EPISTEMOLOGI

News

Epistemologi Pendidikan Islam

Posted by Filsafat Pengetahuan on October 13, 2010 at 7:47 AM

 

JURNALPEMIKIRAN ALTERNATIF PENDIDIKAN

 

INSANIA|Vol. 13|No.3|P3M STAIN Purwokerto | Musnur Hery 1 Sep-Des 2008|453-473

 

Epistemologi Pendidikan Islam:

Melacak Metodologi Pengetahuan Perguruan Tinggi Islam Klasik

 

Musnur Hery *)

 

&#he Surpluss ofMeaning, Yogyakarta: Ircisod, 2002. Hermeneutika, Terjemahan dariRichard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermarcher,Dilthey, Heidegger and Gadamer, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.

0;

Abstract: Islamic highercollege not only limited to higher education that famous at Islamic historylike madrasah (e.g. Nizamiyah), and al-Jami’ah (e.g. al-Azhar). Yet, Islamichigher college is the implementation of learning process that can becategorized in higher education stage, that being practiced in Moslem society,even still in non-formal or informal form before madrasah existence. Severalepistemologies branch indeed take place at formal institution, while someepistemologies branch theoretically applied at formal institution, but it’spracticed at non-formal institutions. These non-formal institutions were stillreflecting Islamic higher education level. Keywords: Islamic highercollege, madrasah, al-Jami’ah, non-formal, informal, epistemology.

 

Harus ditegaskanterlebih dahulu, sebelum mengulas epistemologi di perguruan tinggi Islam, bahwayang dimasudkan dengan perguruan tinggi Islam tidak hanya sebatas lembagapendidikan tinggi yang sudah masyhur dalam sejarah pendidikan Islam sepertimadrasah (misalnya Nizamiyah), dan al- Jami’ah (seperti al-Azhar). Dua lembagaterakhir ini merupakan pengembangan selanjutnya dari pendidikan tinggi Islam.Namun, perguruan tinggi Islam adalah pelaksanaan proses belajar-mengajar yangdapat dikategorikan dalam jenjang pendidikan tinggi, yang dipraktikkan dalammayarakat Islam, meskipun masih dalam bentuk yang non-formal atau informalsebelum kehadiran madrasah.

 

Hal ini berarti,sebagaimana yang dikatakan Bayard Dodge, proses belajar-mengajar yang masukkategori jenjang pendidikan tinggi dalam lembaga masjid, majlis maupun halaqahataupun di lembaga lembaga lain dapat dikategorikan sebagai perguruan tinggiIslam. Penegasan ini dirasakan perlu karena memang yang menjadi fokus telaahbukanlah persoalan manajemen, organisasi dan profesionalisme kelembagaan,melainkan adalah bagaimana sumber pengetahuan di perguruan tinggi tersebut?Cara memperoleh pengetahuan tersebut serta pengembangannya.

 

Epistemologiyang applicable dalam perguruan tinggi Islam ditengarai berlangsungdalam dua mainstream. Beberapa cabang epistemologi memang berlangsung dilembaga formal, sementara ada cabang epistemologi yang hanya secara teoretikditerapkan di lembaga formal. Namun demikian, secara praktik penerapannya adadi lembaga-lembaga non-formal, dan tetap mencerminkan jenjang pendidikan tinggiIslam.

 

Telaahepistemologis pendidikan tinggi Islam klasik menghasilkan corak dan metodologi

epistemologisebagai berikut.

 

A. Sumber Pengetahuan

a. Rasio(Rasionalisme/ al-Bayan))

b. Indera(Empirisme/al-Burhan))

c. Intuisi(Intuisionisme/al-Irfan)

d. Teks(Hermeneutik/al-Ta’wil)

 

B. Cara perolehan pengetahuan

a. Rasionalisme

1. Curiosity

2.Skeptisisme/Doubtful

3. Debat/Munadzarah

b. Empirisme

1. Verifikasi

2. Eksperimen

3. Objektifikasi

4. Praktikum

c. Intuisi

1. Riyadhah

2. Uzlah

3. Zikr/Tarekat

d. Hermeneutika

1. Interpretasi

2. Understanding

3. Eksplanasi

4. Metodologiinterpretasi

 

Rasionalisme

 

Rasio atau nalarmemang merupakan sumber pengetahuan yang paling fundamental dalam jenjangpendidikan tinggi Islam klasik. Studi keislaman pada masa Islam klasik diawalidan terinspirasi oleh penggunaan nalar. Nalar dipakai tidak hanya sebagaiwahana memahami sesuatu atau ilmu pengetahuan, namun juga penemuan suatu teoripengetahuan dan pengembangannya lebih lanjut. Banyak bukti historis yangmenunjukkan studi Islam awal memanfaatkan rasio sebagai sumber penemuan danpengembangan pengetahuan. Wasil ibn Atho’ dengan penggunaan nalarnya menemukanteori teologis terbaru tentang konsep eksistensi manusia yang wafat sebelumdatangnya

wahyu yangberbeda dari apa yang didapatinya dari gurunya Hasan Basri.

 

Mayoritassejarawan melihat bahwa the golden age of Islam dan sumbangan Islam yangterbesar bagi renaissance Eropa adalah akibat kebebasan berpikir danberfilsafat (rasionalisme) dalam era Islam klasik. Terbentuknya faham rasionalMu’tazilah dengan perangkat logika dan kluster-kluster filsafatnya melengkapirintisan para filosuf-filosuf muslim sebelumnya. Filosuf-filosuf muslimtersebut, seperti al Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, bahkan sang Averroisme dalammembentuk atmosfir kebebasan berpikir dan berpegetahuan dalam Islam yang tidakdidapati dalam dunia Barat dan Kristen.

 

Nalar tidakhanya identik dengan faham rasional seperti Mu’tazilah di atas. Melaluiperspektif yang berbeda (rada literalis), Ibn Hazm, memanfaatkan metodologirasional dalam memahami teologi Islam. Dominasi rasio tidak pula hanya sebatasaspek teologi seperti contoh di atas serta banyak contoh lainnya yang tidakmungkin disebutkan di sini. Penggunaan rasio juga menjadi bagian darimetodologi pengetahuan dalam disiplin ilmu lainnya. Dalam kosmologi ataumetafisika contohnya, apa yang digagas para filosof muslim awal tentang prosespenciptaan alam, manusia, hakikat jiwa, negara, dan kenabian mulai darial-Kindi hingga Ibn Rusyd memperlihatkan bahwa rasio memegang peranan utama.Hal yang tidak beda juga akan didapati secara jelas dalam metodologi fiqh danUshul Fiqh. Tidak bisa dipungkiri produk pemikiran imam-imam mazhab dalamaliran fiqh, meskipun bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah, dipahami dandianalisis secara rasional. Bahkan, salah satu dari empat imam besar, ImamHanafi, diberi label sebagai ahl al-Ra’yu atau mazhab fiqh rasional.

 

Dalam disiplinkeilmuan, Ushul fiqh lebih kentara lagi. Metodologi Istinbath danterm-term penetapan hukum dalam ushul fiqh dapat dikatakan keseluruhannyamemanfaatkan nalar sebagai sumber istinbath. Beberapa kaidah dan term istinbathberikut akan memperlihatkan kecenderungan tersebut.

1. Mafhumal-muawafaqah

2. Mafhumal-mukhalafah

3. Al-Darurattubihu al-mahdhurat

4. La dara waladirara

5. Dar’u al- mafasidmuqaddam ala jalb al-Masalih

6. Al-Adahmuhakkamah

7. Al-Umuru bimakasidiha

8. Al-Yaqinu layuzalu bi al-Asyakk

9. Al-amr bial-Syayi amr bi wasailihi

 

Secara umum,keseluruhan materi kurikulum yang diajarkan pada jenjang pendidikan tinggiIslam klasik, selain dari tiga materi di atas, tidak bisa dilepaskan dari rasiosebagai sumber dan metodologi pengetahuan. Baik materi-materi yang diajarkan diperguruan tinggi madrasah Nizamiyah, madrasahmadrasah lainnya, Toledo, Cordova,al-Azhar maupun materi-materi pendidikan tinggi sebelumya seperti di masjid,majlis maupun lembaga-lembaga privat lainnya seperti di rumah ataupun di istanahampir tidak bisa menafikan nalar atau rasio baik sebagai sumber pengetahuanmaupun metodologi.

 

Misalnya,kurikulum di lembaga formal:

1. Bahasa Arab

2. Grammar

3. Retorika

4. Literaturatau filologi

5. Qiraatal-Qur’an

6. Eksegesi atautafsir al-Qur’an

7. Hadis

8. Fiqh

9. Ushul Fiqh

10. Matematika

11. Al-Faraidh

12. Logika2

 

Keseluruhanmateri ini berpusar dan berkembang pesat dari poros nalar, bahkan untuk tigamateri terakhir karena benar-benar mengedepankan nalar, disebut Dodge sebagai rationalsciences.3

 

Begitu puladengan ilmu-ilmu yang diajarkan di lembaga-lembaga privat seperti;

1. filsafat,

2. astronomi,

3. etika,

4. oratori,

5. puisi,

6. filsafatMoral,

7. mengarang.

 

Hampirdipastikan berkembang melalui nalar.

 

Bila dilihatsecara seksama, struktur fundamental keilmuan dari kurikulum yang sudahdisebutkan di atas–baik yang diajarkan secara formal di lembaga-lembagapendidikan tinggi Islam maupun di lembaga privat, namun bermuatan jenjangpendidikan tinggi–akan terlihat beberapa karakter atau elemen yang tipikaldengan optimalisasi nalar atau rasio seperti;

1. logika,

2. analogi,

3. pemahamanspekulatif, dan

4. refleksi.

 

Keempat elemenini selalu melekat dalam transformasi pengetahuan pendidikan tinggi Islamklasik, baik tenaga pengajar maupun mahasiswa menggunakan ke empat kluster diatas baik dalam memberikan pengetahuan maupun dalam menerima pengetahuantersebut. Para mahasiswa akan menggunakan logika dan analogi yang tepat dalammemahami apa yang diajarkan dosen mereka. Pada akhirnya, di saat mereka harusmenyimpulkan, mengulangi dan mempresentasikan apa yang mereka peroleh daripengetahuaan yang telah dipresentasikan, maka mereka tidak luput daripenggunaan pemahaman spekulatif dan refleksi rasional.

 

Signal rasiosebagai sumber dan pengembangan pengetahuan jenjang pendidikan tinggi Islamklasik, selain dari bagian mata kuliah yang disebutkan di atas, dapat dipahamipula dari metode-metode dasar rasionalisme yang berlaku dalam prosesbelajar-mengajar materi-materi di atas. Curiosity, Sceptisisme(doubtful) serta deduksi dan induksi, yang dikonsepsi Descartes sebagaifundamen berpikir rasional4adalahbagian dari keseharian proses belajar-mengajar di perguruan tinggi.

 

Rasa ingin tahuadalah hal pertama dan utama dalam massifikasi pengetahuan di dunia Islam eraklasik. Apa yang dilakukan oleh para dosen dan apa yang ditunjukkan oleh minatbesar mahasiswa dari berbagai penjuru merupakan realisasi dari rasa ingin tahuyang begitu besar dari mereka. Gambaran aplikasi pendidikan tinggi Islam klasikberikut mengisyaratkan pemenuhan rasa ingin tahu di kalangan komunitas muslim:

 

1. Menjamurnyalembaga pendidikan tinggi Islam klasik merupakan kesadaran penuh, baik darikalangan masyarakat/maupun stake holder akan betapa urgennyapengetahuan.

 

2. Fenomenakebebasan bagi para mahasiswa untuk memilih dosen yang dipandangnya qualifieduntuk menjadi tenaga pengajarnya. Mahasiswa akan meninggalkan dosen dantempat belajarnya semula dan kemudian pindah ke dosen lain bila dirasakannyasudah tidak memenuhi rasa ingin tahunya.5

 

3. Potensi rasiomemang betul-betul dioptimalkan dalam proses belajar-mengajar. Al-Mawardimenyebutkan bahwa di antara kondisi belajar-mengajar perguruan tinggi Islamklasik adalah; (1) nalar dalam memahami fakta; (2) intelektualitas yangmembentuk gambaran hal yang abstrak; (3) kapabilitas komprehensitas yang begitucepat dalam mengingat dan memahami apa yang diterima.6

 

Begitu pulahalnya skeptisisme atau sikap meragukan akan kebenaran apa yang diperolehsebagai sebuah pengetahuan. Doktrin ajaran Islam yang menyatakan wa la taqfuma laysa laka bihi ilm, atau harus tidak boleh menerima apa adanya atassesuatu yang benar-benar kita tidak mengetahui secara pasti memotivasikomunitas muslim untuk tidak hanya berhenti pada satu pengetahuan dari sumbertunggal. Meragukan apa yang didapati dari sebuah informasi mendorong kaummuslim awal untuk senantiasa bertanya-tanya dan mencari tahu lebih jauhwalaupun harus menempuh perjalanan yang amat jauh. Untuk itulah pencarianpengetahuan ke berbagai pelosok daerah yang dikenal dengan istilah rihlahilmiyah merupakan fenomena lazim dalam jenjang pendidikan tinggi Islam.Orang-orang muslim yang dahaga dan ingin mendapatkan pengetahuan lebih mendalamakan melakukan perjalan jauh, berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya,dari satu majelis, lembaga, masjid ke masjid lainnya, dari satu dosen ke dosenlainnya hanya untuk mencari kebenaran pengetahuan yang diyakininya.

 

Terkhusus dalampola belajar-mengajar, rasa ingin tahu, dan jawaban akan keraguan pengetahuantersebut berlangsung melaui metode induktif dan deduktif yang diterapkan dalamproses transformasi pengetahuan. Para mahasiswa diharuskan mampu untuk menarikkesimpulan umum dari eksplanasi dosen secara partikular dan mampu pulasebaliknya, menguraikan secara rinci gambaran-gambaran umum yang telahdiberikan oleh para dosennya.

 

Benang merahrasio sebagai cara perolehan pengetahuan juga bisa dicermati dari aplikasimetode pembelajaran di jenjang pendidikan tinggi Islam klasik. Setidaknya adatiga metode dominan yang menunjang optimalisasi rasio sebagai cara perolehandan pengembangan pengetahuan:

1. Hapalan(memory/al-hifz)

2. Mudzakarah

3. Munadzarah.

 

Mudhakara adalah metodebelajar dengan cara memperlihatkan hasil hafalan di hadapan para peserta didik.Metode ini mempunyai dwi fungsi; sebagai alat untuk belajar dan menghapalmaterimateri pelajaran yang diharapkan dapat menyegarkan hafalan mereka. Selainitu, mudhakara juga digunakan sebagai tes terhadap pengetahuan pesertadidik yang ingin menyelesaikan studinya. Metode ini biasanya ditentukan dalamkurikulum sastra terutama tata bahasa.

 

Metode lainnyayang berkembang dalam pendidikan Islam klasik adalah munadharah ataudebat (disputation). Terlepas dari kontroversi tentang akar tradisi munadharah,—sebagianmenyebutkan sebagai adopsi umat Islam dari umat lain, sementara lagi menetapkanbahwa ia merupakan praktik yang sepenuhnya produk tradisi Islam—7 yang jelas iamenjadi suatu fenomena menarik dalam sejarah intelektual Islam. Sejarah banyakmencatat tentang cendekiawan muslim yang piawai dalam berdebat seperti ImamSyafi’i, dan dua ilmuwan linguistik Sibawaihi dan al-Kisni,8 dan lainsebagainya. Pendapat yang berbeda-beda, lengkap dengan segala argumentasinya,akan terungkap dalam munadharah ini. Seorang ilmuwan dituntut tidakhanya tahu tentang satu pendapat, tidak pula cukup dengan mengetahui alasanpendukungnya. Ia juga dituntut untuk mengembangkan argumen-argumen baru untukmendukung pendapatnya.

 

Ada beberapafungsi yang didapat dari metode ini. Pada level teori, munadharaah berfungsisebagai teknik pencarian kebenaran. Beberapa ulama semacam al-’Asy’ari,al-Katib, dan al-Ghazali menganggap pencarian kebenaran inilah sebagai alasanutama diselenggarakannya munadharah. Al- ’Asy’ari menyatakan, munadharahadalah salah satu jawaban terhadap perintah al-amr bin al-ma’ruf waal-nahy ‘an al-munkar.9Padalevel yang lebih praktis, munadharah berfungsi sebagai arena pengujiankemampuan. Di sini, kemahasiswaan seorang mahasiswa atau keilmiahan seorangilmuwan akan terlihat dan dapat dibandingkan dengan lawannya. Seseorang akandiakui sebagai “sarjana” bila ia telah mampu melakukan munadharah secarabaik pada bidangnya dengan para ilmuwan lain. Hasil suatu munadharah seringkalidijadikan sebagai tolok ukur kelayakan seseorang untuk satu posisi tertentu,seperti mufti dan guru atau dosen, seperti yang dialami al-Ghazali pada masapemerintahan Nizam al-Muluk.10

 

Dari kesemuametode belajar yang dikembangkan, metode hafalan tampaknya yang terpenting danamat dominan.11Penguasaankognitif menjadi tekanan utama dalam proses balajar mengajar sehingga aspekhafalan tetap terlihat meskipun metode yang digunakan adalah selain metodehafalan.

 

Empirisme

 

Corakepistemologi kedua yang cukup dominan di jenjang pendidikan tinggi Islam klasikadalah empirisme. Corak empirisme ini terlihat secara jelas dalam sumberpengetahuan, cara memperoleh pengetahuan, dan pengembangannya. Hal ini dapatditelusuri baik dari materi atau kurikulum yang ditrasnformasikan,lembaga-lembaga keilmuan, metode perolehan ilmu dan pembelajaran.

 

Empirismemengisyaratkan bahwa bukannya rasio yang menjadi sumber utama pengetahuan,namun panca inderalah yang merupakan sumber utama pengetahuan. Pengetahuan yangdihasilkan oleh nalar dipandang sebagai pengetahuan yang tidak hakiki (semu)dan bersifat abstrak. Pengetahuan yang dihasilkan oleh pengamatan pancainderawilah yang dipandang hakiki karena kasat mata dan dapat dirasakan. Untukitulah pengetahuan ini disebut pengetahuan yang paling objektif dan palingvalid. Ia bersifat empirik atau langsung dapat dirasakan dan diamati olehmanusia. Pengetahuan adalah

hal-hal yangdapat di amati atau didengar, atau dirasakan, dicium dan diraba. Hal itudikarenakan pengetahuan adalah hal-hal yang berhubungan langsung dengan fungsipanca indera, maka tidak pelak lagi pengetahuan adalah produk kontak antarapanca indera dengan alam di sekeliling manusia. Untuk itu, empirisme sangatidentik dengan ilmu-ilmu kealaman (natural sciences) seperti fisika,kimia, biologi, dan sebagainya.

 

Dalam sejarahpendidikan Islam klasik, kemajuan pengetahuan tidak hanya sebataspengetahuanpengetahuan yang bersifat abstrak semata. Akan tetapi, kemajuan ilmupengetahuan juga dalam bidang pengetahuan alam atau fisik. Sejarah mencatatbahwa teori-teori dalam natural sciences banyak dikembangkan olehcendekiawan muslim seperti Ibn Sina dalam kedokteran, al-Khawarizm dalamgeometri, bahkan nama al-Jebra terpatrikan dalam hitungan al-Jabar yang tetapeksis sampai saat ini. Kemajuan ilmu pengetahuan dalam bidang fisik inilah yangmenunjukkan kemajuan peradaban fisik yang melebihi dunia Barat masa itu.

 

Kemajuan ilmupengetahuan alam atau fisik dengan tipologi empirismenya dalam dunia Islammemang dialami di jenjang pendidikan tinggi dikarenakan pada jenjang pendidikantinggilah ilmu-ilmu kealaman ini mulai diperkenalkan dan dikembangkan. Padajenjang pendidikan dasar transformasi ilmu pengetahuan masih berkisar pada ilmudasar dan ilmu keagamaan. Di jenjang pendidikan tinggi inilah alam di sekitarmanusia, baik benda mati maupun hidup ataupun benda-benda yang terlihat diruang angkasa menjadi sumber pengamatan dan analisis para cendekiawan dan paramahasiswa, baik dari kalangan muslim maupun non-muslim. Analisis dilakukantidak hanya sekadar pengamatan sekilas,

namun lebih jauhdilakukan uji coba atau eksperimentasi dalam laboratorium, yang dilakukansecara berulang-ulang sehingga mendapatkan objektivikasi dan verifikasi yangtepat.

 

 Kecenderungan empirisme dapat dilihat darikurikulum jenjang pendidikan tinggi Islam klasik  yakni:

 

1. Matematika;

a. al-Jabar,

b. trigonemetri,dan

c. geometri.

 

2. Sains;

a. kimia,

b. fisika, dan

c. astronomi.

 

3. Kedokteran;

a. anatomi,

b. farmasi,

c. biologi, dan

d. kedokteranspesialis.12

 

4. Pertanian;

a. zoologi.

 

Keseluruhancabang ilmu-ilmu alam (natural sciesces) di atas pada tahap pertamamemang dilakukan secara tutorial, dalam artian bahwa disampaikan oleh seorangdosen melalui perkuliahan yang disampaikan disertai dengan referensi, baik yangditulis langsung oleh dirinya ataupun oleh cendekiawan lain. Pada tahapberikutnya, dilakukan pendalaman materi di bawah bimbingan mahasiswa senioryang kemudian dilanjutkan dengan eksperimentasi, praktik–praktik, dan observasidi laboratorium. Uraian yang diberikan Nekosteen mengenai pola pembelajaranmahasiswa kedokteran dapat dijadikan representasi pola perolehan pengetahuan:

 

Students learndemedical theory and practices interdependently in small classes and, as a rule,under a senior practitioner The most basic aspect of training was clinicalinstruction in hospitals including attendance at operations “and of thosethings that are incumbent upon the professions.” In additio to observation and internship,students attended lectureres given by senior practitioner in their homes or inpublic places. Students questioned their mastered on minute medical andsurgical points with complete freedom, event to point out any fallacies in themaster’s theory. When so corncerned, the teacher was often forced to revise hisoutlook or erote treatise proving his posistion againts objections. …… Themethodology of instruction and learnng stated here regarding medical studentswas, with some modifications, the methodology of higher education in all branchesof study in Islamic colleges and universities.13

 

Dari uraianNekosteen di atas terlihat ada beberapa metode empirisme yang dikembangkandalam

ilmu-ilmu alam(khususnya dalam bidang kedokteran) yaitu:

1. Diagnosa;yakni identifikasi keseluruhan data yang tampak dari apa yang diamati dalamalam di sekeliling kita.

2. Verifikasi;mengukur kebenaran dari teori-teori yang sudah didapati. Verifikasi lebih lazimdalam keilmuan matematika dengan serangkaian tes yang dilakukan atasperhitungan angka.

3. Eksperimen;melakukan percobaan atau uji coba terhadap fokus yang diteliti atau dibedah denganpenerapan teori-teori lama ataupun teori baru ke dalam laboratorium. Eksperiementasi,untuk mendepatkan ketepatan hasil yang meyakinkan, harus dilakukanberulang-ulang.

4.Objektifikasi; uji coba atau eksperimentasi, selain berguna untuk mendapatkanteori baru dari pengamatan alam, juga berguna untuk mengukur sejauhmanakeobjektifan teori lama.

5. Praktik;dalam ilmu-ilmu kealaman, praktik merupakan hal yang mutlak diperlukan. Praktikdilakukan sebagai pelengkap eksperimentasi yang dilalui oleh mahasiswa. Praktikdiperlukan untuk memberikan pengalaman bagi para mahasiswa atas segala teoripengetahuan yang telah diperolehnya. Praktik lebih bernuansa “hidup” daripadaeksperimentasi yang terbatas dilakukan  dilaboratorium karena praktik dilakukan berhadapan langsung dengan masyarakat, dimana persoalan ilmu kealaman atau fisik menjadi fokus utama telaah dankemampuan yang akan dicapai.

 

Keseluruhanmetode empirik di atas sesungguhnya tidak dapat diterapkan dalamlembaga-lembaga pendidikan tinggi yang telah ada pada masa Islam klasik sepertimasjid, majlis, dan sebagainya. Hal ini dikarenakan dibutuhkan konsentrasi yangprima serta peralatan khusus dan prosedur yang tidak lazim maka untuk kebutuhandi atas diperlukan tempat khusus. Itulah sebabnya komunitas muslim, khususnyapemimpin dan penguasa klasikal Islam, membangun lembaga-lembaga khusus yang memangdimaksudkan sebagai tempat penggodokan metodologi empirisme dan pengembanganilmuilmu alam (fisik). Di antara lembaga-lembaga tersebut adalah sebagaiberikut.

 

Observatorium

 

Observatoriummerupakan ruangan atau lembaga khusus yang diperuntukkan untuk kegiatan observasiruang angkasa atau jagad raya yang sangat diperlukan dalam bidang keilmuanastronomi. Observatorium tumbuh di dalam dunia Islam tidak secepat madrasah,walaupun kebutuhan umat Islam akan lembaga ini dinilai cukup berarti terutamauntuk menentukan awal bulan dan arah kiblat. Observatorium di dalam sejarahIslam pertama kali didirikan oleh al-Ma’mun di Baghdad pada tahun 213 H. Padaabad-abad berikutnya, observatorium mendapat patronase dari para penguasamengingat banyaknya peminat dalam bidang ini.

 

Pada abad ke-7H, observatorium besar didirikan oleh Holagoh di Maragoh. Observatorium ini dilengkapidengan perpustakaan dan peralatan astronomi yang cukup lengkap. Direkturnyaadalah Nasiruddin al-Tusi, wafat pada tahun 672 H. Seorang penemu penyebabterjadinya pelangi, Kutubuddin al-Sirozi pernah mengembangkan karirnya di sini.14 Ilmu tentangastronomi ini tidak mungkin untuk diajarkan di madrasah karena ia bersifatpraktis dan membutuhkan peralatan khusus. Pengembangan observatorium inimencapai puncaknya pada sekitar abad ke-9 H di daerah Timur (Transoxiana).

 

Bimaristan

 

Bimaristan ataurumah sakit pada abad pertengahan, di samping berfungsi sebagai lembaga pengobatanjuga sebagai lembaga pendidikan kedokteran dari sisi praktisnya. Walaupun ilmu kedokterandiajarkan di madrasah-madrasah, namun hal itu sebatas teoritis saja, samahalnya dengan perpustakaan. Sementara itu, di rumah sakit, mahasiswa mendapatteori dan praktik. Para khalifah Abbasiyah mengatur pendidikan kedokterandengan mewajibkan para mahasiswa setelah mendapatkan teori dan praktik medisuntuk menulis karya ilmiah sebagai syarat untuk mendapatkan ijazah dan membolehkanmembuka praktik.15

 

Rumah sakitpertamakali didirikan dalam Khan oleh Khalifah Umayyah Walid ibn Abd al-Malik. Biasanya,rumah sakit tersebut dikepalai oleh para ahli kedokteran terbaik. Al-Razi,misalnya, pernah memimpin rumah sakit di kota Rai, kemudian di Baghdad. Disamping membuka praktik, ia juga memberikan kuliah di lembaga-lembaga tersebut.16 Dengan dwifungsiini, rumah sakit Islam pada masa klasik telah melahirkan tokoh-tokoh sepertiIbn Sina, al-Razi, dan Ibn al-Baithar yang meninggalkan karya-karya besarsebagai saksi keseriusan ilmiah mereka.17

 

Laboratorium

 

Hampirdipastikan di setiap lembaga pendidikan tinggi Islam klasik, dikarenakankepentingan ilmuilmu kealaman, memiliki laboratorium yang berfungsi bagieksperimentasi ilmu-ilmu kealaman. Beberapa cendekiawan muslim secara pribadimemiliki laboratium sendiri utuk memenuhi hajat eksperimentasinya secara penuhyang tidak terpenuhi oleh laboratoium umum.

 

Bengkel Kerja

Bengkel kerjamerupakan tempat praktik yang bersifat pribadi di kalangan para ilmuan muslim klasik.Ibn Hayyan dan al-Biruni, misalnya, masing-masing memiliki bengkel kerjatersediri dalam mengembangkan teori-teori ilmiah. Di bengkel kerja inilah paramahasiswa menimba ilmu pengetahuan dari mereka.

 

Sarjanawan atauIlmiawan Muslim Empiris

 

Sub-bab tentangpara sarjanawan muslim yang memberikan curahan perhatian yang luar biasa dalambidang sain (ilmu alam) diasakan perlu untuk menunjukkan bahwa empirisme tidakhanya sekadar mendapatkan sentuhannya dalam dunia Islam. Namun demikian, lebihdari itu, ia betul-betul diminati dan didalami sehingga berkembang pesat danmelahirkan teori-teori baru pengetahuan eksak serta ilmiawan yang cukupdisegani dan diadopsi teorinya, dan menjadi inspirasi kebangkitan pengetahuandi Barat.

 

Apa yang ditulisdalam daftar nama, kebangsaan, dan bidang digeluti hanya sekian persen dari jumlahkeseluruhan, sebagaimana yang ditulis Nekosteen atau Makdisi dan tentunya jugasejarawan lainnya. Para sarjanawan ini tidak hanya berasal dari daratan atauwilayah Asia, namun juga dari seantero dunia, baik Eropa, dan Afrika.

 

Intuisi (al-Irfan)

 

Epistemologi yangjuga berkembang di dunia pedidikan tinggi Islam klasik adalah intuisi atauirfan. Berbeda dengan dua aliran sebelumnya, intuisi tidak mengakui kebenaranpengetahuan yang dihasilkan oleh rasio dan panca indera. Kebenaran pengetahuandari dua aliran di atas dipandang bersifat semu. Sumber pengetahuan sebenarnya,menurut aliran ini, adalah intuisi atau ilham yang (diyakini) berasal daridunia spiritual (Tuhan) dan langsung menuju ke hati. Inilah pengetahuan yanghakiki yang kebenarannya sangat absolut.

 

Dengan katalain, sumber pengetahuan sebenarnya bukanlah mata dan akal. Hatilah yangdipandang sebagai sumber pengetahuan hakiki. Mata dan rasio dipandang seringkali menipu manusia, sementara hati akan mengatakan yang sebenarnya. Hati yangbersih menjadi sumber pengetahuan yang prima, yang dapat berfungsi secaraladuni mendatangkan pengetahuan yang bersifat kasyf.

 

Oleh karenasifatnya yang transenden-spiritualis, maka metode intuisi juga sangat bersifat

transenden danspiritualis sehingga sulit diukur dan dijabarkan secara akademis. Metodeintuisi bersifat religius-mistis yang hanya dapat diselami dengan keterlibatanlangsung dalam metode-metode tersebut. Yang dapat dijelaskan bahwametode-metode tersebut terkait dengan aktivitas pembersihan diri, hati, dan jiwa.

 

Terkait denganpersoalan pembersihan diri dan hal-hal mistis, maka metode intuisi adalah juga metode-metodeyang dikembangkan dalam mistisisme yang dikenal dengan makamat-makamat ataufase-fase. Dalam mistisisme hati yang bersih, yang dapat melahirkan pengetahuanladuni adalah hati yang melalui beberapa tahapannya telah sampai pada“kedekatan”-nya dengan Zat Spiritual. Beberapa makamat mistis yang jugamenjadi metode intuisi adalah:

1. Zuhd

2. Fana

3. Ma’rifah

4. Mahabbah

5. al-Hulul

6. Ittihad

 

Di sampingmetode-metode di atas, metode yang tidak pernah dilepaskan dalam kesehariannya adalahmetode zikir dan metode riyadah. Dalam dunia pendidikan tinggi Islamklasik banyak terdapat sarjanawan yang menggunakan intuisi sebagaiepistemologinya, di antaranya:

1. Zun Nunal-Misri

2. Ibn al-Arabi

3. Abu Yazidal-Bustami

4. Al-Junaid

5. Rabi’ahal-Adawiyah

6. Imamal-Ghazali

7. al-Hallaj

8. Jalaluddinal-Rumi

9. Abdul QadirJailani

10. Nasiruddinal-Tusi

 

Oleh karenasifatnya yang sulit dipahami secara akademik, tetapi lebih mudah diketahuisecara ritual agamis, maka epistemologi ini sulit diaplikasikan dalam lembagaformal. Tiang penyanggah ilmu pengetahuan ini lebih banyak dipraktikkan dalamlembaga-lembaga lain yang bersifat privat yang dimiliki oleh para kaum sufi diatas seperti:

 

1. Zawiyah ;Zawiyah secara literal berarti pojok atau sudut. Istilah ini pada awalnyaberkonotasi pada masjid (suatu sudut dalam masjid) di mana orang-orang fakirmiskin berkumpul untuk mendengarkan pelajaran dari seorang syaikh. Zawiyahseperti ini terdapat pada masjid ‘Amr ibn ‘Ash di Kairo, namun kemudian lembagaZawiyah ini tidak hanya terfokus pada pojok masjid, melainkan merupakan suatubangunan yang berdiri sendiri, di mana seorang syaikh menyebarluaskan ajaran tarekat.Bangunan tersebut lengkap dengan fasilitas dapur dan ruang untuk menyambut parapengunjung. Terkadang Zawiyah ini bermula dari rumah para ulama’ tempat iamengumpulkan muridmuridnya untuk belajar.19

 

2. Kanzah;Kanzah merupakan lembaga pendidikan bagi mereka yang ingin menyelami

kehidupan sufi.Bila Zawiyah bisa jadi hanya terdiri dari satu gedung kalau memang besar,ataupun merupakan suatu bagian tertentu dari suatu bangunan, sedangkan kanzahsering berbentuk suatu kompleks yang di dalamnya terdapat kuburan khusus parasufi. Lembaga ini pertama kali muncul pada abad ke-4 H di daerah Khurrasan.

 

Khanzahmengalami perkembangan yang pesat pada abad ke-5 H. Orang-orang Saljuklah yang pertamakali memperkenalkan lembaga ini kepada khalayak luas. Dari daerah Khurrasan,Kanzah berkembang ke Baghdad kemudian ke daerah Syiria dan Yerussalem pada abadke-6 H, dan pada Mamluk Khanzah berkembang di Mesir.20

 

3. Ribath;Berbeda dengan Zawiyah dan kanzah, ribath dibangun bukan untuk syaikh ataukegiatan tarekat tertentu, melainkan untuk masyarakat umum. Siapa saja bolehuntuk beribadah di Ribath. Istilah ribath ini pada mulanya dipahami sebagaibarak-barak militer di daerah perbatasan. Pada perkembangan berikutnya, ribathdikaitkan dengan tempat orang mengasingkan diri dalam rangka melawan nafsu dalamdirinya dengan jalan beribadah, sehingga al-Makrizi mendefinisikan ribathsebagai rumah para sufi.21

 

Heremeneutika(Ta’wil)

Aliranepistemologi yang menjadi keseharian dalam dunia pendidikan tinggi Islam klasikadalah hermeneutika. Dalam aliran ini yang menjadi sumber pengetahuan adalahteks. Sementara metode perolehan pengetahuannya adalah interpretasi ataupemahaman.

 

Al-Qur’an danHadis adalah sumber ajaran dan kehidupan kaum muslim. Oleh karena itu, otomatissumber pendidikan Islam, khususnya di perguruan tinggi adalah teks al-Qur’an.Bayard Dodge secara tegas menyebutkan bahwa al-Quran sebagai sumber pengetahuanmerupakan karakter pertama pendidikan Islam klasik.22 Dari ke dua teksutama, al-Qur’an dan Hadis, inilah yang kemudian dikembangkan oleh parasarjanawan muslim.

 

Pengembanganpengetahuan yang dilakukan oleh para sarjanawan muslim inilah yang merupakan hasilinterpretasi mereka. Para sarjanawan muslim mendapatkan pengetahuan darial-Qur’an dengan metode interpretasi, yang kemudian mereka kembangkan ke dalamdisiplin pengetahuan yang mereka geluti. Oleh karena itu, interpretasi merekaterhadap al-Qur’an dengan kecenderungan aspek hukum akan melahirkan produkfiqh. Sementara itu, bagi yang lainnya dengan kecenderungan mistisisme akan melahirkanproduk tasawuf dan seterusnya.

 

Atas dasartersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa hampir keseluruhan para sarjanawanmuslim menggunakan epistemologi hermeneutika dikarenakan mereka menerapkanpenafsiran atas sumber teks al-Qur’an dan Hadis, termasuk para imam Mazhab,filosof dan ilmiawan muslim. Hanya saja, ada beberapa sarjanawan muslim yangbetul-betul mencurahkan perhatian penuh untuk

menafsirkanal-Qur’an seutuhnya berupa buku tafsir yang berjilid-jilid jumlahnya dan eksis sampaidengan saat ini sebagai khazanah intelektual muslim. Buku-buku tafsir merekabiasanya dinamakan sesuai dengan nama atau julukan mereka, di antaranya:

1. Fakhr al-Razi

2.Al-Zamakhsyari

3. Al-Maraghi

4. Al-Thabari

5. Ibn al-Arabi

6. Imamal-Syafi’i

 

Endnote

1 Misalnya tentangayat-ayat antropomorpisme.

2 Bayard Dodge, MuslimEducation in Medieval Times (Washington: The Middle East Institute, 1962),hal. 29.

3 Ibid.

4 Lihat Paul Edwards, Encyclopediaof Philosophy, hal. 52.

5 Dodge, Muslim,hal. 11.

6 al-Mawardi, Adabal-Dunya wa al-Din (Istanbul: TTP, 1299), hal. 45.

7 George Makdisi, TheRise of Colleges, hal. 245. Baca juga Miller, Islamic Disputation;E. Wagner, Munazara dalam Encyclopedia of Islam(Leidan: E.j. Brill,1960) iv (abstrak), hal. 10.

8 George Makdisi, TheRise of Humanisme, hal. 211.

9 Al-Ghazali, Ihya‘Ulama al-Din(Kairo: Musthofa al-Babi al-Halabi, 1939), hal. 49.

10 Ibn al-’Imad, Syadzaratal-Zahab fi Akhbar man Dazhab(Kairo: Maathba’at al-Qudsi, 1931), hal. 11 –12.

11 Lihat pula BayardDodge, Muslim Education, hal. 10.

12 Mehdi Nekosteen,Ibid., hal. 52.

13 Ibid., hal. 55.

14 Ibid., hal. 80-81.

15 Sayyid Husein Nasr, Scienceand Civilization in Islam (Cambridge: The Islamic Test Society, 1987), hal.89.

16 Ibid., hal. 46, lihat jugaStanton, Higher Learning, hal. 105.

17 Sayyid Husein Nasr, Science,hal. 184-229.

18 Makdisi, The Riseof Humanism in Classical Islam and the Christian West (Edinburgh: EUP,1990) , hal. 248-256.

19 Hasan Asy’ari, Menyingkap,hal. 96-97.

20 Ibid., hal. 99-105.

21 Ibid., hal. 93.

22 Bayard Dodge, Muslim,hal. 2.

 

Daftar Pustaka

Al-Ghazali. 1939. Ihya‘Ulama al-Din.Kairo: Musthofa al-Babi al-Halabi.

al-Mawardi. 1299. Adabal-Dunya wa al-Din. Istanbul: TTP.

Dodge, Bayard. 1962. MuslimEducation in Medieval Times. Washington: The Middle East Institute.

E. Wagner, Munazara.1960. Encyclopedia of Islam. Leidan: E.j. Brill.

Ibn al-’Imad. 1931. Syadzaratal-Zahab fi Akhbar man dazhab.Kairo: Maathba’at al-Qudsi.

Makdisi. 1990. TheRise of Humanism in Classical Islam and the Christian West. Edinburgh: EUP.

Makdisi, George.1960.The Rise of Colleges.

Nasr, Sayyid Husein. 1987. Scienceand Civilization in Islam. Cambridge: The Islamic Test Society.

 


Categories: EPISTEMOLOGY, SUMBER PENGETAHUAN, ILUMINASI

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments