuplik buah pikiran “Endang Safiudin”

dalam bukunya : Ilmu, Filsafat dan Agama : PT Bina Ilmu

Pengantar

Apakah kebenaran itu, suatu pertanyaan yang sangat menukiki bila kita sedang mendebatkan masalah. Apakah itu masalah ekonomi hingga politik yang rumit.

Kebenaran acapkali diperdebatkan, namun makna sebenarnya acapkali ditinggal.

“Jika anak kecil digigit anjing maka yang benar anak tersebut harus berganti menggigit anjing”, apakah ini juga suatu kebenaran ??

TEORI KORESPONDENSI TENTANG KEBENARAN

Teori yang pertama ialah teori korespondensi [Correspondence Theory of Truth], yang kadang kala disebut The accordance Theory of Truth. Menurut teori ini dinyatakan bahwa, kebenaran atau keadaan benar itu berupa kesesuaian [correspondence] antara arti yang dimaksud oleh suatu pernyataan dengan apa yang sungguh-sungguh terjadi merupakan kenyataan atau faktanya.

a proposition (or meaning) is true if there is a fact to which it corresponds, if it expresses what is the case

[Suatu proposisi atau pengertian adalah benar jika terdapat suatu fakta yang selaras dengan kenyataannya, atau jika ia menyatakan apa adanya].

"Truth is that which conforms to fact; which agrees with reality; which corresponds to the actual situation."

[Kebenaran adalah yang bersesuaian dengan fakta, yang beralasan dengan realitas, yang serasi (corresponds) dengan situasi actual].

Truth is that which to fact or agrees with actual situation. Truth is the agreement between the statement of fact and actual fact, or between the judgment and the environmental situation of which the judgment claims to be an interpretation."

[Kebenaran ialah suatu yang sesuai dengan fakta atau sesuatu yang selaras dengan situasi aktual. Kebenaran ialah persesuaian (agreement) antara pernyataan (statement) mengenai fakta dengan fakta aktual; atau antara putusan (Judgment) dengan situasi seputar (Enviromental situation) yang diberinya intepretasi.

“if a judgment corresponds with the facts, it is the true; if not, it is false."

[Jika suatu putusan sesuai dengan fakta, maka dapat dikatakan benar ; Jika tidak maka dapat dikatakan salah].

Teori korespondensi ini sering dianut oleh realisme/empirisme.

K. Rogers, adalah seorang orang penganut realisme kritis Amerika, yang berpendapat bahwa : keadaan benar ini terletak dalam kesesuaian antara "esensi atau arti yang kita berikan" dengan "esensi yang terdapat didalam obyeknya".

"Epistemological realism.The view that there is an independent reality apart from minds, and we do not change it when we come to experience or to know it; sometimes called objectivism"

[Realisme epistemologis berpandangan, bahwa terdapat realitas yang independence (tidak tergantung), yang terlepas dari pemikiran; dan kita tidak dapat mengubahnya bila kita mengalaminya atau memahami. Itulah sebabnya realisme epitemologis kadangkala disebut obyektivisme]. Dengan perkataan lain: realisme epistemologis atau obyektivisme

berpegang kepada kemandirian sebuah kenyataan tidak tergantung pada yang di luarnya.

Dalam perpustakaan Marxis dapat dibaca :

If our sensations, perception, notions, concepts and theories corresponds to objective reality, if reflect if faithfully, we say that they are true, while true statement, judgment or theories are called the truth.

[Jika sensasi kita, persepsi kita, pemahaman kita, konsep dan teori kita bersesuaian dengan realitas obyektif, dan jika itu semua mencerminkannya dengan cermat, maka kita katakan itu semua benar: pernyataan, putusan dan teori yang benar kita sebut kebenaran].

"Dialectical materialism understands truth as that knowledge of an objective/ with correctly reflect this objectives, i.e. correspond to it"

[Materialisme dialektika memahamkan kebenaran sebagai pengetahuan tentang sesuatu obyek, yang mencerminkan obyek tersebut secara tepat, dengan perkataan lain, bersesuaian dengan obyek yang dimaksud]

"For example, the scientific propositions that "Bodies consists of atoms", that the " Earth prior to man", that "the people are makers of history", etc. are true

"[misalnya pengertian ilmiah bahwa "tubuh terdiri dari atom-atom"' bahwa "Bumi lebih dahulu ada dari pada manusia", bahwa "rakyat adalah pembuat sejarah", dan lain sebagainya, adalah benar].

In contrast to idealism, dialectical materialism maintains that truth is objective. Since truth reflects the objectively existing word, its content does not depend on man’s consciousness.

Objective truth, LENIN Wrote, is the content of our knowledge, which neither on mans, nor on mankind. The content of truth is fully determined by the objective process it reflects

Berlawanan dengan idealisme, maka meterialisme dialektika mempertahankan bahwa kebenaran adalah obeyektif. Selama kebenaran mencerminkan dunia wujud secara obyektif, maka wujudnya itu tergantung pada kesadaran manusia. Kebenaran obyektif, tulis Lenin, adalah kandungan pengetahuan kita yang tidak tergantung, baik kepada manusia maupun kepada kemanusiaan. Kandungan kebenaran sepenuhnya ditentukan oleh proses abyektif yang tercerminkannya.

LENIN Menulis:

"From live contemplation to abstract thinking and from that to practice, such is the dialectical process of cognizing the truth, of cognizing objective reality.

[Dari renungan yang hidup menuju ke pemikiran yang abstrak, dan dari situ menuju praktek, demikianlah proses dialektis tentang pengenalan atas kebenaran, atas realitas obyektif].

Selajunya kaum marxist mengenal dua macam kebenaran, yaitu (a) kebenaran mutlak dan (b) kebenaran relatif]

"Absolute truth is objective truth in its entirety, an absolutely exact reflection of reality"

[Kebenaran mutlak ialah kebenaran yang selengkapnya obyektif, yaitu suatu pencerminan dari realitas secara pasti mutlak]

" Relative truth is incomplete correspondence of knowledge to reality. Lenin called this truth the relatively true reflection of an object which is independent of man"

[Kebenaran relatif adalah pengetahuan mengenai relaitas yang kesesuaianya tidak lengkap, tidak sempurna. Menurut Lenin, kebenaran relatif adalah pencerminan dari obyek yang relatif benar, yang terbatas dari manusia].

"Every truth is objective truth”

[setiap kebenaran adalah kebenaran yang obyektif].

"Relative truth is imperfect, incomplete truth.

[kebenaran relatif adalah kebenaran yang tidak sempurna, tidak lengkap]

SIMPULAN :

Mengenai Teori Korespondensi tentang kebenaran dapat disimpulkan sebagai berikut :

Kita mengenal dua hal, yaitu : pertama pernyataan dan kedua keyataan. Menurut teori ini kebenartan iaah kesesuaian antara pernyataan tentang sesuatu dengan kenyataan sesuatu sendiri.

Sebagai contoh dapat dikemukakan : " Surabaya adalah Ibu Kota Provinsi Jawa Timur sekarang" ini adalah sebuah pernyataan; dan apabila kenyataannya memang Surabaya adalah Ibu Kota Provinsi Jawa Timur ", pernyataan itu benar, maka pernyataan itu adalah suatu kebenaran.

Rumusan teori korespondensi tentang kebenaran itu bermula dari ARIESTOTELES, dan disebut teori penggambaran yang definisinya berbunyi sebagai berikut :

“VERITAS EST ADAEQUATIO INTELCTUS ET RHEI”

[kebenaran adalah persesuaian antara pikiran dan kenyataan].

TEORI KONSISTENSI TENTANG KEBENARAN

Teori yang kedua adalah Teori Konsistensi.

The Consistence Theory Of Truth, yang sering disebut dengan The coherence Theory Of Truth.

 According to this theory truth is not constituted by the relation between a judgment and something else, a fact or really, but by relations between judgment themselves "

[Menurut teori ini kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan (judgment) dengan sesuatu yang lalu, yakni fakta atau realitas, tetapi atas hubungan antara putusan-putusan itu sendiri].

Dengan demikian, kebenaran ditegakkan atas hubungan antara putusan yang baru dengan putusan-putusan lainnya yang telah kita ketahui dan akui benarnya terlebih dahulu.

Jadi suatu proposisi itu cenderung untuk benar jika proposisi itu coherent [saling berhubungan] dengan proposisi yang benar, atau jika arti yang terkandung oleh proposisi tersebut koheren dengan pengalaman kita.

" A belief is true not because it agrees with fact but because it agrees, that is to say, harmonizes, with the body knowledge that we presses”

[Suatu kepercayaan adalah benar, bukan karena bersesuaian dengan fakta, melainkan bersesuaian/selaras dengan pengetahuan yang kita miliki]

"It the maintained that when we accept new belief as truths it is on the basis of the manner in witch they cohere with knowledge we already posses”

[Jika kita menerima kepercayan-kepercayaan baru sebagai kebenaran-kebenaran, maka hal itu semata-mata aas dasar kepercayaan itu saling berhubungan [cohere] dengan pengetahuan yang kita miliki]

“A judgment is true it if consistent with other judgment that are accepted or know to be true. True judgment is logically coherent with other relevance judgment”

[suatu putusan adalah benar apabila putusan itu konsisten dengan putusan-putusan yang terlebih dahulu kita terima, dan kita ketahui kebenarannya. Putusan yang benar adalah suatu putusan yang saling berhubungan secara logis dengan putusan-putusan lainnya yang relevance]

Jadi menurut teori ini , putusan yangh satu dengan puitusan yang lainnya saling berhubungan dan saling menerangkan satu sama lainnya.

"The truth is systematic coherence

[Kebenaran adalah saling hubungan yang sistematik]

" Truth is consistency”

[kebenaran adalah konsistensi, selaras, kecocokan]

Selanjutnya teori konsistensi/koherensi ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

Kebenaran adalah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan lainnya yang lebih dahulu kita akui/ terima/ ketahui kebenarannya.

Kedua:

Teori ini dapat juga dinamakan teori justifikasi tentang kebenaran, karena menurut teori ini suatu putusan dianggap benar apabila mendapat justifikasi putusan-putusan lainnya yang terdahulu yang sudah dikatahu kebenarannya.

Misalnya:

Bungkarno, adalah ayahanda Megawati Sukarno Puteri, adalah pernyataan yang kita ketahui, kita terima, dan kita anggap benar.

Jika terdapat penyataan yang koheren dengan pernyataan tersebut diatas, maka pernyataan ini dapat dinyatakan Benar. Kerena koheren dengan pernyataan yang dahulu:

Misalnya.

- Bungkarno memiliki anak bernama Megawati Sukarno Putri

- Anak-anak Bungkarno ada yang bernama Megawati Sukarno Putri

- Megawati Sukarno Putri adalah keturunan Bungkarno

- Dll

TEORI PRAGMATISME

Teori ketiga adalah teori pragmatisme tentang kebenaran, the pragmatic [pramatist] theory of truth. Pragmatisme berasal dari bahasa Yunani pragma, artinya yang dikerjakan, yang dapat dilaksanakan, dilakukan, tindakan atau perbuatan.

Falsafah ini dikembangan oleh seortang orang bernama William James di Amerika Serikat.

Menurut filsafat ini dinyatakan, bahwa sesuatu ucapan, hukum, atau sebuah teori semata-mata bergantung kepada asas manfaat. Sesuatu dianggap benar jika mendatangkan manfaat.

Suatu kebenaran atau suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan manusia. Teori, hipotesa atau ide adalah benar apabila ia membawa kepada akibat yang memuaskan, jiak membawa akibat yang memuaskan, dan jika berlaku dalam praktik, serta memiliki niali praktis, maka dapat dinyatakan benar dan memiliki nilai kebenaran.

Kebenaran terbukti oleh kegunannya, dan akibat-akibat praktisnya. Sehingga kebenaran dinyatakan sebagai segala sesuatu yang berlaku.

Menurut William James “ ide-ide yang benar ialah ide-ide yang dapat kita serasikan, jika kita umumkan berlakunya, kita kuatkan dan kita periksa.

Menurut penganut praktis, sebuah kebenaran dimaknakan jika memiliki nilai kegunaan [utility] dapat dikerjakan [workability], akibat atau pengaruhnya yang memuaskan [satisfactory consequence].

Dinyatakan sebuah kebenaran itu jika memilki “hasil yang memuaskan “[satisfactory result], bila :

Sesuatu yang benar jika memuaskan keinginan dan tujuan manusia

Sesuatu yang benar jika dapat diuji benar dengan eksperimen

Sesuatu yang benar jika mendorong atau membantu perjuangan biologis untuk tetap ada.

RUJUKAN YANG DIGUNAKAN:

   1. Alex Lanur OFM [1993] Hakikat Pengertahuan dan Cara Kerja Ilmu-ilmu : Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta--91:99

   2. Alfon Taryadi [1989] Epistemologi Pemecahan Masalah {menurut Karl. R. Popper] : Penerbit PT Gramedia Jakarta--Bab III 67:89

   3. Amsal Bakhtiarr [2004] Filsafat Ilmu : PT Raja Grafindo Persada Jakarta--Bab III 85 : 1224

   4. Endang Safiudin [1987] Ilmu, Filsafat dan Agama : PT Bina Ilmu--Bab III 85 : 1224

      Jujun Suriamantri [2004] Ilmu Dalam Perpektif [Sebuah kumpulan karangan tentang hakikat ilmu] : Yayasan Obor Indonesia Jakarta---Bab IV 61:70

   5. --------------------- [2004] Filsafat Ilmu [Sebuah Pengantar Populer] : Yayasan Sinar Harapan Jakarta---ab V 165:211,

   6. ---------------------[2004] Ilmu Dalam Perpektif Moral, Sosial dan Politik Penerbit Gramedia JakartaBab 10 74:87 Bab XI 81:87

   7. Mohammad Muslih [[2004] Filsafat Ilmu [Kajian atas asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengethuan] : Penerbit Belukar Bab V 89:119

   8. Mohammad Zaenudin[2003] Menggoyang Pikiran [ Menuju Alam Makna] : Penerbit Pustaka Remaja ---Bab VII 62 : 79

      JIKA ANDA MEMBUTUHKAN BAHAN TAYANG BERBENTUK POWER POINT KLIK "TEORI KEBENARAN"

 

Hakikat Teori Kebenaran dalam Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Jika kita sekarang mempelajari berbagai hal berkaitan tentang ilmu pengetahuan, maka kita tentu harus ingat pula keberadaan filsafat sebagai induk dari ilmu pengetahuan itu. Hal itu dapat diyakini kebenarannya karena filsafat melahirkan berbagai ilmu pengetahuan yang ada sampai dengan sekarang ini. Sebagai induk dari ilmu maka filsafat berusaha untuk menjawab serta memahami atau mengerti tentang makna kehidupan dan nilai-nilainya.

Pemaknaan nilai-nilai yang ada di dunia ini menggunakan bahasa sebagai alat untuk menyampaikan kebenaran dan nilai-nilai. Gie (1997) menjelaskan linguistik dan dimensi linguistik dari ilmu dapat dinyatakan dengan tinjauan linguistik atau kebahasaan, kemudian orang dapat memandang ilmu sebagai bahasa buatan.

Sebagai bukti kebenaran tentang eksistensi bahasa (linguistik) yang dinyatakan dalam kajian filsafat dikemukakan Suriasumantri (2000) bahwa “Batas bahasaku adalah batas duniaku.” Hal ini dapat dimaknai bahwa tanpa kemampuan berbahasa, manusia tidak akan mungkin mengembangkan kebudayaannya, sebab tanpa bahasa maka hilanglah kemampuan untuk meneruskan nilai-nilai dari generasi satu ke generasi berikutnya. Dinyatakan pula bahwa “tanpa bahasa” simpul Aldous Huxiey maka manusia tidak jauh berbeda dengan anjing atau monyet.”

Sehubungan dengan hakikat teori kebenaran dalam bahasa, penulis berupaya untuk mengimlementasikannya dalam pembelajaran. Adapun beberapa hakikat teori kebenaran dalam bahasa itu penulis tuangkan dalam beberapa bagian yaitu hakikat kebenaran, teori kebenaran koherensi dalam bahasa Indonesia, teori kebenaran korespondensi dalam bahasa Indonesia, dan teori kebenaran pragmatis dalam bahasa Indonesia.

Hakikat Kebenaran

Setiap orang menginginkan suatu kebenaran. Kebenaran menjadi sebuah kebutuhan pokok untuk meyakinkan seseorang ketika diambang sebuahkebingungan dari sebuah konsep yang masih meragukan. Lalu apa sebenarnya sebuah kebenaran itu? Secara jelas Depdikbud (1995) menyatakan bahwa kebenaran merupakan keadaan (hal dan sebagainya) yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya atau sesuatu yang sungguh-sungguh. Dari penjelasan itu dapat dikatakan bahwa kebenaran adalah soal kesesuaian sebagai kenyataan yang sesungguhnya. Benar atau salahnya sesuatu adalah masalah sesuai atau tidaknya tantang apa yang dikatakan dengan kenyataan sebagaimana adanya. Pandangan lain tentang kebenaran dinyatakan oleh Mudyahardjo (2002:49) bahwa kebenaran terletak pada kesesuaian antara sujek dan objek, yaitu apa yang diketahui subjek dan realita sebagaimana adanya. Misalnya, setiap orang mengatakan bahwa “matahari merupakan sumber energi” adalah suatu pernyataan yang benar, karena pernyataan itu dapat didukung oleh kesesuaian terhadap kenyataan.

Teori Kebenaran Koherensi dalam Bahasa Indonesia

Bila uraian kebenaran telah banyak diungkapkan pada bagian sebelumnya, maka koherensi atau tepatnya teori koherensi dalam bahasa menjadi pembahasan yang patut kita pahami. Sebuah koherensi yang diungkapkan dalam sebuah bahasa Indonesia tentu berpijak dari sebuah pernyataan atau ungkapan bahwa suatu yang dinyatakan akan dianggap benar jika pernyataan itu bersifat koheren bahkan konsisten dengan pernyataan sebelumnya. Hal ini dengan tegas dinyatakan oleh Suriasumantri (2000:59) bahwa teori koherensi adalah terori yang berlandaskan pada logika deduktif yang menyatakan bahwa suatu pernyataan yang dinyatakan benar jika bersifat koheren dan konsisten. Contoh terdapat pernyataan bahwa “setiap manusia akan mati” adalah suatu pernyataan yang benar. Pernyataan yang sering diungkapkan kesimpulan silogisme berikut ini dapat menjadi contoh yang lain, yaitu:

Premis Mayor : Setiap manusia akan mati

Premis Minor : Marjono seorang manusia.

Entimennya : Marjono akan mati karena dia seorang manusia.

Sebagai bagian dari ilmu semantik, medan makna dalam sebuah bahasa Indonesia juga dapat menjadi implementasi dari teori kebenaran koherensi. Secara rinci dapat dinyatakan bahwa kata dapat memiliki acuan yang sama serta memiliki simpulan yang sama. Medan makna dapat digunakan untuk mengetahui identitas suatu kata berdasarkan fitur-fitur yang membentuknya secara menyeluruh, sehingga seseorang yang mencari sebuah istilah dapat menemukan gambaran makna secara semantik dengan sempurna. Contoh: kata mati, mampus, wafat, gugur, tewas, berpulang kerahmatullah memiliki kesimpulan makna yang sama yaitu sudah hilang nyawanya atau tidak hidup lagi.

Teori Kebenaran Korespondensi dalam Bahasa Indonesia

Seiring dengan pernyataan dalam hakikat sebuah kebenaran, teori kebenaran kerespondensi ini lebih menekankan pada pernyataan yang sifatnya koheren dan konsisten. Betrend Rusell (1872-1970) menyatakan bahwa teori kebenaran korespondensi adalah suatu pernyataan yang dianggap benar jika materi pengetahuan yang terkandung di dalamnya menyatakan adanya korespondensi (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan yang dimaksud. Jika ada pernyataan bahwa ibu kota negara Indonesia adalah Jakarta, maka pernyataan itu benar adanya karena sesuai dengan objek bahwa Jakarta merupakan ibu kota negara Indonesia.

Mencermati penjelasan itu dapat dikatakan bahwa sebuah kebenaran korespondensi merupakan kebenaran yang sungguh-sungguh merupakan fakta yang tidak dapat dipungkiri kebenarannya karena adanya kesesuaian dengan kenyataan yang diketahuinya.

Sebagai wujud yang nyata dalam implementasi teori kebenaran korenpondensi dalam bahasa Indonesia dapat dicontohkan bahwa setiap kata memiliki dua demensi yaitu bentuk kata itu sendiri serta makna dari kata yang dibentuk. Sebagai contoh kata garam yang memiliki struktur dari rangkaian fonem [g], [a], [r], [a], [m] yang maknanya senyawa kristal NaCL yang merupakan klorida dan sodium, dapat larut dalam air, dan asin rasanya (Debdikbud, 1995). Demikian halnya dengan semua kata pasti mempunyai struktur dan makna yang berbeda-beda. Oleh karena itu, setiap kata mempunyai korespondensi dengan struktur maupun makna kata.

Teori Kebenaran Pragmatis dalam Bahasa Indonesia

Pencetus teori kebenaran pragmatis dalam bahasa adalah Charles S. Peirce (1839-1914). Pada intinya teori beranggapan bahwa kebenaran atau pernyataan dapat diukur dengan kriteria tertentu. Berdasarkan fungsinya teori pragmatis bersifat relatif, artinya teori itu dianggap benar bila belum ditemukan teori baru. Dalam teori ini pengumpulan fakta yang mendukung teori tertentu diproses dengan pembuktian secara empiris. Teori ini menyatakan bahwa sesuatu dianggap sebagai hal yang benar jika berfungsi secara praktis terhadap manusia dalam kehidupan sehari-hari. Contoh: jika dalam pembelajaran bahasa terdapat teori A kemudian dikembangkan dengan teknik B sebagai peningkatan aplikasi teori kebahasaan A itu maka teori A dianggap sebagai kebenaran karena berguna dalam aplikasi kehidupan berbahasa.

Secara umum teori pragmatis ini sering diaplikasikan dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Misalnya, guru mendapatkan kesulitan ketika siswa mengalami masalah dalam pengungkapan gagasan dalam belajar menulis. Setelah beberapa metode digunakan ternyata tidak mampu meningkatkan kemampuan menulis dengan baik. Ketika mencermati banyaknya cerita sinetron yang saat ini digemari oleh siswa, maka guru yang bersangkutan menceritakan sebagian cerita sinetron yang sangat digemari siswa untuk kemudian siswa meneruskan cerita yang dipenggal oleh guru. Hasilnya ternyata siswa dapat mengungkapkan gagasannya melalui menulis lanjutan cerita dengan kemampuan bahasanya sendiri. Hal inilah yang kemudian menjadi acuan sempurna yang kini dikembangkan dalam metode pembelajaran contextual teaching and learning (CTL). Karena metode pembelajaran serta teori selalu berkembang, tidak mustahil bila teori ini kemudian akan ditinggalkan oleh guru apabila di kemudian hari muncul teori baru yang lebih efektif dalam pembelajaran menulis.

Penutup

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa kebenaran ilmu pengetahuan menjadi dasar ketika kita hendak mendalami suatu ilmu pengetahuan. Kebenaran menjadi pembuktian akan keyakinan seseorang karena merupakan kenyataan yang dapat dibuktikan.

Ketiga teori itu, adalah teori kebenaran koherensi, teori kebenaran korespondensi, dan teori kebenaran pragmatris dalam bahasa Indonesia. Teori ini merupakan terori-teori yang dapat dijadikan acuan dalam memulai memecahkan persoalan khususnya dalam kebahasaan.

Daftar Pustaka

Depdikbud. 1995. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Gie, The Liang. 1997. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty.

Mudyaharjo, Redja. 2002. Filsafat Ilmu Pendidikan Suatu Pengantar. Bandung: PTRemaja Rosdakarya.

Suriasumantri, Jujun S.. 2000. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

 

 


Categories: KEBENARAN

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments