EPISTEMOLOGI

News

Ilmu Hudhuri dan Ilmu Hushuli

Posted by Filsafat Pengetahuan on September 8, 2010 at 9:46 AM


 

Ilmu Hudhuri dan Ilmu Hushuli


 

Mukadimah

 

Dari pembahasan terdahulu berhubungan dengan pengertian ganda obyektivitas (yakni pengetahuan itu memiliki dua obyek, obyek esensial dan obyek aksidental), dapat disimpulkan secara langsung bahwa kita bisa membedakan dua obyek pengetahuan. Pendapat bahwa dengan demikian pengetahuan bisa dibagi menjadi ilmu hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran) dan ilmu hushuli (pengetahuan dengan korespondensi), yang merupakan pokok pembicaraan kita sekarang, betul-betul dapat dipahami dan dimengerti apabila kita telah memutuskan bahwa terdapat dua obyek pengetahuan yakni obyek subyektif yang esensial (yang berada di alam pikiran) dan obyek obyektif yang aksidental (yang berada di alam eksternal).


 

Ilmu hudhuri (knowledge by presence) adalah sejenis pengetahuan yang semua hubungannya berada dalam kerangka dirinya sendiri, sehingga seluruh anatomi gagasan tersebut bisa dipandang benar tanpa implikasi apapun terhadap acuan obyektif eksternal yang membutuhkan hubungan eksterior. Artinya, hubungan mengetahui, dalam bentuk pengetahuan tersebut adalah hubungan swaobyek tanpa campur tangan koneksi dengan obyek eksternal. Akan tetapi, dalam penyuguhan gagasan ini, apa yang terpaksa kita sebut obyek obyektif (di alam eksternal) sama sekali tidak berbeda status ontologi dan eksistensialnya dari obyek subyektif ( di alam pikiran). Artinya, jenis obyek yang telah kita sebut sebagai obyek esensial bagi gagasan pengetahuan seperti itu, dan bersifat subyektif dan imanen dalam pikiran subyek yang mengetahui, dalam ilmu hudhuri, mutlak bersatu dengan obyek obyektif. Dengan demikian, obyek obyektif tak lagi absen (senantiasa hadir) dan aksidental bagi nilai kebenaran ilmu hudhuri. Dengan perkataan lain, dalam ilmu hudhuri, obyek obyektif dan obyek subyektif tidak lagi terbedakan dan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Oleh karena itu, ilmu hudhuri terdiri dari pengertian sederhana tentang obyektivitas yang langsung hadir dalam “jiwa subyek yang mengetahui” (‘alim) dan dengan demikian, secara logis tersirat dalam definisi konsepsi pengetahuan itu sendiri.


 

Di lain pihak, ilmu hushuli (acquired knowledge) adalah sejenis pengetahuan yang melibatkan obyek subyektif maupun obyek obyektif secara terpisah, dan yang mencakup hubungan korespondensi antara salah satu obyek ini dengan yang lain. Dalam kenyataannya, kombinasi obyek-obyek luar dan dalam beserta derajat maksimum korespondensi antara mereka membentuk esensi jenis pengetahuan ini. Karena korespondensi betul-betul merupakan hubungan dua pihak secara hakiki, maka dapat dikatakan dengan logis bahwa apabila hubungan ini terjadi, pasti ada konjungsi antara satu obyek, A, dengan obyek lain B. Hubungan itu tidak berlaku apabila salah satu arah konjungsi tidak benar. Seandainya tidak terdapat obyek eksternal, maka tidak akan ada gambaran dan representasinya. Akibatnya, tidak terdapat kemungkinan lahirnya hubungan korespondensi antara keduanya, dengan demikian tidak ada pula kemungkinan bagi eksistensi jenis pengetahuan itu sama sekali. Sebagaimana dipaparkan di atas, obyek eksternal memainkan peran utama dan mendasar dalam esensialitas ilmu hushuli (pengetahuan dengan korespondensi),[2] tetapi hal ini tidaklah menjadi bagian pembentuk ilmu hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran). Sekarang ada keharusan untuk mendiskusikan ciri-ciri masing-masing spesies pengetahuan ini.


 

Ilmu Hudhuri

 

Seperti telah kami tunjukkan, dalam analisis hubungan mengetahui, terdapat kesatuan kompleks yang membentuk keseluruhan hakikat hubungan ini.[3] Dalam eksistensi mentalnya (di alam pikiran), kesatuan ini pada awalnya sederhana. Akan tetapi, perenungan dan pengkajian mengenai kesatuan ini dapat secara sah memecah kesederhanaannya menjadi tiga bagian sehingga bisa dianalisis melalui perenungan tentang tindak “mengetahui”, “subyek yang mengetahui”, dan “obyek yang diketahui”. Tiga serangkai yang konseptual dalam kaitannya dengan gagasan ilmu hudhuri ini bisa diderivasikan dari perenungan tentang kesederhanaan primordial eksistensi mental yang konstruktif dari tindak imanen dan esensial mengetahui itu sendiri, jenis tindakan yang mutlak identik dengan eksistensi pikiran manusia itu sendiri. Sedangkan tentang kesatuan mutlak antara tindak “pengetahuan” dengan pikiran “orang yang yang mengetahui”, telah kita tinjau dalam makalah terdahulu bahwa kesatuan mutlak seperti itu adalah kesatuan yang menjadi komitmen teori Ibnu Rusyd tentang “kebahagiaan” dan pengertian transubstansiasinya.[4] Dalam hal pengetahuan “tentang diri” dalam jiwa, gagasan Ibnu Sina yang ditafsirkan oleh hampir semua muridnya sebagai bertujuan pada bentuk kesatuan mutlak yang sama, meskipun Ibnu Sina mengingkari kesatuan Porphyrian dari “yang mengetahui” dengan “yang diketahui” dalam mode-mode pengetahuan lain.[5] Di samping itu, salah satu tesis Shadr Al-Din, Mulla Sadra, yang paling masyhur adalah kesatuan eksistensial antara “subyek yang mengetahui”, “obyek yang diketahui”, dan “pengetahuan”.[6] Tidak ada alasan mengapa kita harus tidak mampu menganalisis kesatuan yang sederhana dan mutlak ini menjadi bagian-bagian konseptual yang berbeda, tanpa kerumitan konseptualnya merusak ketunggalan dan kesatuan dari realitas yang “tak berangkap” tersebut.


 

Ambillah misalnya titik pusat sebuah lingkaran sebagai contoh. Secara matematis dikatakan bahwa titik itu tunggal dan karenanya tidak bisa dibagi. Artinya, titik itu tidak bisa dibagi menjadi beberapa titik pada pusat lingkaran. Namun, kita ketahui bahwa titik itu mungkin dibagi ke dalam berbagai sisi dan arah jika secara konseptual kita telah merenungkan dan mendefinisikannya sebagai “titik yang berjarak sama dari semua titik yang ada di lingkaran yang mengelilinginya”. Jelas bahwa titik yang tak bisa dibagi itu kini telah terbagi menjadi sisi-sisi yang berbeda menurut bagian yang mengena kepadanya di sekeliling lingkaran itu. Sekalipun begitu, kita tahu bahwa multiplisitas yang tercermin dalam definisi tentang pusat lingkaran ini tidak merusak ketunggalan dan kesatuan status matematisnya.


 

Yang ingin dikemukakan dari analogi di atas adalah bahwa sementara struktur orisinal ilmu hudhuri adalah tunggal, tak berangkap, dan tak dapat dibagi-bagi, analisis konseptual memecah belahnya menjadi tiga “bagian” yang saling berhubungan yang semuanya dicirikan oleh keadaan-keadaannya yang esensial, hadir, dan bersifat mental. Akan tetapi, ketiga “bagian” ini tidak bergerak lebih lanjut dan berubah menjadi sebuah obyek eksternal. Sekalipun demikian, analisis ilmu hushuli, seperti akan kita lihat, melakukan hal itu; ia mengambil obyek eksternal sebagai butir keempat dari esensialitasnya. Oleh karena itu, ilmu hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran) adalah pengetahuan yang nyata dengan sendirinya (self-evident) dan memiliki obyek yang swaobyektif.[7]


 

Salah satu ciri ilmu dan pengetahuan hudhuri adalah kebebasannya dari dualisme kebenaran dan kesalahan (yakni senantiasa sesuai dengan kebenaran dan realitas). Hal ini karena esensi pola pengetahuan ini tidak berhubungan dengan gagasan korespondensi. Ketika tidak ada obyek eksternal, maka korespondensi antara keadaan internal dan eksternal, maupun antara “fakta eksternal” dan “pernyataan” tidak berlaku lagi. Dengan demikian, sementara prinsip korespondensi telah secara luas diterima sebagai kriteria dan tolok ukur kebenaran atau kesalahan sebuah pernyataan tentang obyek eksternal, dan sementara prinsip yang sama telah diterima sebagai tolok ukur pemeriksaan kebenaran atau kesalahan dalam –menurut pernyataan Russell- pengetahuan tentang kebenaran[8] prinsip seperti itu tidak bisa, dan tidak pula dituntut untuk diberlakukan dalam kasus pengetahuan dan ilmu hudhuri.


 

Karena dualisme kebenaran dan kesalahan bergantung secara substansial pada hubungan korespondensi, pertama antara obyek “subyektif-esensial” (obyek yang ada di alam pikiran) dengan obyek “obyektif-aksidental” (obyek yang eksternal), dan kedua antara sebuah “pernyataan” dengan “acuan obyektifnya”, maka tidak akan ada penerapan dualisme seperti dalam pengetahuan dan ilmu hudhuri. Apabila tidak ada korespondensi, maka tidak ada arti konsep ilmu hushuli (pengetahuan dengan korespondensi); begitu pula pernyataan mengenai pengetahuan ini, pernyataan mengenai sebuah obyek fisik, serta kebenaran atau kesalahan pernyataan seperti itu. Konsekuensinya, karena terbebas dari korespondensi, “pengetahuan dengan kehadiran” tidak rentan terhadap dualisme logis kebenaran dan kesalahan.


 

Ciri dan karakteristik lain “pengetahuan dengan kehadiran” (ilmu hudhuri) adalah kebebasannya dari pembedaan antara “pengetahuan dengan konsepsi” (tashawwur) dan “pengetahuan dengan konfirmasi” (tashdiq) . Tidak seperti pengetahuan dengan korespondensi, “pengetahuan dengan kehadiran” tidak tunduk kepada pembedaan dari kedua hal ini.


 

Pembedaan ini mula-mula dibuat oleh Ibnu Sina dalam karyanya Al-Mantiq untuk menguraikan definisi konsepsi dan konfirmasi. Dia menulis, “Setiap pengetahuan dan kesadaran diperoleh melalui konsepsi (tashawwur) atau konfirmasi (tashdiq). Pengetahuan dengan “konsepsi” adalah pengetahuan primer yang bisa diperoleh melalui definisi atau apa saja yang berfungsi sebagai definisi. Seolah-olah dengan definisi, kita mengetahui esensi manusia. Pengetahuan dengan “konfirmasi” di lain pihak adalah pengetahuan yang bisa diperoleh dengan “inferensi”, yakni kita mempercayai suatu proposisi bahwa “segala sesuatu mempunyai permulaan” (segala sesuatu memiliki Pencipta)”.[9]


 

Tampaknya ini adalah pembedaan yang sama atau hampir sama dengan yang dibuat oleh sebagian ahli logika modern antara “makna” dan “nilai kebenaran”. Atas dasar pembedaan ini, sebuah kata atau sebuah kalimat bisa dimengerti dan dipahami tanpa mempunyai nilai kebenaran apapun. Kalau hanya untuk memperoleh sebuah kata, frase, atau kalimat yang memiliki arti, kita tidak perlu melakukan demonstrasi, argumentasi, dan burhan apapun yang membenarkan suatu keyakinan dan kepercayaan bahwa ia adalah benar. Yang perlu kita lakukan adalah menyampaikan definisi verbal atau logis dari kata, frase, atau kalimat tersebut. Tetapi untuk mengetahui penilaian konfirmatif (yakni mencapai derajat tashdiq), kita secara logis diwajibkan untuk bersandar dan berpijak pada suatu justifikasi bagi keyakinan bahwa penilaian itu mempunyai kebenaran.

 

Tak soal betapa sahihnya pembedaan itu, ia tidak dapat diterapkan ketika yang dibicarakan adalah ilmu dan pengetahuan hudhuri. Hal ini karena kedua alternatif  ini -konsepsi (tashawwur) dan konfirmasi (tashdiq)- adalah ciri-ciri intrinsik dan representasi, bukan pada tatanan wujud dan kebenaran faktual. Namun realitas “pengetahuan dengan kehadiran” sama sekali tidak melibatkan pengertian dua hal itu, yakni konsepsi dan konfirmasi.


 

Dengan mengingkari dualisme kebenaran dan kesalahan dalam “pengetahuan dengan kehadiran”, kita tidak memaksudkan bahwa tak ada pengertian kebenaran yang bisa diterapkan kepada kategori pengetahuan khusus tersebut. Sebab, ada arti kebenaran yang lain dalam linguistik filsafat Iluminasi yang relevan dengan pembahasan kita, yang bisa kita sebut “non-fenomenal”.[10] Akan tetapi, secara ketat ia setara dengan gagasan tentang “wujud”. Dalam sistem filsafat Iluminasi ini, apabila orang mengatakan, misalnya “Tuhan adalah kebenaran”, maka dia sebenarnya mengatakan bahwa “Tuhan itu ada” atau “Tuhan adalah Wujud yang Wajib (Wajibul Wujud)”. Juga di sini jika kita menyetarakan ilmu hudhuri dengan semacam “keseketikaan” atau “kehadiran langsung” realitas obyek dalam pikiran, maka kita berada dalam posisi yang sah untuk menerapkan pengertian eksistensial kebenaran seperti itu terhadap realitas ilmu hudhuri. Tetapi di sini pokok pembicaraannya adalah bahwa dualisme logis antara kebenaran dan kesalahan maupun pembedaan logis antara konsep dan keyakinan tidak bisa diterapkan pada wilayah pengetahuan dan ilmu hudhuri, akan tetapi akan lebih tepat apabila dikatakan bahwa keduanya adalah sifat-sifat yang layak bagi ilmu hushuli (pengetahuan dengan korespondensi).


 

Ilmu Hushuli

 

Apabila ada dua eksistensi yang mandiri dan independen sedemikian rupa sehingga keadaan eksistensial yang satu sama sekali tidak berkaitan dengan atau berasal dari yang lain, dan konsekuensinya tidak ada hubungan kausalitas yang konstan antara keduanya, maka tampaknya adalah benar kalau dikatakan bahwa yang satu “mutlak netral” dalam hubungannya dengan yang lain. Cara lain untuk menyatakan hal ini adalah bahwa kedua wujud yang berbeda ini “berjauhan” secara eksistensial dari yang lain. Dengan demikian, dapat dikatakan dan ditafsirkan bahwa keduanya secara eksistensial absen dari dan tidak hadir bagi atau tidak bersatu dengan yang lain.


 

Di sini, seperti yang telah ditunjukkan, kata “ketidakhadiran” yang sangat sering dipakai dalam teknik linguistik filsafat Iluminasi, berarti bahwa tidak ada kaitan dan hubungan logis, ontologis, atau bahkan epistemologis antara kedua eksistensi tersebut, yang dianggap berada dalam situasi dan kondisi wujud yang sama sekali berbeda. Ungkapan “mutlak netral” karenanya adalah ungkapan yang sah untuk menamai pengertian ketidakhadiran yang khusus seperti itu.


 

Suatu entitas mental atau hal-hal yang berada di alam pikiran berhadapan dengan sebuah obyek eksternal pertama-tama akan tampak sebagai dua eksistensi yang mutlak netral terhadap dan tidak hadir bagi yang lain. Ini berarti bahwa keduanya tidak terikat secara logis, ontologis, ataupun epistemologis. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa “netralitas” seperti itu tak pernah bisa dihilangkan sama sekali dan diubah menjadi “kesatuan mutlak” sehingga kedua eksistensi itu menjadi satu realitas dan sama secara serempak dan dalam segala hal. Adalah suatu kontradiksi dan kekeliruan yang nyata bahwa sebuah entitas mental dan obyek eksternal menjadi identik dan menyatu secara mutlak, baik secara logis, ontologis, atau epistemologis apabila keduanya dianggap berbeda dalam ketiga kriteria ini.


 

Hanya ada satu kemungkinan bagi kedua eksistensi yang berbeda ini untuk berkumpul, bersatu, dan terikat satu sama yang lain melalui semacam unifikasi. Yakni unifikasi fenomenal yang bersifat epistemik, bukan logis ataupun ontologis. Sebuah obyek eksternal boleh jadi memiliki, di samping realitas faktualnya yang termasuk dalam tatanan wujud, sebuah representasi fenomenal dalam pikiran kita,[11] yang berhubungan dengan tatanan konsepsi. Ini tidak berarti sebuah tatanan wujud eksternal muncul, berada, dan berdiam dalam pikiran kita sehingga secara eksistensial dianggap bersatu dengan pikiran kita, dan sekaligus dipandang termasuk dalam tatanan konsepsi. Juga bisa dikatakan bahwa salah satu ciri utama tatanan konsepsi adalah bahwa dengan bersifat mental ia sangat bergantung dan mendapatkan realitasnya dari diri kita serta dihasilkan oleh pikiran kita dalam wilayah aksi fenomenal kita, sementara tatanan wujud dicirikan oleh eksisnya ia tidak dalam diri kita, tetapi dalam dirinya sendiri, dan terletak di luar diri kita di dunia eksternal yang independen terhadap pancaran mentalitas kita.

 

Telah ditegaskan bahwa satu-satunya cara yang mungkin diambil ke arah unifikasi kedua eksistensi yang pada awalnya netral itu adalah unifikasi epistemik. Akan tetapi, bagaimana sifat unifikasi ini dan bagaimana ia terjadi, tetap menjadi sebuah pertanyaan. Jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan ini terletak pada gagasan korespondensi (al-muthabaqat). Arti korespondensi yang dipakai dalam teori pengetahuan ini ringkasnya adalah “kemiripan” dalam isi dan “keidentikan” dalam bentuk.[12] Artinya, bentuk internal disatukan dengan bentuk material eksternal, akan tetapi eksistensi mental tak pernah identik dengan eksistensi eksternal. Kedua mode eksistensi yang berbeda itu karenanya saling menyerupai satu sama lain berkat unifikasi formal. Jika keidentikan formal ini tidak ada, maka tidak akan ada kemungkinan “komunikasi” antara pikiran manusia dengan dunia realitas.[13]


 

Ketika kita berbicara tentang gagasan korespondensi (al-muthabaqat), tentu saja harus dicatat bahwa paling tidak pada saat ini kita tidak berurusan dengan penetapan kriteria pernyataan-pernyataan logis yang mesti benar atau salah. Dalam filsafat Iluminasi persoalan ini dipandang berasal dari persoalan-persoalan yang sudah ada sejak asalnya. Bagaimana pengetahuan kita bisa berkorespondensi dengan dunia realitas? Atau, dengan perkataan lain, bagaimana kita bisa memahami dunia eksternal kita sebelum kita mampu berbicara dan membuat kalimat-kalimat mengenainya? Inilah pokok dan ranah pembicaraan yang menjadi perhatian kita dalam masalah keadaan dimana suatu pernyataan tertentu adalah benar atau salah, adalah masalah lain yang mesti dibahas pada tempat tersendiri.


 

Telah ditunjukkan bahwa tidak seperti ilmu hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran), ilmu hushuli (pengetahuan dengan korespondensi) ditandai oleh keterlibatan pengertian ganda obyektivitas (yakni ilmu hushuli mempunyai dua obyek, obyek subyektif-esensial dan obyek obyektif-aksidental). Ia mempunyai obyek subyektif (yang terletak dalam pikiran), sebagai esensi yang diperlukan oleh pengetahuan seperti itu, dan juga mempunyai obyek obyektif yang terletak di luar tatanan konsepsi (yang terletak di alam eksternal) dan merupakan rujukan obyektif pengetahuan tersebut. Obyek yang pertama oleh filsafat Iluminasi disebut “obyek yang hadir”, dan obyek yang terakhir disebut “obyek yang tak hadir”, yang realitasnya terpisah dari realitas pikiran “subyek yang mengetahui”.

 

Dalam kasus pengetahuan ini, obyek subyektif memainkan peran representasi perantara dalam pencapaian suatu pengetahuan. Artinya, obyek subyektif, melalui konseptualisasi, menyuguhkan realitas obyek eksternal di hadapan pikiran “subyek yang mengetahui”. Untuk mencapai tindakan representasi ini harus ada “kesesuaian” dan “keidentikan” dalam pengertian korespondensi antara kedua jenis obyek tersebut. Sebagai representasi, obyek subyektif dan esensial, dan karenanya keseluruhan kesatuan pengetahuan, hanya bisa dimengerti apabila ia memiliki kesesuaian dan korespondensi dengan obyek eksternal. Karenanya, ilmu hushuli (pengetahuan dengan korespondensi) adalah pengetahuan dimana:


 

a.       Terdapat dua jenis obyek: obyek internal (obyek esensial dan imanen) dan obyek eksternal (obyek aksidental dan transitif). Artinya, baik obyek subyektif maupun obyek obyektif harus sudah berada dalam tatanan aktual.

 

b.       Ada hubungan korespondensi antara kedua obyek tersebut.

 

Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, karena hubungan korespondensi bersifat aksidental, artinya, pengetahuan kita mungkin berkoresponden atau tidak dengan realitas eksternal, maka dualisme logis kebenaran dan kesalahan, atau kekeliruan, perlu dipertimbangkan. Apabila obyek subyektif-esensial kita benar-benar berkoresponden dengan obyek obyektif-aksidental, maka pengetahuan kita mengenai dunia eksternal adalah benar dan sahih, akan tetapi apabila kondisi koresponden belum diperoleh, maka kebenaran pengetahuan kita tidak akan pernah dihasilkan. Ini karena oposisi terhadap kebenaran dan kesalahan termasuk jenis oposisi khusus. Ia menuntut suatu relasi yang aplikasinya dapat bersifat simetris bahkan jika hubungan itu tak simetris. Ini berarti bahwa pada setiap proposisi atau kalimat dimana kualitas “kebenaran” bisa diterapkan, kualitas kesalahan dengan alasan yang sama bisa diterapkan secara potensial, dan terhadap setiap proposisi atau kalimat dimana kualitas kesalahan bisa diterapkan, maka kualitas kebenaran, atas dasar yang sama secara potensial juga bisa diterapkan.


 

Dalam filsafat Iluminasi, menurut prinsip-prinsip yang layak, telah dikembangkan oposisi-oposisi (taqâbul) tertentu yang tidak dapat ditemukan dalam kotak perlawanan tradisional. Di antaranya, oposisi dan taqâbul terhadap apa yang disebut sebagai “bakat dan privasi” (‘adam wa malakah) mesti dikhususkan dalam kaitannya dengan kebenaran dan kepalsuan. Sifat oposisi ini, ketika dielaborasi, menyarankan suatu kategori oposisi yang di dalamnya mesti terdapat sesuatu yang memenuhi syarat bagi pemenuhan salah satu kualitas yang berlawanan. Sebuah contoh yang disebutkan oleh para filosof ini adalah obyek bernyawa yang memenuhi syarat untuk melihat atau buta, yang kerentanan terhadapnya tidak dimiliki oleh obyek tak bernyawa. Kita bisa mengatakan bahwa individu atau spesies binatang tertentu buta karena pada keadaan generik ia mempunyai kemampuan untuk melihat. Akan tetapi, kita tidak akan pernah bisa mengatakan bahwa benda tertentu (tak bernyawa), katakanlah batu, adalah buta karena keadaan generik dari benda ini tidak menganggap akan adanya kemampuan untuk dapat melihat.[14] Jadi, benda apapun yang mempunyai, menurut fitrahnya mempunyai “kemampuan” untuk memenuhi salah satu kualitas yang berlawanan ini, ia mempunyai kemampuan dan kerentanan untuk dikualifikasikan oleh kualitas yang lain, dan sebaliknya. Perlawanan (tashâd) antara kebenaran dan kesalahan dianggap termasuk dalam jenis ini, dan berlaku hanya pada penilaian-penilaian dan pernyataan-pernyataaan yang, melalui hubungan korespondensi, memenuhi syarat untuk benar atau salah. Akan tetapi, ketika penerapan kriteria kesalahan tidak berlaku, maka penerapan kriteria kebenaran juga tidak berlaku.


 

Melalui korespondensi dengan rujukan obyektifnya, ilmu hushuli (pengetahuan dengan korespondensi) memiliki kemampuan untuk menjadi benar. Oleh karena itu, ada kemungkinan pengetahuan ini tidak memenuhi persyaratan-persyaratan yang layak dan sebagai akibatnya ia lantas menjadi salah. Akan tetapi, sifat dan karakteristik ini tidak berlaku dalam ilmu hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran), sebab jenis pengetahuan ini tidak mempunyai kaitan dan hubungan apa-apa dengan korespondensi, sehingga tidak ada kemungkinan untuk menjadi salah. Dengan demikian, ia tak mungkin dipersalahkan. Sebagaimana dinyatakan oleh sifat perlawanan (tashâd), apabila tidak ada kerentanan terhadap kesalahan, maka tidak ada pula makna bagi kebenaran.


Dengan demikian, dualisme kebenaran dan kesalahan hanya berlaku dalam perlawanan yang layak dimana kemungkinan salah satu pihaknya merupakan tolok ukur bagi kemungkinan pihak lain. Ketidakmungkinan yang satu juga dipandang sebagai kriteria bagi  ketidakmungkinan yang lain. Akan tetapi, seperti telah kita nyatakan, dalam derajat eksistensi ilmu hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran) yang tinggi terdapat versi kebenaran lain yang, seperti halnya pengetahuan itu sendiri, termasuk dan digolongkan ke dalam tatanan eksistensi dan bukan tatanan konsepsi dan representasi.[15]


 

Hubungan antara Ilmu Hudhuri dan Ilmu Hushuli

 

Dalam filsafat Iluminasi Islam, terdapat kepedulian dan perhatian yang cukup besar untuk menemukan suatu teknik yang layak yang dapat membantu memenuhi kebutuhan akan bahasa yang memadai untuk mengungkapkan kerumitan-kerumitan khas dalam sistem pemikiran ini. Salah satu istilah teknis yang sangat penting adalah “relasi iluminatif”[16] (al-idhafat al-isyraqiyyah)[17] yang bisa dipandang sebagai istilah dasar bagi pendekatan iluminatif terhadap masalah ontologi, kosmologi, dan pengetahuan manusia.

 

Berbeda dengan kategori “relasi Aristotelian”, relasi iluminatif bukanlah relasi yang dirancang untuk mengaitkan satu sisi relasi dengan sisi yang lain, dan dengan demikian mengikat dan menyatukan entitas-entitas yang terpisah dalam satu kesatuan yang kompleks. Tidak pula ia berkaitan dengan kategori-kategori Aristoteles yang lain yang semuanya termasuk dalam tatanan konsepsi dan esensialitas wujud. Di samping itu, relasi iluminatif tidak dimaksudkan sebagai “penghubung” antara satu hal dengan hal lain dalam pengertian yang normal. Sebaliknya, ia dirancang dan dikonstruksi untuk menjadi suatu “relasi” yang termasuk dalam tatanan eksistensi dan mencerminkan realitas sebenarnya dari cahaya yang melimpah dari Sumber Cahaya Tertinggi. Relasi ini berlaku khusus untuk derajat-derajat dalam tindakan wujud (yakni aktual) dan bukan untuk kapasitas-kapasitas yang bersifat potensi. Dengan perkataan lain, relasi semacam ini menandai status eksistensial sebuah wujud iluminatif yang berasal dari Sebab Pertama. Seperti halnya realitas eksistensi itu sendiri, relasi iluminatif beragam dalam intensitasnya tanpa pemisahan dan keterlepasan dari sumber pancaran.

 

Berdasarkan hipotesis bahwa dalam “wilayah kesendirian mutlak keabadian”, tak satupun, bahkan waktu dan ruang, yang eksis selain Tuhan, muncul pertanyaan berikut: Bagaimana dan dengan cara apa Tuhan, sebagai Sebab Pertama, menghubungkan Diri-Nya dengan wujud lain sebagai efek dan akibat-Nya yang pertama dan mewujudkannya, sementara tidak terdapat suatu unsur wujudpun yang dapat dipakai untuk memulai mencipta? Sekali lagi, dengan hipotesis lebih lanjut orang bisa, demi kejelasan, membayangkan dan menggambarkan bahwa efek pertama, karena ketunggalan dan ke-basith-annya, terserap sedemikian rupa ke dalam cahaya Tuhan tersebut sehingga secara eksistensial tidak bisa dipisahkan dan dibedakan, dan secara harfiah tak bisa dilepaskan, dari pancaran eksistensial Sebab Pertama (Tuhan). Apabila demikian, bagaimana mungkin kita dapat menjelaskan hubungan dan relasi antara satu eksistensi yang berpisah dengan eksistensi lainnya? Dapatkah relasi dua hal seperti itu diungkapkan oleh suatu bahasa selain dari bahasa “relasi iluminatif”?

 

Jelaslah bahwa dalam konteks hipotesis ini tidak ada alternatif bagi fraseologi relasi iluminatif yang dengan jelas menggambarkan kausalitas oleh iluminasi (isyraq) dan emanasi (shudur) yang berbeda dari kausalitas oleh penciptaan (kaun) dan pemusnahan (fasad). Apabila kita telah berhasil dalam konseptualisasi bentuk kausalitas ini, mengenai persoalan hubungan dan relasi antara suatu sebab dengan akibat imanennya akan dikalahkan oleh pertanyaan apakah tindak imanen itu sendiri semata-mata relasi iluminatif atau tidak, atau apakah ia adalah sesuatu dalam dirinya sendiri yang berkaitan dengan sesuatu yang lain sebagai sebabnya. Ini berarti bahwa “relasi ilunminatif” akan menjadi “relasi eksistesial” yang bersifat tunggal, yakni “relasi iluminatif” adalah hubungan itu sendiri atau dengan ungkapan lain antara “hubungan” dan “apa yang dihubungkan” adalah satu dan sama.


 

Hal ini tidaklah menjadi permasalahan sepanjang menyangkut hipotesis relasi ilunminatif. Setelah melampaui analisis hipotesis ini kita berada dalam posisi untuk melangkah lebih jauh ke masalah utama yakni apakah mungkin hubungan antara ilmu hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran) dengan ilmu hushuli (pengetahuan dengan korespondensi) dinyatakan dalam bentuk relasi iluminatif. Secara lebih spesifik, masalahnya adalah apakah pikiran manusia, yang dipandang sebagai sebab pertama dan merupakan pendahulu bagi konsekuensi-konsekuensi fenomenalnya sendiri, memancarkan sinar tindak imanen “pengetahuan dengan korespondensi” dari dalam “pengetahuan dengan kehadiran”nya sendiri? Atau apakah ilmu hushuli manusia bersumber dari ilmu hudhurinya? Apakah proses kausalitas fenomenal ini terjadi dengan metode yang sama seperti Sebab Pertama (Tuhan) alam semesta memancarkan cahaya eksistensinya pada akibat pertama dan pada dunia realitas?

 

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini marilah kita perhatikan dialog berikut:[18]

 

Tanya: Bagaimanakah kita sebagai manusia bisa mempunyai pengetahuan?

 

Jawab: Berpikirlah secara introvertif tentang dirimu sendiri. Apabila itu kau lakukan, engkau pasti akan menemukan jawaban yang benar bagi pertanyaanmu.

 

Tanya: Tapi bagaimana?

 

Jawab: Apabila aku secara introvertif memperhatikan diriku sendiri, akan kutemukan dengan pasti bahwa aku benar-benar sadar akan diriku sehingga aku tidak mungkin menafikan dan menolak diriku. Kepastian akan “eksistensi diri” ini meyakinkan aku bahwa pengetahuan dan kesadaranku akan diriku sendiri tidak berarti apa-apa selain pengetahuan dan kesadaran tentang diriku sendiri “oleh diriku”, bukan “oleh seseorang” atau “oleh sesuatu yang lain”. Seandainya aku tahu dan sadar akan diriku “oleh seseorang” atau “oleh sesuatu yang lain”, itu berarti kesadaran akan diriku dimiliki oleh kekuatan aktif yang berada di luar diriku. Dalam hal ini, akan ada “subyek mengetahui” yang beroperasi dalam diriku dalam upaya mengetahui diriku. Jadi, bukan diriku yang mengetahui diriku. Akan tetapi, telah diasumsikan bahwa yang mengetahui diriku adalah “aku” sendiri sebagai realitas subyek bagi diriku sendiri.[19]


 

Dari sini argumen berkembang dalam dua arah yang berbeda. Pertama, bahwa dalam kasus pengetahuan diri, “diri” sebagai “subyek pelaku kesadaran” dan diri yang sama merupakan “obyek yang disadarinya”, dan identik secara absolut. Atau dengan kata lain, terdapat kesatuan mutlak antara “diri kita” sebagai “subyek yang mengetahu” dan “diri kita” juga sebagai “obyek yang diketahui”. Ini adalah konsep swaobyektivitas yang mencirikan teori awal kita tentang ilmu hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran), yang di sini bisa menerangkan swaobyektivitas adalah “aku” sendiri. Kedua, bahwa dalam hal ilmu hushuli (pengetahuan dengan korespondensi) di mana “subyek yang mengetahui” adalah “aku” sendiri (dalam terminologi biasa disebut sebagai “aku performatif”;) dan “obyek yang diketahui” adalah obyek eksternal, maka “aku” tersebut telah mengetahui dirinya sendiri melalui suatu bentuk “kehadiran” (yakni pengetahuan tentang dirinya sendiri hadir secara langsung dalam dirinya, tanpa perantara oleh sesuatu yang lain) dan “aku” mengetahui obyek eksternalnya melalui suatu “korespondensi”. Hanya perluasan argumen yang kedua yang relevan dengan penyelidikan kita sekarang. Karena argumen tersebut sangat rumit maka adalah suatu keharusan untuk mengembangkannya melalui pendekatan linguistik modern untuk mencapai kesimpulan yang memuaskan mengenai masalah yang sedang dipertimbangkan: hubungan dan ralasi ilmu hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran) dan ilmu hushuli (pengetahuan dengan korespondensi).


 

Dalam kasus: Aku benar-benar percaya dan yakin bahwa “aku mengetahui P”, muncul pertanyaan, “aku mengetahui obyek eksternal P”, akan tetapi apakah aku, pada saat yang sama mengetahui diriku sendiri? Apabila memang demikian, maka mestinya ada bentuk pengetahuan lain yang secara tak-introspektif terlibat dalam pengetahuan saya tentang obyek eksternal P. Berdasarkan pengandaian ini ada keharusan untuk mengajukan pertanyaan: Apakah hakikat dan ciri pengetahuan dasar mengenai diriku ini, yang tersirat dalam pengetahuanku tentang obyek eksternal P?

 

Kedua pertanyaan ini berangkat dari pengandaian bahwa “aku” sebagai “subyek yang mengetahui” memang benar-benar mengetahui dirinya pada saat mengalami dan memperoleh pengetahuan tentang obyek eksternal P. Kalau diambil alternatif bahwa “aku” tersebut tidak benar-benar mengetahui dirinya pada saat ia mengetahui suatu obyek eksternal P, akibatnya muncul beberapa pertanyaan paradoks dari berbagai perspektif.


 

Dari sudut pandang logika, ketika saya mengatakan, misalnya “aku mengetahui P”, kata “aku” dalam proposisi dan pernyataan ini mewakili “subyek yang mengetahui”. “Subyek yang mengetahui” adalah subyek yang membentuk dan memuat dalam dirinya hubungan mengetahui dengan obyek P tersebut. Sebagaimana halnya kata “aku” adalah salah satu bagian dalam bentuk kalimat “aku mengetahui P”, begitu juga pikiran pelaku, sebagai “subyek yang mengetahui”, merupakan bagian integral dari pengetahuan yang padanya seluruh konsep yang berkaitan dengan “hubungan mengetahui” didasarkan. Dengan demikian “aku” sebagai bagian pembentuk pengetahuan, ada secara tersirat dalam keseluruhan. Dengan demikian, “aku” tidak bisa tidak diketahui oleh dirinya sendiri atau “aku” niscaya dan pasti diketahui oleh dirinya sendiri. Meniadakan “subyek yang mengetahui” dari kompleks keseluruhan hubungan pengetahuan akan menyebabkan makna hubungan tersebut hilang sama sekali dan sebagai akibatnya pengetahaun manusia tidak lagi mempunyai arti dan makna. Konsekuensinya, apa yang merupakan bagian integral pengetahuan (yakni subyek yang mengetahui itu sendiri) niscaya dan mesti diketahui.


 

Di samping itu, tindak mengetahui disebut sebagai aksi intensional dan imanen dilawankan dengan aksi-aksi fisik dan transitif manusia. Sebagai aksi intensional, seluruh kesatuan kompleks tindak mengetahui sebagai sebuah hubungan ditempatkan dalam lingkup “intensionalitas” yang berarti bahwa setiap unsur dari hubungan itu diketahui oleh “subyek yang mengetahui”. Sebagaimana yang dikemukakan, “aku” sebagai “subyek yang mengetahui” dari bentuk pengetahuan seperti itu harus diketahui dalam konteksnya. Selanjutnya, berdasarkan hipotesis ini, term subyek seperti halnya predikat, diketahui dengan penuh kepastian dan keniscayaan. Hal ini karena apabila “aku” diketahui, tidak oleh dirinya sendiri, tetapi oleh suatu representasi dan konsepsi tentang dirinya, maka bukan “aku” yang mengetahui obyek eksternal itu, tetapi sebuah “representasi tentang aku”. Dengan demikian, apabila “aku” benar-benar harus mengetahui suatu obyek eksternal menurut penilaian diri sendiri, maka terlebih dahulu ia harus mengetahui realitas dan hakikat dirinya sendiri. Jika dipahami bahwa realitas “aku” harus mengetahui realitas “dirinya sendiri”, maka itulah contoh dari ilmu hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran). Sebuah “aku” yang mengetahui diketahui oleh dirinya sendiri melalui suatu bentuk “kehadiran” (bukan dengan konsepsi dan representasi) dan bertindak seperti akal aktif untuk menghadirkan dalam dirinya bentuk obyek eksternalnya sehingga ia mengetahui obyek itu melalui suatu “korespondensi”.


 

Dengan demikian, kita bisa memahami bahwa ilmu hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran) mempunyai prioritas kreatif atas ilmu hushuli (pengetahuan dengan korespondensi). Dalam kenyataannya, pengetahuan dengan korespondensi selalu muncul dari sumbernya yang kaya, yakni pengetahuan dengan kehadiran, dan yang tidak lain merupakan wujud “aku” aktif dan performatif itu sendiri. Sebab, apabila “aku” sendiri tidak hadir dalam semua pengetahuan korespondensi yang intensional, maka semua intensionalitas manusia, seperti mempercayai, berpikir, berkeinginan, dan sebagainya menjadi tidak berarti. Artinya, tidak akan ada artinya mengatakan “Saya percaya demikian atau demikian”, “Saya ingin begini dan begitu”, dan sebagainya. Hubungan ilmu hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran) dan ilmu hushuli (pengetahuan dengan korespondensi) harus dipandang sebagai hubungan sebab-akibat dalam pengertian iluminasi dan emanasi. Hubungan jenis ini tidak lebih daripada hubungan sebab-akibat hakiki yang khas (hubungan sebab efisien dengan akibatnya sendiri), akan tetapi untuk membedakan kausalitas intelektual ini dari kausalitas fisik-eksternal, filsafat Iluminasi menyebutnya dalam terminologinya sendiri sebagai “relasi iluminatif”.

 

Untuk melengkapi analisis kita mengenai relasi iluminatif antara ilmu hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran) dan ilmu hushuli (pengetahuan dengan korespondensi), marilah kita berpaling kepada kajian komparatif Descrates “cogito ergo sum” (aku berpikir, karena itu aku ada) dan apa yang dikatakan oleh sebagian filosof pencerahan Muslim mengenai pokok persoalan yang sama, yakni pengetahuan mengenai diri sebagai identitas personal.[20] Setelah dirisaukan oleh skeptisisme filosofisnya yang terkenal, Descrates sampai pada satu titik dimana dia menemukan dirinya tak lagi rentan terhadap keraguan. Dengan memusatkan perhatian pada prinsipnya yang tidak diragukan lagi, cogito, Descrates mengatakan, “Saya benar-benar ragu, segala sesuatu boleh diragukan, tetapi kenyataan bahwa ‘saya ragu’ adalah ‘sesuatu yang tidak bisa diragukan’”.[21] Kepastian eksistensi tentang ‘keraguan saya’ membawa pada kepastian mengenai eksistensi ‘diri saya sendiri’. Nampak jelas bahwa Descrates berhasil menegakkan pengetahuan mengenai kediriannya melalui kepastian eksistensi dirinya berkenaan dengan keadaan ragu itu. Dengan perkataan lain, dia menyuguhkan satu tindak fenomenal pikirannya sebagai bukti untuk menjelaskan kebenaran eksistensi identitas personalnya.


 

Pada sisi lain dari argumen ini ada beberapa pengamatan yang cukup disadari beberapa filosof Muslim, meskipun mereka hidup lama sebelum masa Descrates. Mereka mempertimbangkan kemustahilannya yang terkandung dalam argumen ini. Pendiri Hikmah Muta’aliyah (Filsafat Transendental), Shadr Al-Din Syirazi, tampaknya tidak sepakat dengan gagasan Descrates mengenai cogito-nya. Akan tetapi, sebelum memasuki pelilk-pelik perdebatan ini diperlukan suatu perkenalan ringkas. Sebagaimana akan kita lihat nanti, ciri para filosof iluminatif Muslim, berbada dengan kebanyakan metafisikawan klasik, adalah pendekatan empiris mereka terhadap isu-isu sentral pemikiran iluminasi. Ini nampak jelas dalam teori tentang persepsi dan teori cahaya mereka. Dalam masalah khusus ini mereka juga sangat mengandalkan data perseptual dalam melangkah maju kepada kesimpulan konsep iluminasi mereka. Memulai dengan persepsi indera kita yang khusus, Shadr Al-Din berargumen, “Tak ada persepsi indera ataupun keadaan fenomenal pikiran, sekalipun dalam bentuk ‘aku’, yang bisa menjadi saksi bagi nilai kebenaran eksistensi diri saya. Ini karena setiap kejadian femomenal yang saya nisbatkan kepada diri saya, misalnya merasa dingin, hangat, atau sakit, dan sebagainya, harus, dan memang mempra-anggapkan adanya kesadaaran dasar tentang diri saya. Dengan kesadaran dasar ini saja saya sudah bisa menghadirkan dalam diri saya rasa dingin, panas, sakit, senang, dan lain-lain. Jika saya menderita karena udara yang sangat dingin atau menghindar dari panas nyala api, itu hanya karena saya telah sadar akan sesuatu yang, dengan cara tertentu, ada dalam diri saya. Ini juga berlaku dalam hal ragu, berpikir, mempercayai, dan sebagainya. Berpikir, meragukan, percaya, pada umumnya, tidak pernah bisa diadakan oleh diri saya, dan fenomena itu bukanlah sesuatu yang mengada dengan sendirinya dalam diri saya. Tetapi karena secara khusus diterapkan pada diri saya dan dimiliki oleh saya sebagai pikiran, keraguan, atau kepercayaan diri sendiri, ia melibatkan kesadaran akan diri saya sebagai landasannya. Inilah keadaannnya, bagaimanapun realitas diri memahami dan bagaimanapun masalah identitas diri dibicarakan oleh filsafat.”[22]


 

Shadr Al-Din Syirazi memerinci lebih lanjut isu tersebut dalam bahasanya yang lebih forma, “Seandainya saya, melalui tindakan saya sendiri, baik yang bersifat intelektual maupun fisik, bisa menjadi sadar akan diri saya, maka keadaannya seolah-olah saya harus mengeluarkan dari diri saya bukti untuk menjadi saksi bagi diri saya. Jelas ini akan menjadi sebuah lingkaran setan dimana pengetahuan mengnai tindakan saya berfungsi sebagha isebab bagi pengetahuan saya tentang diri saya. Pengetahuan ini sendiri sudah tersirat dalam, dan bertindak sebagai sebab bagi pengetahuan saya mengenai tindakan saya sendiri.”[23]


 

Satu-satunya solusi bagi dilemma ini, demikian disarankan oleh para filosof Iluminasi, terletak pada realitas ilmu hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran), sejauh menyangkut “subyek yang mengetahui” atau dalam terminologi kita “aku performatif”. Dalam sistem identitas personal ini, diri mengetahui dirinya sendiri melalui ilmu hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran), yang secara eksistensial identik dengan wujud diri itu sendiri. Dalam hal ini, tidak diperlukan lagi representasi dan konsepsi tentang diri, apalagi representasi sebuah obyek atau persepsi tentang suatu tindakan seperti ragu, merasa, atau pengetahuan tentang yang lain. Dan diri dengan pengetahuan dan kesadaran akan kehadirannya sendiri kemudian mewujudkan keraguannya mengenai pemikiran dan pengetahuannya tentang yang lain melalui suatu korespondensi.[www.wisdoms4all.com]

 

 

 

[1] . Pengetahuan dan ilmu kita kepada sesuatu tidak lebih dari dua keadaan. Pengetahuan kepada penampakan luar, gambaran, dan kuiditas sesuatu dimana diperoleh melalui suatu korespondensi (konsep keindetikan dan kesesuaian antara obyek eksternal dan pengetahuan), representasional, inderawi, konsepsional, abstraksi, dan rasional. Pengetahuan ini disebut dengan “ilmu Hushuli”. Dan pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat sesuatu disebut dengan “ilmu Hudhuri” yang merupakan lawan dari “ilmu Hushuli”. Misalnya, gambaran api yang hadir dalam pikiran kita disebut ilmu hushuli, akan tetapi, kalau hakikat api itu sendiri yang hadir dalam jiwa dan kita marasakan sifat-sifat khusus api itu secara langsung maka kehadiran ini dikatakan ilmu hudhuri.

 

[2] .  Suatu obyek eksternal bisa dikatakan “diketahui dan dipahami” apabila dalam “subyek yang mengetahui” terdapat suatu representasi yang berkorespondensi dengan obyek tersebut. Lihat Suhrawardi, Kitab Al-Masy’ari wa Al-Mutartihat, ed. H.Corbin (Istanbul, 1945),hal. 479.

 

[3] . Lihat kitab Al-Isyarat wa Al-Tanbihat dan komentar Thusi terhadap definisi pengetahuan seperti itu dan gagasan “hudhur” dan “syuhud”, yang masing-masing berarti “kehadiran” atau “kesadaran”. Ed. Sulayman Al-Dunya, hal. 363-65.

 

[4] . Jenis pengetahuan ini dalam terminologi ilmu hudhuri kami diberi nama “keidentikan”, jika dibandingkan dengan pengetahuan-kehadiran dengan “iluminasi” dan penyerapan”. Yang pertama adalah keunggulan, dan yang kedua adalah ketergantungan.

 

[5] . Ibnu Sina: “Di antara para filosof paripetik ada seorang bernama Porphyry yang meyakini bahwa “pengetahuan” dan “hal yang diketahui” adalah satu dan tunggal. Kitab Al-Isyarat wa Al-Tanbihat, Metaphysics, ‘namat’.3.

 

[6] . Shadr Al-Din Al-Syirazi, Kitab Al-Asfar, jilid I, pasal 3.

 

[7] . Suhrawardi, Kitab Al-Tanbihat (Istanbul, 1945), hal. 72.

 

[8] . B. Russell, The Problems of Philosophy, bab 12, “Truth and Falsehood”(London, 1976).

 

[9] . Ibnu Sina, Kitab Al-Najat, ‘Mantiq’, bab 2 (Kairo, 1938).

 

[10] .  Dengan istilah “non-fenomenal” yang kami maksud adalah bahwa ia tidak mempunyai konotasi dalam pengertian bahwa ia “menunjukkan” dirinya kepada kita. Alih-alih, versi kebenaran ini, seperti hanya makna segala sesuatu dalam dirinya sendiri, memiliki realitas obyektifnya yang murni dalam kehadiran, meskipun ia mungkin tidak memperlihatkan dirinya kepada kita.

 

[11] . “Representasi fenomenal” ini dalam bahasa Ilmuminasi Islam disebut al-asrar al-muthabiq li al-waqi’, yang berarti efek mental yang berkoresponden dengan realitas obyek tersebut. Lihat Kitab Al-Masyari wa Al-Mutharihat (Istanbul, 1845), hal. 479.

 

[12] . Ini adalah pengertian khas Islam mengenai  fenomenologi pikiran. Lihat Kitab Al-Asfar, jilid 2, pasal 4.

 

[13] . Mulla Hadi Sabziwari, Syarh-I Manzhumah, hal. 58-85.

 

[14] . Jenis perlawanan ini disebut ‘adam wa malikah’. Lihat Sabziwari, Syarh-i Manzhumah, hal. 153.

 

[15] . Untuk pembahasan mengenai semua pengertian penting “kebenaran”, lihat bahasan Al-Farabi yang dikutip oleh Sabziwari, al-Manzhumah, hal. 170.

 

[16] . “Relasi” di sini berarti “penyandaran” atau “ketergantungan” suatu wujud yang eksistensinya berasal dari wujud yang lebih tinggi. Jadi bukan “relasi” antara wujud-wujud yang sederajat. Relasi iluminatif adalah bukan suatu bentuk relasi dua arah yang menghubungkan dua realitas wujud, melainkan sejenis relasi satu arah, yakni menerima pancaran dan emanasi wujud dari Realitas Tertinggi.

 

[17] .Suhrawardi, Kitab Al Masyari’ wa Al-Mutharihat, hal. 478-89.

 

[18] . Suhrawardi, Kitab Al-Talwihat, hal. 70.

 

[19] . Op. cit., hal. 71-80.

 

[20] . Mehdi Ha’iri Yazdi, Kohesyho-ye ‘Aql-e Nadzhari (Teheran, 1969).

 

[21] . B. Russell, An Outline of Philosophy, bab 16 (London, 1976), hal.170.

 

[22]. Kitab Al-Asfar, jilid 3, pasal 3 (Teheran, 1960).

 

[23] . Op. cit., “The Problem of Knowledge“, Perjalanan I, pasal 3.

 


Categories: HUDHURI, PENGETAHUAN, EPISTEMOLOGY

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments