EPISTEMOLOGI

News

OBJEKTIVITASI (EBENARAN ILMIAH: MUNGKINKAH?

Posted by Filsafat Pengetahuan on January 15, 2011 at 11:39 PM

OBJEKTIVITASI (EBENARAN ILMIAH: MUNGKINKAH?

 

Abstract:The objectivity of scientific truth is no longer a taken-for-granted

concept.Rather, it has been rendered suspect, because there is doubt about

boththe possibility of acquiring it and its intrinsic value. This article is an

attemptto show the contrary. After describing three main reasons why the

conceptof thk objectivity of scientific truth has been under fire lately, I

suggestthat the notion of objectivity itself should be recast. The rejection

ofobjectivity actually arises from the misunderstanding that leads to the

conflationbetween objectivi~ma nd objectivity The next part of the artide

triesto show that the objec&ity of scientific truth, to a certain extent, can

beattributed not only to natural sciences but also to social sciences, and

thatethics can also give objective moral knowledge. Objectivity is a moral

concept,before it is a methodological concept. Thus, objectivity is humanly

valuableand should not be abandoned.

 

Keywords:Objektivitas, metode ilmiah, kebenaran, sains, etika.

"Somefemi~rists and thinkers jrorn other liberatory knolubdge project,

have thoughtthat the ueg, notion oj objectivity shonld be abandoned. They

19i t ishopelesr~ tainted ly its use in racist, imperialist, bourgeoir,

homophobic,and androcent~c rcientific projects. Moreover, i t is tied to a

theoryof representation and concept oj the selj or subect that inriitr on a

rigidbarrier between subject and object of knoidege-between selj and

Other."(Sandra ~ a r d i n ~ ) . '

* J. Sudnrminta,Jesait Theological College, 175 Royal Parade, Parkuille, Vic 3052,

Melbounre,Australia. E-mail.jsudor~@gn~aiicom.

118 ObjektivitaiKehenmn Ilmiah: Mu&inknh? (J Sadmmitita)

 

1.MENGAPA DIPERSOALKAN?

 

Membacajudul dan kutipan di atas, reaksi spontan yang dapat muncul

adalahkeheranan. Mengapa objektivitas kebenaran ilmiah dipersoalkan? Bukankah

objektivitaskebenaran ilmiah itu suatu yang secara hakiki merupakan

cirikhas sains dibandingkan dengan jenis pengetahuan yang lain? Bukankah

maksudutama adanya dan mesti dipatuhinya metode ilmiah dalam kegiatan

parailmuwan, adalah untuk menjamin agar pengetahuan yang dihasilkannya

ituobjektif benar?

 

Secaratradisional, seperti diyakini dalam paham realisme saintifik, pengetahuan

ilmiahmerupakan representasi akurat tentang realitas atau kenyataan

objektifsebagaimana adanya di dunia. Pengetahaun ilmiah juga diyakini sebagai

suatudeskripsi faktual tentang objek-objek di dunia dan hubungannya satu

samalain. Teori ilmiah yang benar diyakini mcmpunyai rujukan objektif pada

dunianyata di luar manusia. Dengan kata lain, ada korespondensi atau kesesuaian

antarapernyataan dalam teori tersebut dan kenyataan objektif di dunia.

Kegiatanilmiah dianggap sebagai suatu upaya untuk menemukan kebenaran

tentangdunia ini, Metode ilmiah diyakini menjamin objektivitas kebenaran

pengetahuanyang dihasilkannya karena langkah-langkah yang diambil dalam

melakukanpenelitian diyakini sebagai langkah-langkah yang bersifat sistematis,

logis,rasional dan koheren. Tolok ukur yang dipakai dalam menguji hipotesis

gunamenentukan apakah hipotesis tersebut dapat diterima atau selayaknya

ditolak,diyakini sebagai tolok ukur yang tidak subjektif dan sewenang-wenang,

tetapibersifat objektif, universal dan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.

Halitu juga berlaku untuk pengujian benar-salahnya suatu teori ilmiah.

Parailmuwan berdasarkan profesinya terikat oleh kewajiban untuk membebaskan

diridari, apa yang oleh Francis Bacon disebut, herbagai bentuk "idola"

ataubias-bias subjektif maupun kolektif. Mereka perlu membebaskan diri dari

kepentingandan nilai-nilai yang tidak secara konstitutif melekat pada sains

scndiri.Sebaliknya para pelaku sains mcsti dengan setia memaparkan datadata

faktualyang ditemukan dalam objek yang diteliti sebagaimana adanya

dantidak sebagaimana mereka inginkan. Dalam merumuskan masalah yang

akanditeliti, dalam melakukan pengamatan dan mengumpulkan data, dalam

merumuskanhipotesis dan mengujinya, dalam memakai kerangka teori yang

dipilih,dan dalam melakukan penyimpulan pada akhir penelitian, para pelaku

sainswajib tetap menjaga sikap objektif.

 

 

 

tangilmu dalam pengertian sains, objektivitas merupakan suatu yang amat

dijunjungtinggi dan dianggap melekat pada hakikat sains sendiri, maka tidak

mengherankanbahwa ketika ha1 itu dipersoalkan, banyak orang menjadi gusar.

Apasebenarnya alasan untuk mempersoalkannya? Alasan pertama berasal

dariperkembangan baru dalam lingkungan sains sendiri, yakni terjadinya revolusi

pemikiranyang diakibatkan oleh temuan-temuan baru dalam fisika modern

padaakhir abad ke-I9 dan awal abad ke-20. Dalam fisika klasik model

fisikaNewton yang mengkaji dunia makro dan bersifat materialistik, mekanisdk

sertadeterministik, objektivitas kebenaran sains, sebagaimana diyakini oleh

banyakorang dan dicoba diberi pembenaran @sti$cation) filosofis oleh Imanuel

Kant,nampaknya dapat diterima. Sains memberikan pengetahuan objektif

tentangdunia. Hal itu dianggap terbuliti pisalnya dari kenyataan bahwa prediksinya

dapatdiandalkan dan teknologi yang menerapkan hukum alam yang

diungkapkanoleh sains ternyata sukses. Sebaliknya dalam fisika modern seperti

misalnyadalam fisika kuantum yangmenggeluti wilayah mikro atau subaromik,

sebagaimanapernah dinyatakan oleh Heisenberg, "realitas objektif sudah menguap,

danmekanika kuantum tidak merepresentasikan zarah, melainkan pengetahuan

kitatentang pengamatan, atau kesadaran kita mengenai~arah."N~ie ls Bohr juga menyatakan: "adalab keliru berpikiran hahwatugas f i s h itu menemukan

bagaimanaalampada dinnya. Fisika membahas tentang apa yang dapat

kitakatakan tentang alam."3Teori ilmiah tidak lagi dapat dipaharni sebagai

suatuyang secara ontologis merujuk pada kenyataan dam itu sendhi, tetapi

merupakansuatu model dan alat saja untuk menjelaskan gejala-gejala yang

nampakpada manusia. Bukan hanya dalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan

bahwadikotomi subjek-objek tidak dapat dipertahankan, tetapi juga dalam

ilmu-ilmudam. Hasil pengetahuan kita dalam ha1 apa pun tidak pernah melulu

ohjektif,tetapi selalu bersifat subjektif-objektif. Artinya, suhjek penahu secara

aktifmengkonstruksikan objek sebagaimana diketahui.

 

Kenyataanrersebut semah menjadi jelas dari kajian sejarah dan sosiologi

sains,dan dapat dikatakan merupakan alasan kedua untuk mempersoalkan

objektivitaskebenaran sains. Kajian historis dan sosiologis atas sains mengungkapkan

kenyataanbahwa sains, sebagai salah satu kegiatan manusia, secara

hakikiditandai oleh sifat dasar manusia sebagai makhluk yang terkondisi secara

s o d, historis dan kultural. Kegiatan saintifik tidak dapat dipahami lepas dari

kontekshistoris, sosiologis, dan kultural komunitas para pelaku sains. Kegiatan

pelakusains sebagaimana dipraktikkan dalam kenyataan sejarah dan masparakat,

ternyatatidak mengikuti aturan main metode ilmiah yang serba ketat,

objektifdan rasional yang diklaim berlaku universal. Pelaksanaan kegiatan sains

dalamkenyataan sangat tergantung pada, apa yang oleh Thomas Kuhn disebut,

"paradgma"yang berlaku atau dianut oleh komunitas pelaku sains bidang

yangbersangkutan. Mana persoalan yang dianggap penting untuk dikaji? Mana

datadan informasi yang dianggap relevan terhadap persoalan yang sudah

dirumuskan?Bagaimana merumuskan dan menguji hipotesis yang akan memandu

kerjapenelitian? Bagaimana memilih teori yang akan dipakai sebagai

kerangkadan acuan penelitian? Mana bukti bagi argumentasi yang dianggap

mendukungatau pun menggugurkan teori yang dianut? Jawaban atas semua

pertanyaanitu tidak dapat dilepaskan dad paradigma yang dianut oleh komunitas

ilmuwanatau pelaku sains yang bersangkutan. Kegiatan pengamatan sendiri,

yangdalam pandangan klasik dianggap sebagai fondasi yang kokoh bagi

objektivitaskebenaran bangunan teori yang didirikan di atasnya, ternyata tidak

pernahsama sekali netral, karena dalam kenyataan pengamatan itu bermuatan

teori.Kenyataan ini misalnya terungkap dari kajian psikologi persepsi.

Apayang kita persepsikan ternyata tidak hanya tergantung dari rangsangan

kausalobjek fisik yang ada & hadapan kita tetapi juga amat ditentukan oleh

kondisisubjektif kita sebagai subjek pengamat, latarbelakangpengalaman dan

pengetahuankita sebelumnya, harapan kita serta &at dan kepentingan kita

saatberhadapan dengan objek tersebut. Tindakan mengamati ternyata tidak

hanyamelibatkan proses fisik dan fisiologis, tetapi juga proses psikologis,sosiologis

dankultural.

 

Temuanyang dihasilkan oleh kajian dalam sejarah dan sosiologi sains juga

semakinmenyadarkan banpak orang bahwa filsafat sains klasik-yang bukan

hanyasecara tegas membedakan tetapi juga memisahkan antara konteks penemuan

(contextof discovery) sains dengan konteks pertanggungjawabanMaim

kebenaran(context ~ j ~ s h z c a t i o nsa)i ns, dan mau membatasikajiannya hanya

padakonteks yang kedua-tidaklah memadai, karena potret yang disajikannya

tentangsains menjadi hitam-putih dan tidak mencerminkan warna aslinya.

Wajahsains yang ditamphn nampak begitu ideal (serba rasional, objektif

dantanpa pamrih) karena sudah dibersihkan dari bisul-bisul jerawat dan kotoran

historis,sosiologis, psikologis dan kultural yang sesungguhnya menempel padanya.

Icajianatas sains sebagai sebuah pengetahuan sosial yang dilakukan

olehHelen Longmo guna melihat kaitan antara nilai-nil2 dan Maim objektivitas

dalampenelitian ilmiah, misalnya, dengan cukup jelas menunjukkan bahwa

bukanhanya nilai-nilai konstitutif atau internal terhadap sains tetapi juganilainilai

dankepentingan kontekstual yang sering dianggap eksternal terhadap

kegiatansains ternyata dalam praktik secara signifikan mempengaruhi kegiatan

penelitians a i n ~ . ~

 

Alasanketiga yang menyebahkan orang mempersoalkan objektivitas kebenaran

sains,seperti terungkap dari kutipan pernyataan Sandra Harding di

atas,adalah kenyataan bahwa dalam praktik, klaim objektivitas kehenaran sains

telahdigunakan, atau lebih tepat disalahgunakan, untuk mendukung berbagai

bentukkebijakan publik yang bersifat totaliter dan diskriminatif. Dan kajian

sejarahsains dan sejarah umat manus?a pada umumnya terungkap bahwa ada

proyek-proyekyang diyakini dan diklaim oleh para pelakunya sebagai proyek

ilmiahyang bersifat objektif, universal dan bebas-nilai, ternyata bersifat subjektif,

lokal/parokialdan sarat-nilai. Persoalannya menjadi lebih tajam ketika menyangkut

ilmu-ilmusosial dan kemanusiaan dan bagaimana apa yang diklaim

sebagaihad pengetahuan yang objektif benar dan berlaku universal itu dijadikan

dasaruntuk melakukan rekayasa sosial. Sebagai contoh rnisalnya, ahli ge- netikaJerman Eugen Fischeq pada 1913, berdasarkan penelitiannya tentang

superioritasras, mengusdkan agar ras campuran tidak diberi perlindungan

karenagen mereka inferior. Sebagai dampaknya pada 1939,70.000 pasien cacad

mentalyang dianggap secara genetis inferior dimusnahkan dengan difumigasikan.

5Frederick L. Hoffman, seorang Darwinis Sosial yang gigh di Amerika

Serikat,juga pernah menyatakan: "Membantu ras yang kurang cocok dengan

lingkungandalam persaingan hidup hanya akan menjadi penghalang bagi

kemajuanras yanglebih kuatn6 Maka guna mendorong perkembangan ras-ras

superior,ras-ras inferior perlu disingkirkan.

 

2. PERLUNYAPERUMUSAN ULANG PENGERTIAN OBJEKTIVITAS

KEBENARANSAINS

Sebelumkita menjawab mungkin tidaknya objektivitas kebenaran sains

imdicapai, guna menghindari salah paham, kiranya perlu dilakukan perurnusan

ulangpengertian objektivitas kebenaran sains. Dalam pemakaian sehari-hari

"objektivitas"pengetahuan sering dikaitkan dengan sifat pengetahuan yang

secarasetia dan akurat merepresentasikan objek atau hal yang diselidiki. Tolok

ukurderajat objektivitas sebuah pengetahuan dalam pengertian ini adalah derajat

kesesuainatau korespondensi antara teori yang dikemukakan dengan objek

dalamdunia yang dirujuk oleh teori tersebut. Salah satu indikasi pokok ada

tidaknyakesesuaian antara keduanya adalah apakah kalau prediksi yang dibuat

olehteori tersebut dioperasionalisasikan dalam pengujian empiris memang

terjadidemikian atau tidak. Bila terus menerus dalam berbagai kondisi yang

berbedaprediksi tersebut tetap terpenuhi, maka adanya kesesuaian itu memang

terjamin.Dalam pandangan ini derajat kesesuaian dengan objek yang diselidilu

dandengan demikian derajat objektivitas pengetabuan akan objek tersebut

semakmtinggi kalau subjek penahu semakin mampu membebaskan diti dari

berbagaisikap subjektif dan a priori atau bias kepentingan dan nilai-nilai yang

dirmlilu subjekpenahu. Objektivitas di iini erat terkait dengan sikap iqbarh'al

(takberpihak) dm sikap impersonal dad pihak subjek. Dengan kata lain, objekdf

disini dimengerti sebagai ciri dari sesuatu yang dapat dibuktikan adanya secara

publikserta lepas samasekali dari keterlibatan subjek pengamat. Segala bentuk

keterlibatansubjek dianggap dapat mendistorsikan pengetahuan yang dihasilkannya

ataumengurangiderajat objektivitasnya. Objektivitas dimengerti sebagai

suatuchi keberadaan yang bersifat impersonal, menyangkut relasi eksternal

antarabenda-benda sendiri satu sama lain dm bukan dengan subjek. Inilah

konsepobjektivitas yang dalam kutipan dari Sandra Hardmg di atas dikatakan

eratterkait dengan teori pengetahuan representasi dm teori pengetahuan yang

secarakaku membuat dikotomi antara subjek dan objek pengetahuan, antara

"diri"dengan "yanglain." Dalam pengertian ini objektivitas pengetahuan juga

biasadikaitkan dengan teori pengetahuan fondasionalis empiris di mana data

perseptualatau pengalaman empirik dianggap sebagai suatu yang terberi dan

dapatdijadikan fondasi yang kokoh bagi seluruh bangunan pengetahuan. Pengertian

objektivitasseperti itu mendasarkan diri pada teori kebenaran korespondensi

danmengasumsikan kebenaran faham realisme representatif yang

membangunteorinya berdasarkan induktivisme naif?

 

Darialasan-alasan yang mendorong orang unntuk mempersoalkan objektivitas

kebenaransains sebagaimana telah kita lihat pada butir 1, pengertian

objektivitas(yang mungkin lebih tepat disebut "objektivisme") di atas rupanya

memangtidak memadai. Ob jektivitas macam itu, apalagi dalam ilmu-ilmu sosial

dankemanusiaan, bahkan dalam ilmu-ilmu alam pun, sebagaimana terungkap

dalamfisika modern, tidak mungkin terpenuhi. IUaim positivistik bahwa ohjektivitas

macamitu dapat dan perlu dicapai oleh sains merupakan klaim yang

tidakmemiliki dukungan empirik dan dapat berbahaya karena justru menyembunyikan

nilai-nilaidan kepentingan kontekstual yang dalam kenyataan ada di

balikpandangan yang dikemukakan. Seperti ditekankan oleh Michael Polanyi,

seluruhkegiatan sains tak mungkin berjalan tanpa keterlibatan personal sang

pelakusains atau ilmuwan. IGgiatan sains sama sekali keliru kalau dimengerti

sebagaikegiatan mengoleksi fakta secara mekanis dan impersonal dan kemudian

membuatkalkulasi secara d i n p . Kegiatan sains melibatkan kerja imaginasi

kreatifakal budi manusia yang aktif mengajukan pertanyaan-pertanyaan cerdas

yangmau dicari jawabannya. Alam akan tetap membisu kalau manusia tidak

secaraaktif mau menyelidikinya dengan melontarkan berbagai pertanyaan cerdas

danmencoba mencari jawabannya d,alam berbagai percobaan untuk menguji

hipotesis-hipotesisyang di1ontarkannya;'Berbagai percobaan yang dilakukan

dalamkegiatan sains adalah percobaan yang terancang dan terkendali berdasarkan

kerangka.teoritertentu dan i n p mencari jawab atas persoalan tertentu.

Percobaanyang melulu acak tidak akan mengungkap banyak tentang potensipotensi

yangterkandung dalam dam. Data daninformasi yang dperoleh dalam

pengamatanbukanlah suatu yang melulu terberi secara objektif, tetapi tergan-

tungdari cara pelaku sains sebagai subjek penahu mendekati objek yang diselidiki.

Kemudiandata dan intormasi tersebut, untuk dapat dipahami, perlu

ditatasedernikian rupa dan ditafsirkan seturut kerangka tafsir yang diambil

olehpelaku sains dalam komunitas tempat ia melakukan praktik kegiatanprofesionalnya

sebagaipelaku sains.

 

Dalammencoba merumuskan kembali pengertian objektivitas dalam sains

tanpamengabaikan sumbangan gagasan dari kajian sejarah dan sosiologi sains,

HelenLongino secara khusus menekankan babwa objektivitas penyelidikan

saintifikmerupakan konsekuensi dari sifat sosial dan bukan individual dari

kegiatanpenyelidikan t e r s e b~tM.~e nurut dia, dua pergeseran perspektifmemungkinkan

kitamelihat bagaimana metode saintifik atau pengetahuan saintifik

merupakansuatu yang bersifat objektif bahkan dalam penjelasan yang

mengambilserius nilai-nilai kontekstual sains. Pergeseran pertama adalah kembali

kegagasan sains sebagai sebuah praktik atau kegiatan para pelaku sains,

danpergeseran yang kedua adalah pergeseran dari melihat metode saintifik

sebagaisuatu yang dipraktikkan pertama-tama oleh suatu kelompok sosial dan

hukanoleh individu. Pengetahuan saintifik merupakan produk banyakindividu

yangbekerjasama dalam suatu proyek bersama dari suatu komunitas para pelaku

sains.Dalam komunitas macam itu ada disiplin saintifik yang mengikat para

anggota.Inisiasi anggota baru ke dalam komunitas tersebut mengandaikan

suatupendidikan tertenm dan komunitas itu merupakan bagian dari komunitas

masyarakatyang lebih besar. Hanya kalau komunitas masyarakat yang lebih

besarmenghargai kegiatan komunitas ilmuwan tersebut, maka kelestarian kegatan

merekaakan terjaga.

 

MenurutLongino, sebagaimana konsep rasionalitas sains perlu ddepaskan

darikaitannya sebagai pemberi garansi kebenaran, konsep objektivitas juga

perludilepaskan dari kaitannya dengan pengertian representasi akurat objek

sebagaimanaadanya. Baginya menyamakan objektivitas metode saintif& melulu

denganciri empirisnya saja merupakan suatu kekeliruan. Objektivitas juga mengenal

derajatatau berkadar. Kadar objektivitas metode penyelidikan saintifik

akansemakin tinggi semakin prosedur yang ditempuhnya dan hasil yang &-

perolehnyasenantiasa tanggap terhadap kritik. Suatu komunitas para pelaku

sainsakan merniliki kadar objektivitas kalau memenuhi empat kriteria berikut:

(1) adajalan-jalan yang dikenali untuk melakukan kritik terhadap metode, bukti,

asumsidan penalaran yang ddakukan; (2) ada suatu standar yang diterima dm

dipakaibersama yang dapat dirujuk juga oleh para pengritih (3) komunitas

secarakeseluruhan selalu terbuka dan tanggap terhadap kritik; (4) autoritas

intelektualsecara sederajat dimiliki bersama di antara para praktisi yang berkualifikasi?

 

3.KEMUNGKINAN ADANYA OBJERTIVITAS Kl3BENARAN

DALAM ILMU-ILMUSOSIAL

Fembahasantentang perumusan ulang pengertian objektivitas ilmiah di

atassebenarnya telah mengungkapkan kemungkinan adanya objektivitas

kebenaranilmiah pada umumnya, baik menyangkut objektivitas yang menandai

metodesaintifik dan pengetahuan saintifik sebagai hasilnya maupun objektivitas

yangmenandai komunitas para ilmuwan. Kebenaran ilmiah memang bukan

kebenaranyang bersifat mutlak, seratus prosen pasti, dan tak pernah berubah.

Kebenaranilmiah selalu bersifat nisbi, memuat unsur ketidakpastian dan bersifat

temperer.ICebenaran ilmiah-bahkan yang memiliki kadar objektivitas yang

tinggisekalipun-selalu hanya berarti dapat dijadikan pegangan untukbertindak

secarabertanggung jawab sementara belum ada bukti lain yang menggugurkannya. Dengankata lain suatu teori saintifik dipandang benar bila diakui oleh

komunitaspara ilmuwan bidang yang bersangkutan sebagai memberikan penjelasan

yangterbaik sampai saat itu atau belum ada alternatif penjelasan lain

yanglebih baik.

 

Objektivitasmerupakan suatu yang amat bernilai dan umumnya dicitacitakan

penvujudannyadalam penelitian, baik dalam ilmu-ilmu dam maupun

dalamilmu-ilmu s o d . Objektivitas diidentifikasikan sebagai suatu nilai yang

berhubungandengan salah satu atau ketiga aspek proses penelitian saintifik,

yakni (1)suatu sikap aka1 budi yangdianggap semestinya dimiliki seorangpelaku

sainsyang melakukan penelitian, yakni sikap jujur, terbuka terhadap kritik dan

tidakmembiarkan diri dibawa oleh emosi dan dibutakan oleh ideologi dalam

seluruhkegiatan penelitiannya; (2) metode penelitian yang digunakan memuat

langkah-langkahyang memungkhkan pengujian hipotesis dan teori secara intersubjektif

dandengan cara yang tidak bias atau penuh prasangka, dan (3) pengetahuan

saintifikyang dihasilkan dari penggabungan keduanya. Perdebatan

tentangmungkh tidaknya objektivitas dalam sains, kendati berlaku juga untuk

ilmu-ilmudam, namun secara lebih tajam perdebatan itu terjadi dalam lingkungan

ilmu-ilmusosial. Mengapa demikian? Pertama, kendati dikotomi sub-

jek-objekdalam ilmu-ilmu dam pun tidak tepat mengungkapkan hubungan

antaramanusia sebagai subjel; penahu dan dam sebagai objek untukdiketahui,

namundikotomi itu lebih tidak memadai lagi bila diberlakukan dalam ilmuilmu

sosial.Mengapa demikian? Alasan pertama adalah karena dalam ilmuilmu

sosial,subjek yang melakukan penelitian saintifik sekaligus menjadi objek

untukditeliti. Alasan kedua, kalau dalam ilmu-ilmu dam, subjek yang menelid,

sampaibatas tertentu, masib dapat mengambil jarak terhadap objek yang diteliti,

dalam ilmu-ilmusosial pengambilan jarak seperti itu lebih sulit dilakukan. Alasan

ketiga,percobaan-percobaan yang terancang dan berulang-ulang guna menggali

potensi-potensiyangmasih tersembunyi dalam alam dapat dengan lebib mudah

danlebih banyak dilakukan dalam ilmu-ilmu dam, tetapi sulit sekali dilakukan

dalamilmu-ilmu sosial. Tambahan pula melakukan eksperimen saintifik yang

memperlakukanmanusia melulu sebagai objek atau sebagai kelinci percobaan,

secaraetis juga bermasalah.

 

Untukmenunjukkan kemungkinan adanya objektivitas dalam ilmu-ilmu

sosial,beberapa argurnen yang sering digunakan untuk melawan kemungkinan

adanyaobjektivitas tersebut kiranya perlu diungkap dan ditanggapi. IGta akan membatasipada empat argumen. Argumen pertama menyatakan bahwa pertimbangan

danputusan para ilmuwan sosial selalu bersifat subjektif karena

berangkatdari pengalaman masing-masing. Dalam mengamati, menafsirkan,

sertamemahami struktur dan dinamika masyarakat, sang sosiolog atau pun

antropologmisalnya sadar atau tidak sadar selalu membawa perspektif pengalamannya

sendiri.Bahwasanya perspektif pengalaman dan pengetahuan sebelumnya

dariilmuwan sosial rnempengakuhi kegiatannya sebagai ilmuwan sosial

kiranyamerupakan suatu yang tak terhindarkan dan wajar terjadi. Hal itu tidak

hanyaberlaku khusus untuk ilmuwan sosial. Bagi ilmuwan dam pun berlaku

demikian.Namun itu tidak berarti bahwa pertimbangan dan putusan para ilmuwan

sosiallalu melulu bersifat subjektif atau menyebabkan objektivitas

dalamilmu sosial menjadi tidak mungkin:, Para ilmuwan sosial tidak bekerja

sendirian.Ia selalu merupakan bagian dari suatu komunitas parailmuwan bidang

yangsama. Asumsi yang ada di balik pandangannya, hipotesis dan teori yang

iarumuskan dapat diuji secara intersubjektif oleh para ilmuwan lain bidang

yangsama. Kendati warm personal dalam melaksanakan kegiatan keilmuannya

akanterus menyertai, namun melalui pendidikan yang membentuk disiplin

ilmiah,sang ilmuwan sosial dapat melatih diri untuk menghindarkan diri dari

bias-biassubjektif dan sedapat,mungkin menghindarkan h i dari kekeliruan

manusiawi.Pengamatan yang terlatih memampukan sang ilmuwan untuk

mendeteksihal-hal yang secara objektif memang terdapat pada objek yang

diteliti.

 

Argumenkedua melawan kemungkinan adanya objektivitas dalam ilmu

sosialberasal dari pengaruh studi bahasa terhadap dmu sosial. Pengetahuan

sebagaimanadiungkapkan dalam bahasa selalu terdiri dari serangkaian proposisi.

Sedangkanmakna suatu proposisi tidak dapat dilepaskan dari konteksnya dalam

sistemkebahasaan tertentu. Ini berarti bahwa maknanya selalu relatif terhadap

sistemkebahasaan yang menjadi konteks proposisi tersebut dan karena tidak

adasistem bahasa umum yang dapat menjadi kerangka acuan bagi semua bahasa,

makamakna yang bersifat umum dan objektif bagi semua bahasa itu tidak

ada.I<alau pendapat ini diikuti sebenarnya tidak hanya menyangkut persoalan

apakahobjektivitas pengetahuan itu mungkin, tetapi juga bahkan apakah komunikasi

sungguh-sungguhantara dua pribadi atau lebih dari latarbelakang

bahasadan budaya yang berbeda itu mungkin, dan apakah terjemahan dari

bahasayang satu ke bahasa yang lain itu juga mungkin. Terhadap keberatan ini,tanggapan kritis yang dapat diberikan adalah bahwa seperti halnya dalam

komunikasilintas budaya dan terjemahan dari satu bahasa ke bahasa yang lain,

kendatihal itu tidak mudah dilakukan dan sering terjadi kesalahpahaman, namun

dalamkenyataan masih dapat dilakukan dengan baik. Dalam komunikasi tersebut

masing-masingdapat memahami dengan baik apa yang dimaksudkan

olehyang lain dan terjemahan dari satu bahasa ke bahasa yang lain dapat dilakukan

tanpakehilangan banyak makna aslinya. Keberatan di atas juga terlalu

melebih-lebihkanperan bahasa dalam kegiatan manusia mengetahui seraya

mengabaikanpengertian universalitas bahasa sebagaimana ditekankan oleh

Gadamer.

 

Terkaitdengan argumen kedua di atas, argumen ketiga melawan objektivitas

dalamilmu sosial berbunyi sebagai befikut: semua teori sosial dihasilkan oleh

suatukelompok sosial tertentu dan terbatas keberlakuannya untuk kelompok

tersebut.Asumsi di balik argumen ini adalah bahwa pengetahuan itu melulu

bersifatlokal dan ditentukan oleh ha.-hal yang bersifat partikular dalam suatu

kelompoksosial..Salah satu contoh yang biasa diberikan dari ski kaum feminis

misalnyaterungkap dalam pernyataan bahwa struktur gender tak mungkin

pernahdapat tehhat dari titik pijak lab-laki karena konfigurasi hubungan- hubunganyang ada dalam struktur tersebut sebagian dibentuk oleh cara-cara

berpikirlaki-laki yang deng&sendirinya menyembunylkannya. Terhadap keberatan

ini pertama-tamaperlu kita sadari bahwa pendapat tersebut selain

mengasumsikanbahwa pengetahuan itu melulu bersifat lokal, juga bahwa suatu

pengetahuansosial hanya bersifat objektif kalau dapat berlaku umum dan

berpotensidapat dimiliki atau paling kurang dapat dikomunikasikan kepada

kelompok-kelompoklain selain kelompok khusus dari mana pengetahuan itu

berasal.Pengetahuan sosial juga baru dapat dikatakan objektif kalau tidak terpengaruh

olehlokasi sosial tempat pengetahuan itu diproduksikan. Kendati

lokalitaspengetahuan sosial tidak dapat sama sekali dihindarkan, dan bahkan

perlutetap dipertahankan karena di situ lah kekhasan sumbangannya, narnun

itutidak berarti bahwa kelompok lain yang berbeda sama sekali tidak punya

aksesuntuk dapat memahaminya dan mengambil manfaat dari pengetahuan

tersebut.Terhadap pernyataan di atas bahwa struktur gender tak mungkin

pernahdapat terlihat dari titik pijak laki-laki, M. Cain, seorang perempuan,

pernahmenegaskan bahwa kendati demikian "begitu pengetahuan (tentang

strukturgender) macam itu sudah dihasilkan dari titik pijak perempuan,lakilaki

puntentu saja dapat mengetahuinya juga."10

 

Argumenkeempat melawan kemungkinan adanya objektivitas dalam ilmu

sosialberkaitan dengan tesis bahwa semua pengamatan secara niscaya bermuatan

teori.Kenyataan bahwa kerangka teori yang dipakai ilmuwan mempengaruhi

danbahkan memandu seluruh jalannya penelitian, termasuk di dalamnya

dalammelakukan kegiatan pengamatan atas objek yang dikaji tentu

sajatak dapat dipungkiri. Akan tetapi menerima tesis ini tidak berarti menutup

pintuterhadap kemungkinan adanya objektivitas dalam ilmu sosial. Anggapan

bahwatesis itu mengecualikan kemungkinan adanya objektivitas pengetahuan

bisajadi karena pengertiannya tentang obj~ktivitaps engetahuan yang sesungguhnya

tidakrealistik. Mereka yang menarik kesimpulan hahwa objektivitas

kebenaransains itu mustahil karena semua pengamatan secara niscaya bermuatan

teorimungkin karena memahami objektivitas melulu sebagai kesesuaian

denganobjek fisik yang dapat diamati secara publik oleh siapa pun secara

irnparsialdan imperLonal. Seperti sudah kita lihat di atas, pada bagian perlunya

perumusanulangpe'ngertian objektivitas, konsep objektivitas macam itu, bahkan

dalamilmu-ilmu dam pun tidak dapat dituntut pemenuhannya. Tetapi

kalaudengan objektivitas pengetaliuan dunengerti sebagai kemungkinan adanya

pengujiansecaraintersubjektif dengan memakai standar pengujian yang kurang

lebihuntuk sementara waktu dapat dsepakati bersama, kiranya objektivitas

pengetahuandalam dmu sosial pun dapat memenuhinya.

 

4.KEMUNGKINAN ADANYA OBJEKTMTAS PENGETAHUAN

MORALDALAM ETIKA

 

Kalaukemungkinan adanya objektivitas pengetahuan dalarn ilmu-ilmu

sosialsetelah memperhatikan kajian di atas dapat diterima, bagaimana dengan

objektivitasdalam pengetahuan moral sebagaimana ditemukan dalam etika

sebagaicabang ilmu Wsafat. Cukup umum orang berpendapat bahwa hanya

pengetahuanyang diberikan oleh sains memiliki kadar objektivitas dan dapat

dinilaibenar-salahnya sebab sains berurusan dengan fakta, sedangkan etika

berurusandengan nilai, dan mengenai nilai tidak mungkin ada pengetahuan

yangobjektif. Penilaian moral dianggap melulu bersifat subjektif dan lebih

melibatkanunsur emotif-afektif daripada koptif. Terhadap pandangan yang

cukupbanpak dianut orang ini tentunya perlu kita beri tanggapan justru dalam

rangkamembahas adanya gugatan terhadap mungkin tidaknya objektivitas dalam

sains.Alasannya adalah karena kalau kita terima begitu saja pendapat bahwa

objektivitasdalam sains itu tidak mungkin, maka orang mudah sekali menarik

kesimpulanbahwa kalau dalam sains saja tidak ada objektivitas, apalagi

dalamha1 moral.

 

Merekayang membuat dikotomi antara sains dan etika sebagai dua wilayah

kajianyang sama sekali berbeda dan terpisah satu sama lain umumnya membuat

dkotomipula antara fakta dan nilai, antara ranah pernyataan deskriptif dan

ranahpernyataan normatif atau preskriptif. Mereka umumnya juga memahami

objektivitasmelulu sebagai kesesuaian dengan objek fisik yang dapat diamati

secarapuhlik oleh siapa pun secara imparsial dan impersonal. Pengertian objektivitas

sepertiitu sebagaimana misalnya terdapat dalam faham realisme representatif

yangbersifat positivistik blasanya terkait dengan paham realitas

sebagai"substansi." Maksudnya, seperti dijelaskan oleh van Peursen,"suatu

bendakongkret dalam dunia, suatu "objek yang bisa dipungut begitu saja."

Pemahamantentang realitas seperti itu memang akan mengakibatkan dikotomi

subjekpenahu dan objek pengetahuan, dualisme antara nilai yang bersifat subjektif

danfakta yang bersifat objektif. Akan tetapi realitas tidak harus dipahami

sepertiitu. ~ e n g k u tpie ndapat van Peursen, realitas sebaiknya dipahami sebagaisuatu proses dan peristiwa yang diungkap dan diungkapkan dalam

bahasamanusia dengan berbai2 sistem simbolnya. Sebagairangkaian peristiwa,

realitasmerupakan suatu kisah panjang sejarah dan kebudayaan m a t manusia

yangpen& dengan nilai. Realitas lebih merupakan suatu aturan, suatu penunjuk

arahbagi kegiatan kita dalam konteks hubungan intersubjektif daripada suatu

bendafisik yang begitu saja dapat diambil dari tanah. Realitas berfungsi menunjukkan

bagaimanakita harus melihat sesuatu, bagaimana kita harus bertindak.

Realitasperlu dipahami dalam perspektif penilaian dan perilaku normatif.

Dimengertisebagai suatu proses dan peristiwa, "realitas adalah lebih

darisekedar alam semesta yang material, lebih dari rangkaian fakta. Realitas

adalah'ethos', suatu himbauan, suatu tuntutan yang membuat manusia sadar

akantanggungjawabnya."'2 Dalam pemabaman tentang realitas seperti ini, objektivitas

kebenaranpengetahuan lebih dimengerti sebagai reliabilitas (bersifat

dapatdiandalkan bila diterapkan) daripada sebagai sesuatu yang dapat dibuktikan

adanyasecara publik melulu berdasarkan pengamatan empiris maupun

konsistensipenalaran, sebagaimana biasa dianggap sebagai ciri objektivitas

dalamsains positivistik.

 

 

Pengetahuansebagai pengetahuan, bahkan termasuk pengetahuan yang

dihasilkanoleh sains kealaman, sesungguhnya selalu bersifat subjektif-objektif;

artinya,baik struktur dasar subjek (kategori-kategori a priori dalam peristilahan

Kantatau conceptzialframe~vorks dalam peristilahan Wilfrid SeIlars) maupun

strukturdasar objek (intelligible essence dalam peristilahan kaum realis dan

fenomenolodikut menentukan wujud pengetahuan. Secara umurn persepsi

danvisi kita tentang realitas di sekitar kita amat dipengaruhi oleh sikap emotif

danpenilaian kita terhadapnya. Pernyataan-pernyataan faktual dan praktikpraktik

penelitiandalam sains, yang mendasari penentuan kita tentang mana

yangdikategorikan sebagai sesuatu yang bersifat faktual dan mana yang tidak,

sebenarnyamengandaikan nilai-nilai. Sebaliknya, penilaian kita, termasuk penilaian

moralkita, tidak tedepas dari persepsi dan konstruksi kita terhadap

realitasyang kita hadapi atau alarni. Maka pemisahan tegas antara fakta dan

nilaiyang membuahkan pandangan objektivisme rasionalistik dalam pengetahuan

dan subjekuvismeemotivistik dalam penilaian, sebagaimana diajarkan

olehEmpirisme Inggris dan Posiuvisme Logis, kiranya pantas dtolak.

Sejakawal tahun 1970-an, dengan semakin dikenalinya dan diakui adanya

dimensihermeneutis dalam sains, pemisahan tegas antara fakta dan nilai, antara

ilmu-ilmudam dan ilmu-ihnu sosial kemanusiaan, pemisahan yang membuahkan

pahamobjektivisme rasionalistik dalam pengetahuan dan subjektivisme

emotivistikdalam penilaian, sudah semakin ditit~ggalkan?I~M k t erhadap pandangan

positivistiksudah banyak dilancarkan oleh para filsuf sains seperti

ThomasKuhn, Feyerabend, Hiary Putnam, Mary Hesse, dsb. Mary Hesse

rnisalnyamenunjukkan cir-ciri yang sebelumnya dipakai sebagai pembeda tegas

antarailmu-ilmu alam dan ilmu-hu s o d / kemanusiaan, akhir-akhir hi pada

masayang dia sebutpostempiricsm, berkat hasil studi sejarah sains dan sosiologi

sains,disadari bahwa apa yang sebelumnya hanya dipakai untuk mencirikan

hakikatdan cara kerja ilmu-ihnu sosial/kemanusiaan, ternyata berlaku juga

untukilmu-ilmu dam. Misalnya, dalam kenyataan, bukan hanya dalam ilmuilmu

sosial/kemanusiaansaja bahwasanya apa yang disebut data itu tidak dapat

dipisahkandari teori, tetapi juga dalam ilmu-ilmu alam. Selain itu, dalam ilmuilmu

alam,teori bukanlah model yang secara eksternal dapat dibanhgkan

denganalam dalam skema yang bersifat hipotetis-deduktif, melainkan merupakan

carabagaimana fakta sendiri ~Iilihat.'~

 

MenurutHilary Putnam, pemisahan tegas antara fakta yang dianggap objektif

dannilai yang selalu dianggap subjektif muncul dari anggapan yang

kelirubahwa 'kebenaran' dan 'pengetahuan' merupakan milik khusus sains,

dansains lah yang dapat menegaskan mana yang fakta dan mana yang bukan.

Segalasesuatu yang bukan sains bukanlah pengetahuan dan tidak dapat ditegaskan

benar-salahnya.Anggapan ini kelku, karena ruanglingkup pengetahuan

itulebih has daripada sains. Putnam membenarkan pendapat Aristoteles yang

menyatakanbahwa etika, yangpada pokoknya berkenaan dengan kajian tentang

bagaimanahidup baik dan bagaimana mencapai kebahagiaan bagi manusia,

adalahjuga pengetahuan. Memang, pengetahuan yang diberikan oleh etika itu

berbedadengan pengetahuan yang diberikan oleh sains. Etika memberi pengetahuan

praktis,sedangkan sains memberi pengetahuan teoretis. Ruang lingkup

pengetahuantidak identik dengan sains. Bagi Pumam pandangan tentang

pengetahuanyang mengakui bahwa ruang lingkup pengetahuan itu lebih has

daripadaruang lingkup sains, merupakan suatu keharusan kultural kalau kita

mausampai pada pandangan yang sehat dan manusiawi tentang diri kita dan

tentangsains ~endi r i .P'~ut nam juga menyatakan: "Fakta bahwa hidup baik

tidakdapat direduksikan ke sebuah sains tidak berarti bahwa refleksi tentang

bagaimanahidup baik bukan suatu usaha rasional, atau bahwa tidak mungkin

adapengetahuan objektif tenrangnya."16

 

Objektivitasdalarn sains sebagai pengetahuan teoritis memang mempunyai

derajatkepastian yang lebih tinggi daripada objektivitas dalarn etika sebagai

pengetahuanpraktis. Dua puluh empat abad yang lalu Aristoteles sudah menyatakan:

"Adalahsama-sama bodoh untuk menerima argumen-argumen yang

hanyabersifat barangkali (probable) dari seorang matematikawan dan untuk

menuntutsuatu pembuktian ketat (strict demonstration) dari seorang orator.''

Masing-masingpengetahuan memiliki derajat kepastiannya sendiri sesuai

denganhakikat objek yang dikajinya. Akan tetapi ini tidak berarti bahwa pengetahuan

teoritislebih tinggi nilainya daripada pengetahuan praktis, atau pun

bahwahanya pengetahuan teoritis dapat ditegaskan benar-salahnya, sedangkan

pengetahuanpraktis tidak. Mengenai pengetahuan teoritis, kesamaan pendapat,

walaupuntidak selalu terjadi, memang lebih mudah dicapai daripada

mengenaipengetahuan praktis. Hal ini disebabkan karena objek pengetahuan

praktisjauh lebih kompleks daripada dari pengetahuan teoritis. Objek pengetahuan

teoritismerupakan abstraksi dari realitas sebagaimana dialami dalam

hidup sehari-haridengan segaia kompleksitasnya. Derajat keterlibatan subjek

dalampengetahuan prakus juga lebih besar daripada dalam pengetahuan teorius.

I<alauditempatkan dalam konteks praksis kehidupan di mana minat dm

kepentinganakan adanya objektivitaspengethan sebenarnya tidak dapat dilepaskan

dari artidun nilai objektivitas sendiri baga'perkembangan dun

kepenuhanhidup manuria ~ebagaim anusia, maka mina t dan kepent ingan

akanadanya objektivitas dalam sains sebenarnya mengandaikan objektivitas

dalamha1 moral. Artinya, penentuan tentang arti dan nilai objektivitas sendiri

bagiperkembangan dan kepenuhan hidup manusia sebagai manusia tidak dapat

dilakukansewenang-wenang secara subjektif atau tanpa adanya constraint

objektif.Seperti pernah dikemukakan 01~hAlasdairM acIntyre, komunitas para

iImuwanadalah salah satu dari komunitas-komunitas moral umatmanusia dan

kesatuankomunitas tersebut tidak dapat dimengerd iepas dad komitmen para

anggotanyaterhadap cita-cita hidup yang bersifat regulatif (regulatiJ ideals)

bagipeiaksanaan kegiatan ilmiah mereka:

To beobjective, then, is to understand oneself as part of a community and

one'swork as'part of a project and part of a history. The authority of this

historyand this project derives from the goods internal to the practice.

Objectivityis a moral concept before it is a methodological concept, and

theactivities of natural science turn out to be a species of moral activityJ8

 

Catatan-Catatan:

1"Rethinking Standpoint Epistemology: Whatis 'StrongObjectivity'?" dalamtinda Alcoff

andElizabeth Potter (eds.), Feminist Episiemofog~tr(N ew Yotk and London:Routledge,

1993),p. 71.

2Sebagaimana dikutip oleh Dr. Karlina Supelli dalam tulisannya berjudul"Sains: Model

UtamaRasionalitas(?)," makalah extesiot? coursa filsafat STF Ddyarakara,2006, hlm.

9-10.Gagasannya dapat dirujuk pula dari karya Werner Heisenberg, P&CI undPhilosopby:

TheReuofu~au in Modern Science pondon: George Allen & Unwin,Ltd., 1959), pp.

151;156.

3Sebagaimana dikutip oleh Simon Blackburn dalam bukunya Truth: A Guideforfha

Perplexed(London: Men Lane, ZOOS), p. 175.

4 HelenE. Longino, Science As Social Krmidedge: Vu/ala/es and Objectiui9 inScientiJic

Ingzngt(Princeton, NJ: Princeton University Press, 1990).

5Untuk informasi ini saya berhutang budi pada Dr. Kartina SupelLi dalamtulisannya

yangsudah saya sebntkan dalam catatan nomor 2.

6 Sebagaimanadikutip dalam Robert C. Bannister, So&/ Dunvini~m: Science and Myth in

Anglo-rnericanThought (Fhiladelphia: Temple University Press, 1979), p. 191.

7 Merekayang berminat mempelajad lebih jauh alasan-alasan rnengapa pemahaman sains

menurutmodel tealisme represcntatif yang mendasarkan &ti pada induktivisme naif

DISKURTUS,Vd 7, No. 2, Qhlobcr2008: 117-19 133

merupakanpemahaman yang sesungguhnya tidak memadai, dapat membaca buku A. E

Chaimers,What Is This Thing Called Science? (Milton Keynes, England: TheOpen

UniversityPress, 1982), pp. 1-19.

8Helen E. Longino, Science A r S o d Knowledge, pp. 66-74.

9Helen E. Longino, Science As Social Knoluledge, pp. 76-79.

10 M.Cain, "Realist philosophy, sosial policy and feminism: on the reclamationof value-full

knowledge,"makalah yang pernah ia berikan pada Konferensi BSA di Leeds, Inggris,

1987,p. 5, sebagaimana dikutip oleh Richenda Power dalam bukunya A Question oJ

Knowledge(Harlow, England: Prentice-Hall, 2000), p. 87.

11 C. A.van Peursen, Fakta, Nilai, Peti~tiwa:T entang Hubungan antara Ilmu Pengetahuan

donEtika, diterjemahkan oleh A. Sonny Keraf 'Jakarta: PTGramedia, 1990), khususnya

Bab11,111, VII dan VIII.

12 C. A.van Peursen, Fakta, Nilai, Pen'stiwa, h.89.

13Richard J. Bernstein, Bgond Objectiwism and Relatiwism: Science,Hermeneuticr, and

Prawir(l'hdadelphia: University of Pennsylvania Press, 1985),khususnya Part One.

14Mary Hesse, "In Defence of Objectivity," dalam Reuolutions andReconstructionr in the

PhilosopboJ Science (Brighton, England: Harvester Press,1980), pp. 167-186.

15Hilary Putnam, Meaning and The Moral Sciences (Boston, London andHenley: Routledge

& KeganPaul, 1978), p. 5.

16Hilary Putnam, Meaning and The Moral Sciences, p. 85.

17Aristotle, Nicomachean Ethiu, Book I, 3. Translated by Mar& Ostwald(Indianapolis:

Bobbs-MerrillEaucational Publishing, 1962), p. 5.

18Alasdair MacIntyre, "ObjectivityinMorality and OhjectivityinScience,"dalam H.Tristam

Englehardt,Jr. and Daniel Callahan (eds.), Morn4 Science and Socie9 (New York: The

HastingsCenter Institute of Society, Ethics and the Life Sciences, 1978), p. 37.Gagasan

senadajuga dikemukakan oleh K+Otto Ape1 dalam kridknya terhadap konsep rasionalitas

ilmiah-teknologisMax Webet Menurut Apel, rasionalitas ilmiah-teknologis yang bebas

nilai sendirisebenarnya mengandaikan rasionalitas yang lebih dasariah, yakni rasionalitas

hermeneutisdan etis. Lih. Karl-Otto Apel, "The Common Presuppositions of

Hermeneuticsand Ethics: Types of Rationality Beyond Science and Technology," ddam

JohnSallis, Studiier in Phenomenology and the Hunlan Sciences (AtlanticHighlands, N.J.:

HumanitiesPress, 1979), pp. 35-52.

 

DAFTARRU JUKAN

Bernstein,Richard J. Bgond Objectivism and Relativism: Science, Hemeneutics,

andPraxis. Philadelphia: University of Pennsylvania Press, 1985.

Blackburn,Simon. Truth: A Guidejbr the Perplexed. London: Men Lane, 2005

Chalmers,A. E What is this thing calfed Science? Milton Keynes: The OpenUniversity

Press,1982.

Couvalis,George. The Philosopb oJ Science: Science andObjectivi@. London: Sage

Publications,1997.

Cunningham,Frank. Objectivig in Social Science. Toronto: University of Toronto

Press,1973.

Harding,Sandra. "Rethinking Standpoint Epistemology: What Is 'StrongObjectivity'?'

InLinda Alcoff and Elizabeth Potter (eds.), Feminist Epistemologies. New

Yorkand London: Routledge, 1993, pp. 49-82.

Hesse,Mary. "In Defence of Objectivity." In Revolz~tions andReconstructions in

thePhilosopb of Science. Brighton: Harvester Press, 1980, pp.167-186.

Kuhn,Thomas E. The Structure of Scient$c Reuolntions. Chicago:University of

ChicagoPress, 1970.

Longino,Helen E. Science A s Social Knowledge: Values and Objectiuio in Scienh$

cInquiy. Princeton, N.J.: Princeton University Press, 1990.

MacIntyte,Alasdak "Objectihity in Morality and Objectivityin Science. In H. Tristam

Englehardt,Jr. and Daniel Callahan (eds.), Morals, Science and Socieo. New

York:The Hastings Center Institute of Society, Ethics and the Life Sciences,

1978.

McDowell,John. "Towards Rehabilitating Objecti~ty." In Roberth B. Brandom(ed.),

Rog andHis Ciitics. Malden, MA: Blackwell, 2000, pp. 109-123.

Resnik,David B. The Ethics of Science: A n Introduction. London and New York:

Routledge,1998.

Peursen,C.A. van. Fakta, Nilai, Perirtiwa: Tentang Hubungan antara Ilmu Pengetahuan

dunEtika. Diterjemahkan oleh A. Sonny Iceraf. Jakarta: PT Gramedia,

1990.

Power,Richenda. A Question of Knowledge. Harlow, England et al:Prentice-Hall,

2000.

Putnam,Hilary. Meaning and The Moral Sciences. Boston, London and Henley:

Routledge& KeganPaul, 1978.

Sankey,Howard. SrienhFc Realism and the Rationali& oj Science. Burlington, VT:

Ashgate Publishing Company, 2008.

 

Categories: SAINS, KEBENARAN

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments