EPISTEMOLOGI

News

EPISTEMOLOGI KOMUNITI FORESTR

Posted by Filsafat Pengetahuan on October 13, 2010 at 7:29 AM

EPISTEMOLOGI  KOMUNITI FORESTRI : PENDEKATAN KONSTRUKTIVIS(*)

Oleh. San AfriAwang (**)

1. Pendahuluan

Perkembangan ilmu danperkembangan pengetahuan sudah merupakan kebutuhan manusia saat ini. Sejarahberkembangnya suatu ilmu pengetahuan di dunia ini sejak zaman Yunani kunodahulu selalu dimulai dari berbagai macam krisis sosial, alam semesta dan bio- organikyang mempengaruhi kehidupan anak manusia di jagad raya ini. Thomas S. Kuhndalam The Structure of Scientific Revolutions bukunya banyak menceritakanberbagai perubahan paradigma ilmu pengetahuan mulai dari klasik sampai modern.Kuhn sangat cerdas menggambarkan bagaimana terjadinya sebuah perubahan “sains”baik secara perlahan maupun secara cepat (revolusioner). Perubahan paradigmailmu itu tidak dapat dicegah karena tuntutan zaman, dan oleh karena itulahperubahan dalam arti luas dalam sebuah disiplin ilmu pengetahuan bukanmerupakan hal yang tabu, tetapi sudah merupakan satu keniscayaan tersendiri.Membaca bukunya Kuhn tersebut telah memberikan ilham agar mencoba merefleksikanhal-hal yang bersifat filsafati ke dalam berbagai perubahan paradigma dalam rumpunpengetahuan ilmu-ilmu kehutanan.

Seharusnya setiap pengetahunberkembang di dunia ini dilandasi dan didukung oleh pandangan esensi danhakikat yang ada di dalam pengetahuan baru tersebut. Pertanyaan seperti: “mengapa pengetahuan baru tersebut ada dan perlu ? Apa hakikat yang akan dicapaidalam pengetahuan baru tersebut? Apa obyek dan subyek dari pengetahuantersebut? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang perlu di jawab jika sebuahpengetahuan akan dikonstruksikan menjadi pengetahuan yang ilmiah dan dapatditerima oleh khalayak umum. Pandan gan filsafat akan pengetahuan tersebutbelum sepenuhnya berkembang di dalam kontek pengembangan ilmu-ilmu pendukungilmu kehutanan di Indonesia. Filsafat pengetahuan (epistemologi) hampir tidakberkembang dalam khasanah ilmu-ilmu kehutanan di Indonesia. Thesis saya justrusangat besar kecenderungan berkembangnya cabang-cabang pengetahuan di Indonesiasecara umum juga tidak dilandasi oleh epistemologinya, sehingga terkesan pengetahuanyang berkembang di Indonesia itu hanya sebagai ilmu “foto copy” model barat, yangtidak dikonstruksi dari sistem sosial budaya sendiri. Karena itu banyak masalah yang tidak dapat diselesaikan olehbangsa Indonesia sendiri sebab esensi ilmu pengetahuan yang dikembangkan belumdiratifikasi di Indonesia. Apakah karena hal seperti ini pula, bangsa Indonesiamasih tertinggal dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dibanding negaralainnya di dunia ini. Ada gejala yang lebih berbahaya lagi dalam duniapendidikan di Indonesia adalah bahwa ilmu filsafat hanya dipandang sebagaimilik fakultas Filsafat, sementara cabang pengetahuan lainnya tidak menganggapepistemologi dan filsafat ilmu sebagai kebutuhan, termasuk di sini adalahilmu-ilmu kehutanan, dimana banyak cabang pengetahuan berkembang tetapi tidakdidukung oleh epistemologinya, sehingga sering sekali kehilangan arah perkembangannya.

Tulisan ini adalah sebuahpemikiran awal yang terkait dengan bagaimana pandangan epistemologi digunakan untuk mengkonstruksi dan memposisikansatu cabang pengetahuan alternatif dalam sistem pengelolaan su mberdaya hutan..Pengetahuan yang relatif baru ini dikenal dengan sebutan Community Forestry(kehutanan masyarakat). Istilah ini sering juga ju mbuh dengan istilahparadigma Social Forestry (kehutanan sosial). Dalam tulisan ini istilah yangdigunakan adalah  kehutanan masyarakat,sebab secara substansial kedua istilah tersebut merefleksikan semangat dansendi-sindi tujuan dan proses yang sama. Kendatipun di dalam praktiksehari-hari di tengah masyarakat kegiatan kehutanan masyarakat (komunitiforestri) ini sudah ada, dan banyak sudah literatur yang mendokumentasikanproses-proses bagaimana paradigma ini muncul dan ada ditengah masyarakat,tetapi belum ada satupun tulisan yang khusu s menggambarkan pandanganepistimologi komuniti forestri. Karya tulis ini berusaha mengisi kekosonganakan hal tersebut. Tulisan ini dimaksudkan untuk memperkuat perspektif komunitiforestri sehingga pengetahuan ini layak didudukkan sejajar dengan  pengetahuan lainnya, tentu setelahpengetahuan ini terbukti dapat terkonstruksi secara ilmiah. Tulisan ini awalmenuju pencaharian basis-basis ilmiah dari komuniti forestri.

2. Epistemologi “Pengelolaan Hutan Lama”

Konstruksi ilmu pengelolaanhutan yang selama ini dipakai diseluruh dunia adalah bahwa kelstarian hutandapat dicapai jika kiat-kiat bisnis yang bersumber dari kayu dapatdilestarikan, dan dengan demikian maka isi hutan yang paling penting dan palingbernilai ekonomi adalah pohon kayu. Dari premis seperti ini maka berkembanglahilmu pengelolaan hutan, keteknikan kehutanan, rekayasa kehutanan, dansilvikultur, yang hanya fokus kepada pohon kayu saja. Pandangan kapitalistislebih menonjol dibanding dengan pandangan enviromentalis dan kerakyatan /kemasyarakatan.Bisnis-bisnis kehuatan lebih dimonopoli oleh kelompok-kelompok konglomerat danpemodal besar dibanding dengan pemodal menengah dan rakyat. Pandangan konservasiterkalahkan oleh pendekatan ekonomik yang menjadi slogan kesejahteraan pandangankapitalis.

Ilmu pengelolaan hutan,ekonomi sumberdaya hutan, keteknikan kehutanan, dan silvikultur, semuanyaterkonstruksi oleh premis dimana pohon berkayu merupakan obyek dalam hutan yangpaling memiliki nilai ekonomi tinggi dibanding dengan obyek hutan lainnya.Sebagai akibat dari kontruksi ilmu seperti ini maka epistimologi yangmendominasi dari paradigma pengelolaan hutan lama (yang mendominasi sekarangini) adalah epistimologi “kayu”. Dalam arti yang harfiah dan sudah menjadipandangan umum dan dipahami di Indonesia bahwa tidaklah disebut hutan jikasuatu hamparan lahan tidak ditumbuhi oleh kumpulan pohon-pohon. Akibat konstruksipengetahuan kehutanan seperti ini maka lahan-lahan kosong, semak belukar, hutanbekas perladangan, hutan berpotensi rendah, sering sekali dinilai sebagai obyekyang tidak berharga dan tidak bernilai. Pandangan seperti ini justrumenunjukkan pandangan yang sempit, mengapa? Sebab terkesan sangat nyata bahwamereka yang bekerja berkaitan dengan pengurusan “kayu” selalu dipandang lebihberharga dibanding dengan mereka yang bekerja dibidang “bukan kayu”. Samahalnya dalam konstruksi pengetahuan lainnya seperti para ahli fisika danmetamatika atau ilmu ekskata lainnya merasa lebih hebat dibanding denganilmu-ilmu sosial. Pandangan-pandangan bodoh seperti inilah yang seharusnyadibenahi duduk perkaranya oleh epistimologi dan ontologi. Pandangan yang sempitseperti inilah yang juga mendominasi pikiran para ahli kehutanan di Indonesia,dan bahkan di sebagian besar belahan dunia. Sumberdaya hutan alam di dunia inimengalami kemunduran kualitas dan kuantitas yang sangat serius, juga sebagaiakibat dari epistemologi hutan kayu tersebut. Akibatnya hutan rusak menjadisah-sah saja karena yang menjadi ukuran hanya nilai ekonomi kayu saja. Rusaknyahutan oleh oknum HPH di Indonesia juga sebagai akibat dari konstruksiepistemologi pengelolaan hutan yang salah tersebut. Hal yang paling fatal dariepistemologi pengelolaan hutan yang ada sekarang ini adalahkurang berkembangnyapengetahuan pengelolaan hutan alternatif selain pengelolaan kayu danpengetahuan pendukung lainnya.

Pada tiga dekade terakhirini secara perlahan tetapi pasti telah muncul paradigma pengelolaan hutanalternatif yang tidak “state based”, skala kecil, partisipatif, dan mengembang kanupaya-upaya mengurangi kemiskinan desa-desa sekitar hutan yang masyarakatnyaber gantung kepada  hasil hutan dansumberdaya hutan. Dengan demikian mucul epistemologi pengetahuan baru dalamkhasanah pengetahuan kehutanan di dunia yaitu epistemologi komuniti forestri.Untuk meahami epistimologi selanjutnya maka teori-teori filsafat pengetahuan (epistemologi)dan filsafat ilmu akan dibahas terlebih dahulu dalam uraian di bawah ini.

3. Filsafat Pengetahuan(Epistemologi)

Jika orang ingin mempelajarifilsafat maka sesuai kata Plato untuk memahami filsafat harus  diawali dengan “rasa kagum” terhadap sesuatu,tidak ada seorangpun dapat berfilsafat apabila dia tidak dapat kagum. Rasakagum ini harus dibaca tidak sama dengan orang bingung melihat sesuatu lalumuncul rasa kagum yang berlebihan. Rasa kagum filosofis ditujukan kepada sesuatuyang sederhana, yang terlihat jelas dalam pengalaman hidup sehari-hari.Seharusnya memang demikian sebab berbagai pertanyaan hidup akan muncul dalamgerakan kehidupan sehari-hari tersebut. Menurut Plato untuk menemukan sesuatuyang kita cari maka kita harus tahu apa yang kita cari. Apa itu waktu ? Apa ituhutan? Apa itu alam semesta ? dan apa itu komuniti ? semua itu adalahpertanyaan-pertanyaan kearah pengetahuan filsafat.

Menurut Gallagher (Hadi,1994) masalah epistemologi pertama kali berhubungan dengan konsep terhadapsesuatu. Apakah konsep itu ada atau tidak ? Persoalan epistemologi juga munculdari sikap ambivalensi keadaan manusia, dimana manusia sekaligus ada dan tidakada bagi pengalamannya sendiri. Ketidakpasan antara eksistensi manusia dengandirinya sendiri, yang merupakan bukti dari keterbatsan dan temporalitasnya,juga tampak di dalam ketidakpasan antara pengetahuan dengan dirinya sendiri,demikian juga ia tidak tahu apa yang diketahuinya. Filsafat pengetahuan(epistemologi) merupakan usaha untuk membiarkan pikiran untuk mencapaipengenalan akan esensinya sendiri, usaha pikiran untuk mengeksperesikandanmenunjukkan kepada dirinya sendiri dasar-dasar kepastian yang kokoh.Pengetahuan dikaitkan dengan ekspresi “mengetahui” bukan hanya mengalami tetapimengekspresikan pengalamannya sendiri bagi dirinya sendiri. Pengetahuanmerupakan ekspresi reflektif dari diri saya atau pengalaman saya. Pengalamandan ekspresi tersebut perlu pemurnian terus menerus, dimana elemen pokoknyaadalah dialog antar budi. Namun demikian dalam kontek masyarakat, maka pengalamandan ekspresi masyarakat terhadap sesuatu obyek, termasuk pengalaman kebudayaankehutanan masyarakat harus terus menerus dikembangkan dan mengalami pemurniansecara terus menerus. Benar bahwa pengetahuan merupakan tindakan yang sangat personal,tetapi tetap merupakan tindakan yang memiliki sifat –sifat universal. Universalyang ada yang merupakan kebersamaan manusia yang melahirkan pikiran, adalahsarana yang membawa diri pribadi dan masyarakat ke dalam universal kognisial(pikiran)—kebenaran. Artinya apa yang dilakukan oleh masyarakat terhadap satuobyek dapat menjadi kebenaran universal juga.

Menurut Suriasumantri(1984), filsafat ilmu merupakan bagian dari filsafat pengetahuan (epistemologi)yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu atau pengetahuan ilmiah. Ilmu merupakancabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Pemberdaan filsafat ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial diperlukan karena permasalahn teknis yangbersifat khas, sesungguhnya tidak perlu dibedakan secara tegas, karena tidakmemiliki perbedaan secara tegas ditinjau dari aspek filsafat ilmu. Filsafatilmu merupakan telaahan secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaanmengenai hakikat ilmu. Landasan filsafat ada 3 yaitu ontologis, epistimologi,dan aksiologis. Beberapa pertanyaan yang perlu dikembangkan untuk mengetahui, menemukan,membangun,dan mengembangkan sesuatu sesuai dengan landasan filsafat ilmu tersebutadalah:

a.Ontologi

- Obyek apa yang ditelaaholeh ilmu ?

- Bagaimana ujud yang hakikidari obyek tersebut?

- Bagaimana hubungan antaraobyek tadi dengan daya tangkap manusia seperti berfikir, merasa dan mengindera, yang menghasilkan pengetahuan ?

b. Epistemologi

- Bagaimana proses yangmemungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu ?

- Bagaimana prosedurnya ?

- Hal-hal apa yang harusdiperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar ?

- Apa yang disebut kebenaranitu sendiri ?

- Apakah kriterianya ?

- Cara / teknik / sarana apayang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu ?

c. Aksiologi

- Untuk apa pengetahuan yangberupa ilmu itu dipergunakan ?

- Bagaimana kaitan antaracara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral ?

- Bagaimana penetuan obyekyang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ?

- Bagaimana kaitan antarateknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metoda ilmiah dengannorma-norma moral / profesional ?

Dari pertanyaan-pertanyaantersebut di atas jelas kiranya bahwa memahami ilmu dan pengetahuan tentangsesuatu  harus memiliki ciri-ciri yangspesifik mengenai APA (ontologi), BAGAIMANA (epistemologi), dan UNTUK APA(aksiologi). Ketiga landasan ini terkait satu sama lain. Membahas epistemologikehutanan masyarakat akan terkait dengan ontologi dan aksiologi kehutananmasyarakat tersebut.

Ilmu merupakan bagian daripengetahuan dan pengetahuan merupakan bagian dari kebudayaan (Suriasumantri,1984). Ilmu merupakan suatu cara berfikir dalam menghasilkan suatu kesimpulanyang berupa pengetahuan yang dapat diandalkan. Berfikir bukan satu-satunya carauntuk dalam mendapatkan pengetahuan, demikian juga ilmu bukan satu-satunyaproduk Ilmu merupakan produk dari proses berfikir menurut langkah-langkah darikegiatan berfikir. tertentu yang secara umum dapat disebut sebagai berfikirilmiah . Kebudayaan merupakan seperangkat sistem nilai, tata hidup dan saranabagi manusia dalam kehidupannya. Kebudayaan kehutanan masyarakat adalahkebudayaan dalam mengelola sumberdaya hutan yang taat nilai- nilai lokal,sesuai dengan tata hidup masyarakat desa sekitar hutan dan menjadi sumber kehidupanmasyarakatnya. Ini memberikan indikasi bahwa perkembangan ilmu kehutanan masyarakat(community forestry dan atau social forestry) sangat ditentukan dengan kondisi kebudayaannya.Menurut Talcott Parson, ilmu dan kebudayaan itu berkembang saling mendukungsatu sama lain. Menyimak pandangan Parson inilah kita dapat mengatakan bahwa perkembangansistem pengelolaan sumberdaya hutan harus sinergis dengan perkembangan masyarakatdan kebutuhan masyarakat. Karena itu sesungguhnya konsep ilmu dan pengetahuan kehutananbersama dan berbasis masyarakat adalah sebuah keniscayaan dalam domain-domain ilmukehutanan sekarang dan masa yang akan datang.

Berfikir ilmiah merupakankegiatan berfikir yang memenuhi persyaratan tertentu. Persyaratan tersebut padahakikatnya mencakup dua kriteria utama yaitu: (1) berfikir ilmiah harusmempunyai alur jalan pikiran yang logis; dan (2) pernyataan yang bersifat logistersebut harus didukung oleh fakta empiris. Persayaratan pertama mengharuskanalur pikiran kita konsisten dengan pengetahuan ilmiah yang telah ada, sedangkanpersyaratan kedua mengharuskan kita untuk menerima pernyataan yangdidukung  oleh fakta-fakta sebagai pernyataanyang benar secara ilmiah (Suriasumantri, 1984 ; Hadi, 1994; dan Suparno, 1997)

Pengetahuan pada hakikatnyamerupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu obyek tertentu, termasukke dalamnya adalah ilmu, jadi ilmu merupakan baagian dari pengetahuan yangdiketahui oleh manusia disamping berbagai pengetahuan lainnya seperti seni danagama. Tiap jenis pengetahuan pada prinsipnya akan menjawab jenis pertanyaantertentu yang diajukan. Oleh karena itu yang kita perlukan adalah mengharapkandan memperoleh jawaban yang benar. Masalahnya adalah bagaimana caranya menyusunpengetahuan yang benar ? Dalam kajian filsafati menyusun pengetahuan tersebutdisebut epistimologi, dan landasan epistemologi ilmu disebut metoda ilmiah.Dengan kata lain, metoda ilmiah adalah cara yang dilakukan ilmu dalam menyusunpengetahuan yang benar. (Suriasumantri, 1984). Jika kita sepakat bahwakehutanan masyarakat merupakan suatu paradigma keilmuan kehutanan yang sesuaidengan kebudayaan lokal dan nasional, maka kehutanan masyarakat jangan dilihat sebagaisatu bentuk kegiatan tunggal tetapi harus dilihat sebagai suatu sistem holistikyang didukung oleh berbagai cabang  ilmupengetahuan. Sangatlah keliru jika melihat kehutanan masyarakat sebagai satumata pelajaran dalam bangku pendidikan kehutanan dan pertanian. Agar supayakehutanan masyarakat menjadi sebuah pengetahuan yang didukung oleh ilmu-ilmu lainnya,maka kita harus melakukan konstruksi filsafat terhadap pengetahuan sistemkehutanan masyarakat tersebut.

 

4.Epistemologi Komuniti Forestri: Pendakatan Konstruktivisme

Filsafat pengetahuan(epistemologi) adalah bagian dari filsafat yang mempertanyakan soal pengetahuandan bagaimana kita dapat mengetahui sesuatu. Pertanyaan utama dalam epistemologiadalah: (1) apakah pengetahuan itu ? (2) bagaimana kita memperoleh pengetahuan,bagaimana kita tahu tentang sesuatu. Epistemologi juga mempertanyakan hakikat pengertiandengan bertanya “apakah kebenaran itu (Bodner, 1986; Suparno, 1997). Salah satualiran epistemologi yang sering dipakai dalam membahas epistimologi sainsadalah epistimologi konstruktivisme (constructivism epistemology). Untuk kaliini pembahasan awal tentang epistimologi komuniti forestri akan mengg unakanpendekatan konstruktivisme ini. Oleh karena

itu ada baiknya jika kitamengenal barang sedikit tentang epistemologi konstruktivisme ini, sebelum kitamenggunakan pendekatan tersebut untuk memahami komuniti forestri.

Suparno dengan mengutippendapat Driver dan Bell mengatakan bahwa ilmu pengetahuan bukanlah hanyakumpulan hukum atau daftar fakta. Ilmu pengetahuan, terutama sains, adalahciptaan pikiran manusia denga gagasan dan konsepnya yang ditemukan secara bebas.Dalam kancah ilmu pengetahuan  cukup lamaditerima bahwa pengetahuan harus merupakan representasi dari gambaran atauungkapan kenyataan dunia yang terlepas dari pengamatan (obyektivisme), disini pengetahuanhanya dianggap hanya sebagai kumpulan fakta saja. Dalam sains yang paling akhirberkembang pemahaman dan sudah pula diterima bahwa pengetahuan tidak lepas darisubyek yang sedang belajar mengerti. Pengetahuan lebih dianggap sebagai sautuproses pembentukan (konstruksi) yang terus menerus, terus berkembang dan mengalamiperubahan.

Konstruktivisme adalah salahsatu filsafat pengetahuan (epistemologi) yang menekankan bahwa pengetahuan kitaadalah konstruksi (bentukan) kita sendiri.  Menurut Von Glasersfeld dalam Suparno (1997)bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan (realitas). Pengetahuanbukanlah gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan selalu merupakanakibat dari suatu konstruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang. Seseorangmembentuk skema, katagori, konsep dan struktur pengetahuan yang diperlukan untukpengetahuan. Karena itu pengetahuan itu bukanlah membicarakan sesuatu duniayang lepas dari pengamatan, tetapi merupakan kretaivitas dan ciptaan manusiayang dikonstruksikan dari pengalaman atau dunia yang dialaminya. Menurut Piagetdalam Suparno (1997), proses pembentukan ini berjalan terus menerus dengansetiap kali mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman yang baru.

Pengetahuan tidak dapatdipindahkan begitu saja dari guru kepada muridnya, tetapi murid sendirilah yangharus mengartikan apa yang telah diajarkan melalui penyesuaian pengalaman muridtersebut. Tujuan mengetahui sesuatu adalah agar kita lebih adaptif, agar mampumengorganisasikan pengetahuan yang sesuai dengan pengalaman hidup manusia, sehinggadapat digunakan jika menghadapi tantangan dan pengalaman-pengalaman baru di dalamhidupnya. Paham konstruktivisme ini bertujuan untuk melihat bagaimana kitamenjadi tahu akan sesuatu. Dalam kontek komuniti forestri, maka epistemologikomuniti fotesri bertujuan untuk melihat bagaiman kita menjadi tahu tentangsegala sesuatu yang berkaitan dengan komuniti forestri tersebut.

Menurut Von Glasersfeld, didalam proses konstruksi pengetahuan diperlukan beberapa kemampuan seperti:

(1) kemampuan mengingat danmengungkapkan kembali pengalaman. Kemampuan ini penting karena pengetahuandibentuk berdasarkan interaksi dengan pengalaman-pengalaman tersebut;

(2) kemampuan membandingkan,mengambil keputusan mengenai persamaan dan perbedaan. Kemampuan ini pentingkarena dapat menarik sifat yang lebih umum dari pengalaman-  pengalaman khusus serta melihat kesamaan danperbedaannya untuk dapat membuat klasifikasi dan membangun suatu pengetahuan.

(3) kemampuan untuk lebihmenyukai pengalaman yang satu dari pada yang lain. Kecenderungan banyak orang adalah menyenangi pengalamantertentu yang berkesan, maka muncullah nilai dari pengetahuan yang kita bentuk.

Dari berbagai uraian diatas, maka gagasan konstrukstivisme tentang pengetahuan dapat diringkas sebagaiberikut (Gaselsfeld dalam Suparno, 1997):

(1) pengetahuan  bukanlah merupakan gambaran dunia nyata saja,tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subyek;

(2) subyek membentuk skemakognitif, kategori, konsep, dan struktur yang perlu untuk pengetahuan; dan

(3) pengetahuan dibentukdalam struktur konsepsi seseorang. Struktur konsepsi membentuk peangetahuanjika konsepsi ini berlaku dalam berhadapan dengan pengalaman-pengalaman seseorang.

Pada tulisan berikut inisemua pembahasan epistemologi akan diarahkan kepada bagaimana menempatkankomuniti forestri (kehutanan masyarakat) secara epistemologi, sehingga setiaporang yang bicara dan ingin membangun serta mengembangkan gagasan dan praktik-praktik  komuniti forestri (kehutanan masyarakat)menyadari bahwa komuniti forestri sebagai sebuah pengetahuan tidak dapatdipisahkan dengan filsafat pengetahuan. Banyak praktik-praktik komunitiforestri  antar daerah akan menunjukkanpola yang berbeda pula. Mengapa epistemologi komuniti forestri perlu dibangun ?

Mengapa epistemologikehutanan masyarakat penting, karena untuk memberikan dorongan kepada eksistensi pengetahuan masyarakattentang pengelolaan sumberdaya hutan. Banyak anggapan dari pemerintah bahwarakyat tidak layak dan tidak mampu mengelola hutan. Statemen seperti ini harusdijawab dan dibuktikan melalui epistemologi bahwa pernyataan tersebut yangsesat karena tidak memahami hakikat dan substansi dari pengetahuan kehutanan masyarakatyang dikehendaki oleh rakyat di desa. Situasinya sebenarnya dapat dibalik,mengapa pemerintah memaksakan sistem pengelolaan hutan berbasis pada “timber”dan berpihak kepada pemilik modal besar ? bukankah berdasarkan konstruksi ilmudan pengetahuan cara-cara seperti ini bersifat anti-sejarah dan secara jelasmenegasikan kepentingan masyarakat banyak.

Seperti dijelaskan dandiuraikan melalui kerangka teoritik tentang pengetahuan, epistemologi, danpendekatan konstruktivisme dalam epistemologi, maka gerakan komuniti forestridimanapun di dunia ini hendaknya memiliki dukungan ilmiah yang memadai. Secara sederhanakita selalu mendengar bahwa komuniti forestri itu sangat menghargaiinsiatif-inisiatif masyarakat lokal tentang bagaimana mereka berpengalamandalam mengatur, mengurus, dan menjaga sumberdaya hutan untuk kepentinganmasyarakatnya. Dengan demikian kita sangat yakin bahwa masyarakat tertentusudah memiliki pengetahuan dalam mengelola sumberdaya hutan yang baik danlestari. Perbedaan model, pola, adat kebiasaan masyarakat antar daerah dalammerespon kondisi sumberdaya hutan adalah cerminan dari perbedaan merekonstruksipengetahuan tentang sumberdaya hutan tersebut.

Pengertian komuniti forestriatau kehutanan masyrakat sangat beragam, dan banyak penulis mendifinisikantetapi tidak mengetahui bentuk barangnya, sering-sering  menggunakan pendekatan rasio-kognitif saja.Pengertian komuniti forestri (KF) juga mengalami evolusi. Menurut Foley danBarnard, KF sebagai bagian dan bentuk dari strategi kehutanan sosial (socialforestry). Bentuk kegiatan KF adalah penanaman tanah kosong dengan tanaman kayubakar, seperti yang dilakuakn di China sejak tahun 1978.

Sementara itu menurut Hirschdalam Munggoro (1998) ada beberapa rumusan dasar yang umum dijumpai dalam KFyaitu:

(1) KF adalah strategipengelolaan hutan alam atau buatan pada tingkat lokal dengan cara-cara

yang sesuai dengan tujuanserta nilai-nilai lokal;

(2) KF melibatkan sejumlahkeputusan-keputusan pemerintah yang berkenaan dengan pelibatan masyarakat lokaldalam pengelolaan hutan di tingkat daerah dan pusat;

(3) KF merupakan suatubentuk manajemen hutan yang mengkaitkan secara simultan tujuan- tujuan lingkunagn,ekonomi, dan sosial;

(4) KF adalah polapengelolaan sumberdaya hutan yang melibatkan berbagai pihak yang berkepentingandalam kawasan hutan yang sama;

(5) KF adalah program utamabagi petani dan buruh tani; dan

(6) Perkembangan-perkembanganlainnya yang belum teridentifikasi saat ini.

 

Pandangan epistemologikomuniti forestri atau kehutanan masyarakat terkait dengan beberapa pertanyaandi bawah ini

a. Bagaimana proses yangmemungkinkan ditimbanya pengetahuan komuniti forestri atau kehutanan masyarakatyang berupa ilmu ?

b. Bagaimana prosedurnyapengetahuan komuniti forestri atau kehutanan masyarakat ?

c. Hal-hal apa yang harusdiperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan komuniti forestri atau kehutananmasyarakat yang benar ?

d. Apa yang disebut kebenaranterkait dengan komuniti forestri itu  ?

e. Apakah kriteriapengetahuan komuniti forestri atau kehutanan masyarakat yang benar

f. Cara / teknik / saranaapa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan  komuniti forestri atau kehutanan masyarakatyang berupa ilmu ?

Dalam kaitannya denganpengembangan pengetahuan lokal maka komuniti forestri ini sangat penting danmemegang peranan pada pengembangan alternatif sistem pengelolaan sumberdayahutan, khususnya di Indonesia. Pengetahuan masyarakat Krui (Lampung Barat) tentang situs dan entitas“Khepong” sangat menakjubkan  dan sudahseharusnya pengetahuan lokal tentang khepong tersebut di suport oleh berbagaianalisis ilmiah dengan mengkonstruksi pengetahuan yang ada di dalam masyarakat.Pertanyaan-pertanyaan epistimologis untuk khepong sebagai bagian dari komunitiforestri (kehutanan masyarakat) dapat dikembangkan melalui pertanyaan  di atas. Bagaiaman proses, bagaimanaprosedur, pengetahuan komuniti fotrestri yang benar, dan lain-lain. Semua inidapat dijawab hanya melalui pengamatan langsung, konstruksi dan abstraksi darihal-hal yang tidak tertulis tetapi terkait.

Gagasan epistemologikonstrukstivisme tentang pengetahuan komuniti forestri atau kehutananmasyarakat dapat diringkas sebagai berikut :

(1) pengetahuan  komuniti forestri yang dilakukan olehmasyarakat atau yang dikembangkan melalui program pemerintah bukanlah merupakangambaran dunia nyata saja, tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melaluikegiatan subyek;

(2) subyek membentuk skemakognitif, kategori, konsep, dan struktur yang perlu untuk pengetahuan komunitiforetsri; dan

(3) pengetahuan dibentukdalam struktur konsepsi seseorang. Struktur konsepsi membentuk peangetahuanjika konsepsi ini berlaku dalam berhadapan dengan pengalaman-pengalaman seseorang.

Ke depan pikiran-pikirankognitif, kategorisasi , pendalaman konsep, dan dengan struktur sosial sepertiapa kegiatan komuniti forestri dapat terlaksana. Dengan  mengambil posisi awal dari epistemologikomuniti forestri yang dibahas dalam makalah singkat ini, maka diharapkan akanmuncul berbagai u paya dan semangat dari semua pemerhati hutan dan kehutanandan khusu snya kehutanan masyarakat agar menjadi pemicu bagi angkatan muda yangingin mendalami aspek-aspek sosial dan pengetahuan yang terkait dengankurikulum dan lain-lain. Semua dokumentasi dan pengalaman lapangan tentangkomuniti forestri dapat dikompilasi sehingga menghasilkan satu analisis yanglebih mendalam tentang epistemologi Kehutanan masyarakat. Semua penggiatkomuniti forestri di Indonesia diharapkan dapat tergerak untuk menjawab semuapertanyaan epistemologis yang sangat penting bagi kepentingan pengembangankomuniti forestri di Indonesia.

5. Penutup

Implikasi dari pengembanganepistemologi komuniti forestri atau kehutanan masyarakat adalah bahwaterbukanya peluang untuk terus mendokumentasikan berbagai proses pengelolaansumberdaya hutan oleh masyarakat. Pemilihan terhadap metoda pengembangan masyarakatyang partisipatif dan pengelolaan SDH yang partisipatif, maka secara pastiharus dilakukan terlebih dahulu konstruksi teemikiran yangepistemologis tentang komuniti forestri. masih harus terus didalami. Perkembanganfisik kehutanan masyarakat atau komunintang apa yang dimaksud denganpartisipasi masyarakat, kemudian secara kognitif  struktur pengetahuan tentang parrtisipasidikembangkan.

Tulisan ini yang terkaitdengan epistemologi masih bersifat awal dan pengenalan kearah pti forestri dan dukungan ilmiah dari berbagaipakar akan sangat berarti. Bagaimana mengkonstruksi pembangunan masyarakat dalamkontek komuniati forestri, dan bagaimana membentuk agar tenurial sistem dalam kehutananmasyarakat dapat diselesaikan adalah cara-cara yang diperlukan dalamepistemologi komuniti forestri (kehutanan masyarakat) tersebut. Mudah-mudahantulisan ini dapat menambah semakin jelas persoalan-persoalan yang terkaitdengan KF. Sebaliknya memahami epistemologi juga bukanlah semudah memakan buburatau semudah hitungan-hitungan kuantitatif. Yakinlah bahwa epistemologi komunitiforestri sangat penting karena yang menguasai epistimologi ini maka merekalahyang akan mengarahkan kebijakan pengelolaan hutan di Indonesia.

Daftar Bacaan

Awang, S. 1997. PemahamanTentang Kehutanan Sosial. Yogyakarta.

Bodner, M . (1986).“Constructivism: A Theory of Knowledge”. Journal of Chemical Education, 63(10): 873 – 878.

Foley, G and Barnard, G.1984. Farm and Community Forestry. International Institute for Environment andDevelopment. Technical Report No.3. London

FAO, 1992. Community Forestry: Ten years in Review. Community Forestry Note No.7. Rome Hadi, P.H. 1994.Epistemologi : Filsafat Pengetahuan. Kanisius, Yogyakarta.

Munggoro, D.W. 1998.”Sejarahdan Evolusi Pemikiran Kumuniti Forestri”.Seri Kajian Komuniti Forestri, Seri 1tahun 1 Maret 1998.

Suriasumantri, J.S. 1999.Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. C.V. Suliasari, Pustaka Sinar Harapan,Jakarta.

Suparno, P, 1997. FilsafatKonstruktivisme dalam Pendidikan. Kanisius, Yogyakarta.

*    Disampaikan pada RM V – Forum KomunikasiKehutanan Masyarakat. Bandar Lampung, 22 – 25 Januari  2001

 

 

 

 


Categories: EPISTEMOLOGY, SAINS, PENGETAHUAN

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments